KARAWANG, Media3.id- Nana Nurhusnah Hidayat Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Karawang mengomentari soal harga beras yang masih mahal di wilayah lumbung padi nasional yaitu Kabupaten Karawang. Mahalnya harga beras Ia menduga ada oknum spekulan yang membuat harga tidak sesuai dengan harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Dari awal Januari 2023 sampai saat ini harga beras di Kabupaten Karawang yang merupakan lumbung padi Nasional tak kunjung normal. Bahkan sampai saat ini harga beras medium di Pasar Tradisional Rengasdengklok, Kabupaten Karawang harga beras jenis medium masih dikisaran Rp 13.500 per kilogram nya, sedangkan harga beras premium dikisaran Rp 15.000 perkilogram.
Sementara pemerintah pusat menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) jenis beras medium, zona 1 Rp10.900, untuk zona 2 Rp11.500, untuk zona 3 Rp11.800. Kemudian untuk beras premium, zona 1 Rp12.900, zona 2 Rp14.400, dan zona 3 Rp14.800
Menyikapi masih melonjaknya harga beras yang tak kunjung normal membuat Nana Nurhusnah Hidayat Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Karawang berkomentar saat ditanya soal mahalnya harga beras yang dikeluhkan masyarakat.
Saat diwawancara, Nana menjelaskan soal melonjaknya harga beras ia menduga ada oknum spekulan-spekulan yang yang bermain sehingga membuat harga beras belum kembali normal.
“harga beras enggak berbanding lurus karena apa? biasanya yang bermain itu spekulan-spekulan sehingga harga itu bisa dimainkan,” Kata Nana kepada wartawan, Senin (09/10/23).
Bahkan iapun menjelaskan harga beras tidak berbanding lurus dengan harga gabah karena harga beras mahal tapi harga gabah kering di petani tidak ikut naik sehingga lagi-lagi petani yang dirugikan dan masyarakat yang harus membeli harga beras tidak sesuai harga eceran tertinggi yang ditetapkan oleh pemerintah
“Kalau emang berbanding lurus suatu keuntungan bagi petani karena secara logika kalau harga beras naik itu harga gabah kering juga hasil dari pertanian naik seharusnya. Tapi kenyataan yang ada tidak berbanding terbalik lurus malah terbanting terbalik. Harga beras naik tapi harga gabah di petani tetap rendah,” jelasnya.
Dampak dari adanya oknum spekulan tentunya kata dia tentunya harga beras sulit kembali normal karena para oknum tersebut bisa mempermainkan harga beras.
“Karena apa? Karena berbagai faktor, spekulan macam gitu yang bisa mempermainkan harga di bawah,” pungkasnya.
Reporter: Daman Huri






