Wakil Ketua I DPD Partai Golkar Kota Cimahi Budhi Setiawan menyampaikan hasil survei tahapan penjaringan calon Walikota Cimahi di Cafe Cenghar Kopi Pesantren
CIMAHI, Media3.id – Hasil survei internal Bakal Calon (Balon) Walikota Cimahi tahap kedua dari Partai Golkar pada Pilkada Kota Cimahi Tahun 2024 telah resmi diumumkan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Kota Cimahi, di Cafe Cenghar Kopi Pesantren, Jl. Pesantren No. 14, Cibabat Cimahi Utara, Senin (29/7/2024).
Dari kedua nama Balon Walikota Cimahi yang diusung Partai Golkar, nama Dikdik Suratno Nugrahawan kembali unggul dalam survei tersebut dibanding Ngatiyana.
Seperti yang diungkapkan Wakil Ketua I DPD Partai Golkar Kota Cimahi Budhi Setiawan, menyampaikan bahwa setelah melihat hasil survei yang dilakukan oleh Indikator Politik di setiap elemen survei, menyatakan bahwa nama Dikdik selalu unggul dari pasangan calon lainnya.
“Jadi dari pertanyaan tadi, apakah mungkin surat rekomendasi ini jatuh ke Pak Dikdik?, kalau mengacu hasil survei ya memungkinkan, kemungkinannya sangat besar untuk jatuh ke Pa Dikdik,” ujar Budhi.
Namun, sambung Budhi, dirinya tidak bisa mendahului atas keputusan dari surat rekomendasi tersebut.
“Karena secara kewenangan ada di tingkat DPP,” imbuhnya.
Budhi menjelaskan, bahwa Partai Golkar melakukan survei sebanyak 3 kali. Tahap pertama dilakukan pada periode 17-20 Mei 2024, tahap kedua pada periode 9-13 Juli 2024, dan tahap ketiga pada periode Agustus 2024.
“Hasil survei dari tahap pertama sampai kedua ini, nama Pak Dikdik selalu unggul di berbagai unsur atau elemen survei yang dilakukan oleh lembaga survei,” ungkapnya.
Dikatakannya, sampai saat ini DPD Golkar Kota Cimahi belum bisa memutuskan siapa yang akan menjadi Bakal Calon Walikota Cimahi pada Pilkada mendatang, karena pihaknya masih menunggu surat rekomendasi dari DPP Partai Golkar.
“Karena kita gak berani mendahului dari DPP, prediksinya mungkin di awal atau pertengahan Agustus nanti surat rekomendasi dari DPP akan turun, untuk sekarang kita hanya diamanahkan untuk mempublish hasil survei tahap dua ini,” jelas Budhi.
Budhi menegaskan kembali, Partai Golkar hanya mengusung Bakal Calon Walikota Cimahi dan hanya dua nama.
“Yaitu Pa Dikdik dan Pa Ngatiyana, dan secara normatif kedua-duanya mendaftar sebagai Bakal Calon Walikota, jadi tidak ada salah satunya mendaftar menjadi Wakil Walikota, jadi hanya Walikota saja,” tegasnya.
Dari 14 lembaga survei yang direkomendasikan oleh KPU, Partai Golkar memilih lembaga survei Poltracking Indonesia di tahap pertama dan Indikator Politik di tahap kedua.
“Itu sudah sesuai dengan 14 lembaga survei yang direkomendasikan oleh KPU Pusat,” kata Budhi.
Budhi menyebutkan, hasil survei Bakal Calon Walikota Cimahi dengan populasi warga Kota Cimahi umur 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah dengan metode multistage random sampling, dengan jumlah koresponden 400 orang yang tersebar di 312 RW 15 kelurahan dan 3 kecamatan, dengan margin error ±5% periode 9-13 Juli 2024.
“Jadi kurang lebih kalau Pak Dikdik mendapat 50% bisa plus 55 atau jadi 45 dari plus minus 5% margin error,” ulasnya.
Kemudian ada beberapa simulasi yang dilakukan lembaga survei, simulasi pertama Top of Mind yaitu tanpa menyebutkan nama calon.
“Jadi surveinya dibiarkan saja ke masyarakat dilempar tanpa nama calon, siapa calon Walikota Cimahi yang nantinya akan dipilih oleh masyarakat,” lanjut Budhi.
