Sejumlah Catatan dari Hasil Survey Litbang KOMPAS Tentang Pemilu dan PILPRES 2024 (25 Januari-4 Februari 2023)

  • Whatsapp

 

Oleh Ir.Ivan PP

Read More

Jakarta, media3.id- Litbang Kompas adalah salah satu sumber yang kredibel yang sering menjadi rujukan tentang survei opini dari sekian banyak lembaga survei yang ada di Indonesia. Independensinya masih dapat dipertanggungjawabkan.

Survei elektabilitas dan opini adalah ilmiah , dengan menggunakan metode statistik yang baku yang digunakan sama di seluruh dunia. Hanya saja hasil penafsirannya yang bisa berbeda-beda, tergantung siapa penafsirnya.

Survei elektabilitas artinya bila dilakukan pemilihan pada waktu hari respondennya ditanyakan, begitulah hasilnya. Bila metodenya tepat, kualitas surveinya baik, dan independensinya terjamin maka hasilnya tidak akan jauh dari yang sebenarnya. Jadi survei dari lembaga- lembaga survei yang kredibel , benar dapat digunakan sebagai rujukan.

Sayang kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan hasil- hasil survei itu tidak terlalu penting untuk dipertimbangkan.

Litbang Kompas rutin dan periodik melakukan survei soal Pemilu dan Pilpres 2024. Tercatat survei yang telah dilakukan Litbang Kompas dimulai dari Oktober 2019, Agustus 2020, Januari, April, Oktober 2021. Januari, Juni, Oktober 2022. Dan yang terakhir Januari/Februari 2023.

Update survei Litbang Kompas paling akhir adalah yang dilakukan dari 25 Januari hingga 4 Februari 2023 dengan wawancara tatap muka terhadap 1202 responden di 38 provinsi. Responden dipilih secara acak dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,83 %.

Berikut sejumlah catatan tentang hasil survei ini tentang Partai Politik dan Calon Presiden 2024.

HASIL SURVEI PARTAI POLITIK.

1) PDIP tak pernah tergantikan posisinya selalu no 1. Pada survei Litbang Kompas Oktober 2022 PDIP mencapai posisi teratas dgn 21.1 % , sekarang tetap teratas juga dan malah naik menjadi 22.9%.

Kenapa PDIP selalu teratas dan naik terus ?. Jawabannya adalah PDIP telah bertransformasi menjadi partai kader yang mengakar sampai ke tingkat akar rumput/ RT/RW/ lingkungan dan program program-program aksinya cukup banyak dan membumi serta menyentuh masyarakat bawah.Bila ditelaah pemilih PDIP mayoritas dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

Pencanangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri yang berulang-ulang , bahwa kader – kader partainya harus berbuat sesuatu yang nyata buat rakyat di bawah telah membuahkan hasil. Tidak sia sia cerewetnya Ketua Umum Megawati yang selalu mewanti- wanti kader-kader PDIP untuk bekerja- bekerja dan membumi .

Ditengah makin derasnya arus ancaman ideologi- ideologi Transnasional yang masuk ke negeri ini , bagi kaum nasionalis, sepertinya PDIP menjadi jangkar yang kuat sebagai tumpuan harapan, karena PDIP konsisten, firm and strongth dengan ideologi Pancasila dan Nasionalisme-nya. Ini juga bisa menjadi penyebab suara PDIP melesat naik terus.

Bila PDIP nantinya memilih Capres yang tepat yang sesuai dgn preferensi kader dan konstituen PDIP serta kaum Nasionalis pada Pemilu Februari 2024 mendatang, saya haqul yakin suara PDIP akan tembus berkisar diantara 25- 30 persen.( Bandingkan hasil PDIP 2019 19.33 %).

2) Gerindra selalu mengekor pada posisi ke 2 yaitu 14,3 % .(Bandingkan Pemilu 2019 12,57 %) . Disparitas Gerindra dengan PDIP semakin jauh yaitu 8,6 %, artinya PDIP melesat jauh meninggalkan Gerindra sang runner up.

