Warga sedang melihat kandang peternakan yang gagal
KARAWANG, Media3.id – Ironi melanda program ketahanan pangan di Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari. Anggaran bernilai ratusan juta rupiah yang bersumber dari Dana Desa 2022 justru berujung pada penjualan aset dan menyisakan kandang kosong yang telantar dan nyaris ambruk.
Kepala Desa Cadaskertajaya, Nurki, blak-blakan mengakui telah menjual lima ekor sapi yang dibeli dari pos anggaran negara tersebut. Proyek yang semula digadang-gadang memperkuat ekonomi warga ini menelan total biaya fantastis, yakni Rp143.617.500. Rinciannya meliputi pengadaan sapi sebesar Rp73.415.000, pembangunan kandang komunal Rp57.873.000, serta pos pembangunan peternak Rp12.329.500 di atas tanggul irigasi Kampung Bangkong Reang.
Alih-alih menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes), investasi ratusan juta ini justru merugi total. Nurki berdalih, pertumbuhan bobot sapi stagnan alias kerdil setelah setahun dirawat. Kondisi itu memicu inisiatifnya untuk melepas kelima sapi dengan harga miring, jauh di bawah harga beli.
Dari total lima sapi, uang yang diraup hanya Rp 55 juta. Ironisnya, perputaran uang hasil penjualan ini pun dipertanyakan. Pendapatan tersebut langsung dipotong Rp 9 juta untuk upah pemelihara dan Rp 1 juta untuk komisi makelar.
“Sisanya senilai Rp 45 juta diamankan oleh Pjs kepala desa yang kini sudah dinonaktifkan,” ungkap Ketua BPD Cadaskertajaya, Haris, Sabtu (1/11/2025).
Menghadapi sorotan tajam, Nurki mencoba meluruskan spekulasi. Ia mengklaim langkah penjualan aset ini bukan keputusan gelap, melainkan hasil koordinasi struktural.
“Persoalan sapi ini sudah dirapatkan dengan Babinsa dan BPD. Daripada disalahkan karena bobotnya tidak bertambah, kami berkomunikasi dengan pendamping desa serta pihak kecamatan. Hasilnya, (sisa dana) dialihkan untuk pembelian domba,” bela Nurki.Rabu (08/07/26)
Hingga kini, kandang komunal di tanggul irigasi terlihat rapih tidak terawat lagi tanpa nyawa menjadi monumen mati dari anggaran yang tak terserap optimal. Meski begitu, Nurki menolak proyek ini disebut gagal total. Ia melayangkan janji baru untuk menyulap lokasi tersebut menjadi peternakan bebek.
“Sementara ini dibiarkan dulu. Rencananya nanti dikelola BUMDes untuk pelihara bebek menggunakan anggaran ketahanan pangan 2025. Kami ingin mencoba merambah sektor peternakan, tapi ini baru rencana,” tutur Nurki,
Kini, publik menanti sejauh mana transparansi pengelolaan sisa dana Rp 45 juta yang kabarnya telah dibelikan domba dan diserahkan kepada masyarakat untuk dikembangbiakkan.
Reporter: Dmn Hr