Dari hasil simulasi tersebut ternyata muncul sebanyak 16 orang, namun Budhi tidak menyebutkan siapa saja dari ke 16 orang tersebut, dan dia hanya menyebutkan 2 orang saja sebagai Balon Walikota Cimahi dari Partai Golkar yaitu Dikdik Suratno Nugrahawan dan Ngatiyana.

“Karena yang mendaftar di Partai Golkar hanya dua nama saja Pak Dikdik dan Pak Ngatiyana, dari metode simulasi tadi ternyata Pak Dikdik mendapatkan 27,5% dan itu yang tertinggi, sedangkan Pak Ngatiyana mendapatkan 12,0%, itu dari simulasi yang terbuka,” ungkapnya.
Untuk simulasi kedua, kata Budhi kembali, simulasi semi terbuka muncul 13 nama yang memungkinkan mencalonkan Walikota Cimahi.
“Nama Pak Dikdik 30,4% dan Pak Ngatiyana 18,1 %,” imbuhnya.
Selanjutnya, simulasi 4 calon 3 alternatif, karena menurut Budhi, realistisnya di Cimahi itu idealnya hanya 4 calon.
“Alternatif pertama, Pak Dikdik mendapatkan 44% dan Pak Ngatiyana 21,5%, alternatif kedua, Pak Dikdik 47,9% dan Pak Ngatiyana 21,7%, alternatif ketiga, Pak Dikdik 46,9% dan Pak Ngatiyana 20,8%, itu untuk simulasi 4 calon,” ulasnya kembali.
Lalu lanjut Budhi, untuk simulasi 3 calon hanya 1 alternatif, Dikdik mendapat 44,1% sedangkan Ngatiyana 28,6%.
“Berikutnya simulasi 2 calon, kita sandingkan langsung secara head to head antara Pak Dikdik dan Pak Ngatiyana, Pak Dikdik 54,1% dan Pak Ngatiyana 30,3%,” ucapnya.
Lebih jauh Budhi memaparkan, bahwa sesuai surat dari DPP Partai Golkar untuk survei tahap kedua ini mulai dipasangkan. Walaupun dipasangkan, Budhi tidak dapat memberitahukan nama pasangan wakil walikotanya, karena hal tersebut akan menjadi bahan kajian pihaknya dalam menentukan calon wakil kepala daerah nantinya.
“Untuk itu saya mohon maaf, karena hal itu untuk kepentingan internal partai. Masalah penentuan wakil walikotanya ini mungkin akan kita limpahkan kepada koalisi partai,” bebernya.
Budhi menyebutkan kembali, hasil survei simulasi 4 pasangan 4 alternatif.
“Alternatif pertama, Pak Dikdik dipasangkan dengan si A dan Pak Ngatiyana dipasangkan dengan si B, Pak Dikdik mendapatkan 44,8% dan Pak Ngatiyana 21%, alternatif kedua, dengan mengganti pasangan wakil walikota lain, Pak Dikdik 46,5% dan Pak Ngatiyana 22,8%, alternatif ketiga, Pak Dikdik 45,7% dan Pak Ngatiyana 22,8%, lalu alternatif ke empat, Pak Dikdik 45,7% dan Pak Ngatiyana 20,8%,” bebernya.
Kemudian, lanjut Budhi, untuk simulasi 3 pasangan 4 alternatif. Alternatif pertama, Dikdik mendapatkan 50,2% Ngatiyana 26,2%, alternatif kedua, Dikdik mendapatkan 49,7% Ngatiyana 26,3%, alternatif ketiga, Dikdik mendapatkan 51,1% Ngatiyana 25,5%, lalu alternatif keempat, Dikdik mendapatkan 50,7% Ngatiyana 26%.
“Berikutnya, simulasi 2 pasangan head to head dengan 3 alternatif. Alternatif pertama, Pak Dikdik mendapatkan 56,3% dan Pak Ngatiyana 28,9%, alternatif kedua, Pak Dikdik mendapatkan 57,5% dan Pak Ngatiyana 27,8%, terakhir alternatif ketiga, Pak Dikdik mendapatkan 50,67% dan Pak Ngatiyana 28,6%,” tandasnya.
(Sinta)






