Gedung depan SMKN 1 Karawang, Provinsi Jawa Barat
KARAWANG, Media3.id- Humas SMKN 1 Karawang terang-terangan soal air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah. Pihak sekolah memilih memanfaatkan air bawah tanah ketimbang menggunakan air dari Perusahaan Air Minum (PAM) milik Badan Usaha Milik Daerah Kabupaten Karawang karena harus membayar setiap bulannya.
Saat dikonfirmasi, Wiyono Humas SMKN 1 Karawang terang terangan soal air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh siswa dan guru SMKN 1 Karawang. Adapun air yang digunakan bukan dari air PAM melainkan bersumber dari air bawah tanah
“Kebutuhan air kita punya sumur sendiri dari sekolah ini perpindahan dari jalan Jakarta sampai di sini itu proyek dari ADB dari kementerian,” kata Wiyono kepada wartawan di ruangan tunggu SMKN 1 Karawang, Rabu (30/08/23).
Menurutnya sumur yang digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari dibuat bersamaan dengan pembangunan gedung SMKN 1 Karawang pada tahun 1989, dan sampai saat ini sumur tersebut tetap digunakan sebagaimana biasanya.
“Dari tahun 89 itu ya kita langsung sudah satu paket dibuatkan sumur di sini ada 1,” ungkapnya
Saat ditanya kenapa tidak menggunakan air PAM, Wiyono mengatakan kalau menggunakan air PAM tentunya bukan sedikit uang yang harus digelontorkan setiap bulannya ,” Waduh kalau kita pakai PAM sewanya berapa mungkin rekening perharinya,” ungkapnya.
Dikatakan olehnya, mesin pompa air yang digunakan oleh pihak sekolah SMKN 1 Karawang terus memompa tanpa ada hentinya dari bawah tanah ke penampungan air dan selanjutnya disalurkan melalui pipa.
“Itu yang namanya mesin pompa itu enggak pernah berhenti terus mengguyer mompa,” tuturnya
Saat ditanya soal apakah sumur yang digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari menggunakan pompa air sudah memiliki Surat Izin Pengambilan Air (SIPA), ia menjawab sumur yang digunakan bukan sumur artesis yang biasa digunakan di perusahaan yang kedalamannya mencapai lebih kurang 200 meter, sementara sumur di SMKN 1 Karawang hanya untuk kebutuhan sekolah
“kalau itu saya kurang tahu dan belum pernah dengar. Kita sumurnya sumur biasasih bukan sumur artesis. Kalau sumur artesis sih mungkin seperti perusahaan misalkan kedalaman sekitar 200 meter pasti, kalau Kitakan airnya cuma air untuk keperluan air mandi, air di WC jadi tidak dipakai untuk seperti kebutuhan pabrik dan debitnya kecil cuma untuk WC segala macam,” kata Wiyono menjelaskan kepada wartawan.
Cuma untuk kebutuhan WC, karyawan dan siswa jadi enggak mungkin sebesar itu. Jadi kitamah sekelas dengan Pemda lah. Pemda juga airnya cuma air biasa,” pungkasnya.
Reporter: Daman Huri






