BANJAR, media3.id – Program Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Bidang Sosial Tahun 2026 hadir di Kota Banjar dengan menyasar masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan sosial.
Kegiatan yang berlangsung di Graha Banjar Idaman tersebut menjadi bagian dari kolaborasi Pemprov Jawa Barat melalui Dinas Sosial dengan Pemerintah Kota Banjar untuk memperluas jangkauan pelayanan sosial kepada masyarakat.
Sejumlah bantuan diberikan kepada masyarakat, di antaranya bantuan sembako bagi warga lanjut usia, perlengkapan bagi masyarakat yang mulai merintis usaha, serta bantuan penunjang bagi penyandang disabilitas.
Untuk penyandang disabilitas, bantuan yang diberikan antara lain berupa perlengkapan braille, tongkat, dan sejumlah kebutuhan pendukung lainnya.
Wali Kota Banjar H. Sudarsono mengatakan, kehadiran pemerintah secara langsung di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan program sosial dapat dirasakan oleh kelompok yang membutuhkan.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa turun ke masyarakat. Ada beberapa kegiatan yang kita sama-sama saksikan, di antaranya untuk warga lansia, perlengkapan bagi masyarakat yang mulai usaha, penyandang disabilitas, dan banyak hal lainnya,” ujar Sudarsono. Kamis (24/9/2026), kepda awak media.
Ia berharap bantuan yang telah diterima masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi keluarga penerima.
“Saya berharap masyarakat bisa memanfaatkan sebaik-baiknya, karena bantuan ini mungkin tidak setiap saat. Mohon dimanfaatkan supaya bisa memberikan nilai tambah bagi keluarga,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat Noneng Komara Nengsih mengatakan, program tersebut merupakan bentuk penjangkauan yang lebih luas bagi pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial.
Selain pemberian bantuan, program juga mencakup rehabilitasi sosial serta pendampingan psikososial bagi masyarakat yang berada dalam kondisi rentan secara sosial.
“Ini adalah penjangkauan yang lebih luas untuk pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial. Ada beberapa bantuan dan terutama juga rehabilitasi sosial untuk pendampingan psikososial kepada masyarakat kita yang rawan sosial,” ujar Noneng.
Menurutnya, program sosial juga diarahkan pada langkah pencegahan melalui kegiatan penghijauan. Pendekatan tersebut dilakukan agar penanganan tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi, tetapi juga melalui upaya preventif.
“Kita juga tidak ingin hanya menunggu bencana, tetapi melakukan langkah preventif terhadap bencana,” katanya.
Selain penghijauan, perhatian diberikan terhadap fasilitas umum yang dapat menjadi ruang interaksi masyarakat. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk kembali membangun kebersamaan dan gotong royong.
“Mudah-mudahan masyarakat kita makin bisa bertemu, ada tempat untuk bertemu, meningkatkan kegotongroyongan serta meningkatkan kepedulian sosialnya,” pungkas Noneng.
(Joe)