Figur Prabowo yang berlatar belakang militer dengan kesan tegas dan berwibawa masih tetap merupakan daya magnet tersendiri yang kuat bagi Partai Gerindra.

3) Golkar sepertinya masih kurang gereget. Tren turun dari Pemilu 2019 jelas kelihatan . Pada Pemilu 2019 Golkar mencapai 12,31 %, hasil survei terakhir Litbang Kompas ini baru mencapai 9 % saja. Mungkinkah Golkar bisa mendaki lagi ?.

Golkar dan Air Langga Hartarto cenderung datar dalam manuver dan gerakannya dan postur figur Air Langga itu sendiri juga. Golkar terkesan Partai yang sudah merasa nyaman dengan Pemerintah dan kekuasaan.Jarang pentas di momentum dan panggung politik yang “seksi”. Harus ada gerakan “breakthrough” Golkar di sisa waktu yang masih tersedia ini sampai Pemilu Februari 2024.

4) Demokrat dibawah kepemimpinan AHY kelihatan ada gairah. Pada Pemilu 2019 Demokrat hanya mencapai 7,7 % sekarang 8.7 %. Ada tren
peningkatan dari waktu ke waktu.

Figur AHY cukup mempunyai daya tarik, mungkin karena masih muda dan ganteng lagi, banyak kaum wanita dan emak-emak yang ngefans.

Sisa- sisa kekuatan , jaringan dan karisma SBY yang berkuasa selama 10 Tahun masih turut berkontribusi juga dalam peforma Demokrat sekarang ini.

5) Nasdem yg dikuatirkan akan merosot tajam setelah menentukan Anies Baswedan sebagai Calon Presiden ternyata tidak demikian adanya. Ada sisi negatif dan ada sisi positifnya bagi Nasdem yang mendeklarisifikasikan Anies sebagai Capres pada hari Senin 3 Oktober 2022 yang lalu. Sisi negatifnya adalah pemilih tradisional nasionalis Nasdem banyak yang migrasi ke Partai- Partai Nasionalis lainnya. Dugaan sementara yang banyak ketiban rezeki adalah PDIP yang dianggap konsisten dgn ideologi Nasionalisnya dan Perindo dengan gebrakan barunya sebagai Partai yg semakin inklusif.Sisi positifnya adalah para pemilih konservatif yang preferensinya lebih agamis sekarang berdatangan ke Nasdem karena dianggap Nasdem pionir dan memenuhi harapan mereka. Ini yang menyebabkan Nasdem masih konsisten sebagai Partai tengah dengan capaian 7, 3 % pada survei Litbang Kompas yang terbaru ini.

Bila Anies bisa mendapat tiket menjadi Capres 2024 maka diperkirakan Suara Nasdem dapat melesat diatas 10 % ( Bandingkan Pilpres 2019 9,05 %).

6) PKB masih bertahan di posisi partai tengah yaitu 6,1 %. Manuver – manuver Cak Imin yang lincah sangat membantu eksistensi PKB. Postur tubuh yang kecil seperti kancil mencerminkan gerakan partainya.

Manuver dini PKB yang berkoalisi yang berkoalisi dgn Gerindra dalam menyongsong Pipres 2024 disinyalir menimbulkan efek ekor jas bagi PKB.

Namun PKB sepertinya masih agak sulit melebarkan sayapnya diluar basis utama pemilihnya di Jawa Timur.

7) PKS sepertinya menghadapi tantangan berat dalam Pilpres 2024 mendatang. Pertama suaranya sebagian akan digerus oleh Partai Gelora sempalannya yang di nakhodai duet dua tokoh vokalis mantan pimpinan PKS yaitu Anis Matta dan Fahri Hamzah. Kedua, disinyalir ada migrasi dari pemilih tradisional PKS ke Partai Nasdem sebagai akibat dari kepioniran Nasdem memilih Anies Baswedan sebagai calon Presiden.

Capaian PKS saat ini baru 4, 8 % ( Bandingkan Pemilu 2019 8, 21 %).

Akankah PKS diatas atau dibawah 8 % dalam Pilpres 2024 mendatang ?. Lets wait and see.

8) Perindo menjadi fenomena yang menarik. Capaian suaranya 4, 1 % , melampaui ambang batas Parlementary Treshold 4 %, artinya bila konsisten 4 % dan lebih maka 2024- 2029 akan ada satu fraksi baru di DPR RI yaitu Fraksi Perindo.

Perindo adalah partai yang didirikan oleh seorang “oligarch”/Pemodal/ Pemilik Kapital besar yaitu Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo( 58) pemilik dari MNC Group. Hary Tanoe telah berpengalaman sebelumnya di dunia politik dan ke-partaian , pernah menjadi petinggi Nasdem dan Hanura. Dipadukan dengan kepiawaiannya dalam berbisnis dan pembelajar politik yang cepat serta kemampuan dana yang besar maka Partai Perindo terlihat berkembang maju dari waktu ke waktu.

Manuver Hary Tanoe merekrut Ulama besar Tuan Guru Bajang( Muhamad Zainul Majdi) sebagai Ketua Harian Perindo adalah manuver terobosan yang membuahkan hasil. Partai Perindo menjadi partai yg lebih inklusif lagi dan menarik banyak simpati dan konstituen.

9) PPP dan PAN terancam tidak lolos Parlementary Treshold 4 %. Capaian PPP saat ini merosot tajam 2,3 % dan PAN lebih parah lagi menjadi 1,6 %.

Dua hal yang membuat Partai ini cenderung turun terus yaitu pertama konflik di tubuh partainya yang tiada henti dan kedua munculnya partai sempalan yang didirikan tokohnya yang sangat berpengaruh. Partai PAN akan digerus oleh Partai UMMAT besutan Amien Rais. Amien Rais masih punya karisma, vokal dan rajin kemana -mana, menjadi ancaman yang sangat serius bagi PAN. Tidak sedikit kader- kader PPP juga yang bergabung ke Partai UMMAT.

PPP dan PAN kalau dilihat dari sejarah pendirian serta basis massanya, seharusnya akan selalu stabil menjadi partai tengah. PPP dengan basis suara Islam tradisional , sedangkan PAN berbasis Ormas Islam terbesar kedua Muhamdiyah.Ribut terus yang membuat peforman PPP dan PAN cenderung turun dari waktu ke waktu.

10) PSI partai yang didirikan mantan presenter TV-One Grace Natalie dkk serta diback up pengusaha Jeffry Geovani ternyata capaiannya masih kecil 0, 5 % ( Bandingkan Pemilu 2019 1,89 %). Padahal PSI citranya selama ini adalah partai anak- anak muda yang bersih dan idealis selama ini .Kenapa ya ?.

Mungkin partai juga membutuhkan figur sebagai lokomotif , lihat saja seperti Megawati, Prabowo, dan Surya Paloh besar pengaruhnya terhadap elektabilitas partainya. Figur Ketua umum PSI yang sekarang mantan Vokalis Giring Ganesha Djumaryo kenyataannya masih belum bisa sebagai daya tarik yang kuat.

Partai PBB dan Hanura kelihatannya hanya tersisa dengan pemilih fanatiknya. Jika tidak ada langkah-langkah terobosan sepertinya akan mentok di angka yang sekarang ini(0,5%)

HASIL SURVEI CALON PRESIDEN

1) Ganjar Pranowo unggul no.1 sebesar 25, 3 % pada survei Litbang Kompas Januari 2022 kali ini. Dalam tren survei Litbang Kompas satu tahun terakhir Ganjar konsisten diatas 20 %. Trennya terlihat seperti ini : Okt.2021(13,9%), Jan.2022(26.5%), Jun.2022(25,3%), Okt.2022(23,2%), Jan.2023(25,3%).

Meskipun ada fluktuatif tapi tren Ganjar Pranowo paling konsisten dan berada diposisi teratas terus.

Sepertinya memang mentok dikisaran 25-26 %, mungkin ini tertahan oleh masih ambigunya PDIP saat ini. Jika telah mendapat dukungan resmi dari PDIP saya yakin “bottle neck” akan pecah dan Ganjar akan melesat dengan cepat seperti bebas hambatan.

2)Pada Pilpres 2019 Prabowo Subianto sebenarnya sudah punya modal besar yaitu 44,5 %. Kita lihat tren Prabowo satu tahun terakhir : Okt.2021(13,9%), Jan.2022(20,5%), Jun.2022(22%), Okt.2022(17,6%), Jan.2023(18,1%).

Prabowo menempati posisi runner up. Mengapa Prabowo yang popularitasnya tinggi ( 1kali kandidat Cawapres dan 2 kali kandidat Capres) tidak sebanding dengan elektabilitasnya ?. Mungkin jawaban yang tepat adalah dari tahun ke tahun jumlah pemilih muda( generasi milenial dan generasi Z ) semakin besar dan mendominasi , sekarang 60 %. Generasi ini ingin sesuatu yang baru, ingin perubahan.

3) Anies Baswedan walaupun pelan tapi konsisten naik. Hanya pada Survei Litbang Kompas Jan.2023 baru- baru ini turun menjadi 13,1 % dibandingkan Okt.2022 mencapai 16, 5 %. Mungkin ada pengaruh dari setelah tidak menjabat lagi Anies sebagai Gubernur DKI.

Tren Anies terlihat sbb : Okt.2021(9,6%), Jan.2022(14,2%), Jun.2022(12,6%), Okt.2022(16,5%), Jan.2023(13,1%).

4) Dari posisi di luar 3 besar hal- hal yang menarik adalah :

Ridwan Kamil melesat menduduki posisi ke-4 dengan capaian 8,4 %. Hal ini disebabkan Ridwan Kamil pandai mengemas dirinya di Sosial Media serta cukup banyak simpatisannya di Jawa Barat. Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia(48,64 juta jiwa).

Sandiaga Uno juga mengalami Tren turun terus, pada hal modal dari Pilpres 2019 cukup tinggi.Mungkin gaya Sandi yang “agak kurang serius” juga mempengaruhi, meskipun Sandi tergolong mewakili kelompok generasi muda.

Andika Perkasa juga cukup mengejutkan, menduduki posisi ke- 6. Masih ada waktu 7 bulan lagi sebelum pendaftaran Capres/ Cawapres di KPU 7- 13 September 2023 untuk melesatkan popularitas dan elektabilitas.Apalagi bila eskalasi konflik global semakin memanas maka peluang berlatar belakang militer cukup besar sebagai pimpinan nasional. Calon-calon lain dari latar belakang militer yang potensial disamping Prabowo dan Andika al. Moeldoko, Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono.

KESIMPULAN

Hampir di semua survei Pilpres 2024 oleh lembaga- lembaga survei yang kredibel yang menduduki posisi 3 besar secara berurut adalah pertama Ganjar Pranowo, kedua Prabowo Subianto, dan ketiga Anies Baswedan. Capres yang potensial untuk Pilpres 2024 tidak mungkin di luar 3 kandidat ini. Inilah kepala lokomotifnya.

Cawapres bersifat pelengkap , penyempurna dan menambah booster elektabilitas saja.
Bila diujung nanti masalah keamanan yang menjadi krusial maka Cawapres dari latar belakang militer punya peluang, bila aspek milineal maka generasi muda yang punya peluang, dan bila politik identitas maka tokoh nasional yang berlatar belakang agamis yang punya peluang.

PDIP juga konsisten sebagai Partai dengan elektabilitas No.1 dari survei waktu ke waktu. Capaian terakhirnya adalah 22,9 %.

Bila PDIP arif dan tepat memutuskan Capresnya yang sesuai aspirasi konstituennya dan kaum Nasionalis, dalam hal ini sudah terlihat ke arah Ganjar Pranowo, maka suara PDIP akan bisa melesat lagi antara 25-30 % , demikian juga Ganjar akan bisa menembus elektabilitas diatas 30 %.

 

#Ir.Ivan PPKetua UmumKomunitasKebangsaanNusantarBangkit
#AlumnusInstitutTeknologiBandung

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *