Insiator Gerakan Nurani Kebangsaan (NK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid
JAKARTA, media3.id – Modernisasi peradaban Indonesia negeri yang semakin berkembang namun peradaban Indonesia semakin luhur semakin tidak terkontaminasi. Indonesia di jajah Belanda selama 200, selama dijajah Belanda kedatangan pemuka-pemuka agama Islam pemuka agama Islam ini yang terdiri dari belahan penjuru dunia ada yang dari Timur Tengah, ada yang dari Persia, ada yang dari pemuka agama Islam seperti Walisongo mengajarkan Islam dengan budaya. itu memakai kaidah-kaidah kebudayaan lokal Indonesia dengan rasa solidaritas yang sangat tidak ingin melanggar tata krama adat istiadat budaya Indonesia. Selasa, 17 Agustus 2021.
Untuk memaknai berbangsa dan bernegara di hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 76, Insiator Gerakan Nurani Kebangsaan (NK), Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid menyampaikan melalui siaran persnya melalui virtual, dengan berjalannya waktu dan perkembangan jaman dengan sangat diterima oleh seluruh rakyat Indonesia dalam modern abad milenial ini banyak berbagai macam diskusi tentang keislaman faktual dan aktual. Salah satunya adanya raja yang ingin berhayal kembali ke zaman nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sepeninggal nabi Muhammad terbentuklah khilafah khilafah islamiyah konteks perjuangan yang sesungguhnya bukan untuk menegakkan agama Islam tapi berjuang untuk memberikan pemahaman- pemahaman bahwa islam itu sebenarnya rahmatan lil alamin, Islam itu penuh kasih sayang.
“Nabi Muhammad sendiri dalam pergerakannya tidak pernah berambisi untuk menjajah tidak pernah berambisi untuk menjadi raja karena nabi Muhammad itu adalah manusia yang dibawa naungan cahaya Allah manusia yang disucikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala seiring dengan perjuangan nabi Muhammad selalu mendapatkan simpati dari raja-raja Persia pada raja Romawi tanpa terkecuali raja-raja tersebut bersimpati dan mengabdikan dirinya kepada nabi Muhammad.” Kata Habib Syakur Ali Mahdi Alhamid.
Masih menurut Habib, Namun Nabi Muhammad memilih untuk hidup berdampingan secara damai tanpa terkecuali. Saat ini memang banyak orang-orang yang bereksperimen, orang-orang yang lapar membuat sebuah testimoni yang mana gimana dan bagaimana caranya untuk membuat mewujudkan keadilan yang nyata konteksnya seorang pemimpin tidak ada yang bisa berbuat adil seorang pemimpin yang sempurna adalah nabi Muhammad.
Di Timur Tengah yang memang mempelajari organisasi kepemimpinan organisasi pemuda seperti Ikhwanul muslimin seperti Hizbut tahrir dalam perjalanan menimba ilmu di Timur Tengah organisasi tersebut yang tidak bisa di aplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Indonesia itu benar-benar rahmatan lil alamin, 1 pemimpin yang membuat domani kepemimpinan kita wajib menjalankan sunnah sunnah Rasulullah,
“kita wajib menjalankan kehidupan kita sesuaikan dengan kehidupan kita dan khayalan-khayalan yang memang tidak terbatas sebuah sasaran yang otentik contoh dataran yang otentik.” Ujar Habib
Lanjutnya, Dengan perjalanan waktu orang-orang ini terobsesi dengan perjuangan para sahabat menegakkan agama Islam sistem kekhalifahan pentingnya syariat Islam, penyesuaian musyawarah untuk mencapai mufakat, adanya perbedaan budaya Indonesia dengan negara yang mutlak negara yang pernah ada negara yang betul-betul sangat mumpuni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memiliki kebudayaan yang paling istimewa orang yang lahir di Indonesia, tetapi kita ini adalah memiliki identifikasi genetika yang paling tinggi itu berada di atas sebuah kebanggaan bangsa yang lain.
Bangsa tercinta ini anak bangsa di dalam berbagai macam keilmuan dan keilmuan yang bisa yang menandingi di seluruh dunia yang pertama yaitu yang tertuang dalam sebuah pemahaman beragama sendiri oleh keadaan badan yang memang keadaan itu adalah sebuah dokter itu. Dengan sejarah budaya yang tertanam kan itu sangat kuat sehingga rakyat Indonesia sangat kuat dan bersatu.

” Muncul sebuah kegiatan pemahaman yang sangat-sangat aneh dan tidak sesuai dengan kelaziman, makanya rakyat Indonesia itu selalu diberkati oleh Tuhan Yang maha esa karena memang selalu berada dalam lindungan Tuhan yang maha esa, kalau kita kaji cara hidup kehidupan yang penuh dengan kasih sayang dalam kemanusiaan terhadap ajaran-ajaran aliran-aliran yang dikategorikan tidak sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang menyimpang dari kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta Indonesia dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.” Ungkap Habib.
Selain itu, menurut Habib Syakur, jika para pelaku radikal itu benar-benar belajar tentang Pancasila, sebenarnya akan menemukan nilai-nila agama di dalam kandungannya. Dengan syarat, tidak memaksa egoisme dalam pemahaman.
“Pancasila di rumuskan oleh perumusnya, itu mengadopsi dari kita-kitab suci, zabur, taurat, injil dan Alquran. Itu kan mencakup nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang nilai keagamaan dalam berketuhanan yang maha esa. Seharusnya kegiatan-kegiatan agama yang menyimpang yang menjurus ke ekstrimisme dalam beragama itu bisa dihindari dengan kita mewujudkan kesadaran bahwa kita rakyat Indonesia bersatu untuk kebaikan bersama,” Ungkapnya.
Habib Syakur juga menyayangkan munculnya kelompok-kelompok radikal di Indonesia yang kerap menyalahi makna jihad. Padahal, tegas dia, semua masyarakat Indonesia juga berjihad, yaitu berjihad untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang tumbuh kembang dalam perekonomian.
“Posisi kita ini sebetulnya harus menyadari kita ini hidup, sama rata, sama rasa, sama tinggi. Jadi kesimpulannya radikalisme terjadi, intoleransi terjadi, karena banyaknya egoisme diri, pribadi-pribadi yang sangat subjektif dalam berbangsa dan bernegara,” tandasnya.
(Red)






