KARAWANG, Media3.id – Gelombang protes keras melanda proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kabupaten Karawang. Diduga akibat aplikasi sistem yang eror dan kacau, puluhan orang tua siswa SMAN 1 Telukjambe Timur dikabarkan “ngontrog” (mendatangi beramai-ramai) Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, Selasa (9/6).
Para orang tua kecewa karena sistem zonasi digital mendadak terbalik. Calon siswa yang rumahnya menempel di dekat sekolah justru terlempar dan terjebak di kuota penyangga yang sangat terbatas. Sebaliknya, pendaftar yang berdomisili jauh malah melenggang mulus masuk jalur domisili utama.
Humas SMAN 1 Telukjambe Timur, Heni, blak-blakan mengakui kekacauan ini. Menurutnya, pihak sekolah ikut kelabakan dan menjadi sasaran kekecewaan warga akibat sistem yang tidak beres tersebut. Kasus serupa dilaporkan juga menular ke sekolah-sekolah lain.
“Sekolah kita kan ada di Desa Sirnabaya, justru warga yang di Sirnabaya ini kelempar! Padahal kuota penyangga itu cuma 60 siswa, sementara domisili kuotanya 126,” cetus Heni dengan nada kecewa, Selasa (9/6).
Heni menegaskan, sistem pendaftaran online tahun ini benar-benar tidak logis dalam membaca jarak geografis rumah calon murid.
“Yang jauh-jauh masuk sini, dan sebaliknya yang dekat malah mental. Makanya hari ini banyak orang tua siswa langsung mendatangi Disdik Jabar untuk menuntut keadilan. Kami di sekolah juga bingung mau jawab apa, karena semua dikunci oleh sistem!” cecarnya.
Kekacauan massal pada sistem Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) yang dibuka sejak 28 Mei hingga 8 Juni ini akhirnya memaksa Disdik Jabar mengambil langkah darurat. Guna meredam situasi yang makin memanas, Disdik Jabar mendadak menambah waktu pendaftaran selama satu hari penuh hingga 9 Juni.
Hingga berita ini tayang, Para orang tua murid menuntut Disdik Jabar segera membatalkan hasil sistem yang eror tersebut dan mengembalikan hak zonasi anak-anak mereka yang tinggal di ring satu sekolah.
Reporter: Dmn Hr






