Aplikasi SPMB Jabar Eror, Zonasi Calon Siswa Semrawut! Penyangga disulap Jadi Domisili 

  • Whatsapp

KARAWANG, Media3.id — Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA di Jawa Barat tahun 2026 diwarnai keluhan dari pihak sekolah dan orang tua murid. Aplikasi sistem pendaftaran online milik Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat diduga kuat mengalami gangguan teknis (eror).

 

Read More

Indikasi ini terlihat jelas dari langkah panitia yang mendadak memperpanjang masa pendaftaran selama satu hari. Sedianya, jadwal pendaftaran dibuka mulai 28 Mei hingga 8 Juni 2026. Namun, akibat kendala sistem, penutupan pendaftaran diundur hingga Selasa, 9 Juni 2026.

 

Selain masalah waktu pendaftaran, kekacauan paling krusial terjadi saat pemetaan siswa melalui Penerimaan Calon Siswa Baru (PCMB) di dalam sistem zonasi. Aplikasi secara otomatis mengubah status wilayah pendaftar, di mana calon siswa yang tinggal di ring utama (domisili) justru terlempar ke wilayah penyangga, dan sebaliknya.

 

Kondisi karut-marut ini dibenarkan oleh Humas SMAN 1 Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Heni. Saat dikonfirmasi wartawan, Heni mengungkapkan bahwa server aplikasi SPMB kerap mengalami down selama proses validasi data, sehingga menyulitkan pihak sekolah dan pendaftar.

 

“Saat validasi aplikasinya eror melulu, down. Baru bisa diakses beberapa menit, lalu down lagi,” ujar Heni di lingkungan sekolah, Selasa (9/6).

 

Heni menjelaskan, ketidakakuratan sistem zonasi ini memicu kebingungan massal. SMAN 1 Telukjambe Timur sendiri secara geografis terletak di wilayah Desa Sirnabaya. Berdasarkan aturan, warga Desa Sirnabaya seharusnya masuk dalam kuota domisili utama yang memiliki porsi besar, yakni 126 kursi. Sementara itu, wilayah penyangga hanya menyediakan kuota 60 kursi.

 

“Di aplikasi banyak yang diperbarui. Sekolah kita itu ada di wilayah Desa Sirnabaya, harusnya masuk domisili, tapi di sistem kenapa tiba-tiba jadi penyangga. Sementara warga yang rumahnya jauh, malah masuk ke domisili,” keluh Heni.

 

Ketidakpastian sistem ini membuat puluhan orang tua murid mendatangi sekolah untuk meminta kejelasan. Banyak warga yang rumahnya hanya berjarak 300 hingga 400 meter dari sekolah merasa dirugikan karena statusnya berubah menjadi penyangga, sehingga posisi mereka terancam tergeser.

 

“Kita bingung dan kasihan ke masyarakat. Pendaftar kliknya domisili, tapi jadinya ke penyangga. Mereka ke sini menanyakan kenapa anaknya masuk penyangga dan berada di urutan bawah (kuota 60), otomatis terancam tidak diterima,” tambahnya.

 

Hingga hari terakhir perpanjangan pendaftaran, SMAN 1 Telukjambe Timur mencatat total pendaftar telah menembus angka 1.126 siswa. Jumlah tersebut melonjak tajam dan berbanding jauh dari total kuota daya tampung sekolah yang hanya menyediakan 420 kursi. Pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan Jawa Barat segera mengevaluasi dan memperbaiki sistem aplikasi agar tidak merugikan hak para calon siswa di wilayah sekitar sekolah

 

Reporter: Dmn Hr

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *