Banjar, media3.id – Batik Cangkore diperkenalkan dalam momentum Sidang Senat Terbuka STISIP Bina Putera Banjar Wisuda Sarjana Angkatan XXII yang digelar di Gedung Banjar Convention Hall (BCH) Kota Banjar, Rabu (9/9/2026).
Kehadiran Batik Cangkore menjadi bagian dari upaya STISIP Bina Putera Banjar menggali sekaligus memperkuat identitas lokal Kota Banjar melalui karya yang mengangkat potensi dan kearifan lokal.
Batik tersebut mengangkat tanaman Cangkore yang disebut memiliki keterkaitan khusus dengan kawasan Pulau Majeti, Kota Banjar. Tidak sekadar menjadi motif batik, Cangkore juga memiliki filosofi yang menggambarkan nilai kehidupan, fleksibilitas, keteguhan prinsip, kejernihan berpikir hingga regenerasi.
Ketua STISIP Bina Putera Banjar, Tina Cahya Mulyatin, mengatakan gagasan Batik Cangkore berawal dari kekhawatiran mengenai identitas lokal Banjar yang perlu terus digali dan diperkuat.
“Memang ada kekhawatiran terkait dengan identitas Banjar yang mungkin krisis identitas. Jadi kami bersama mahasiswa mencoba membuat ide dan gagasan, apa yang bisa dieksplor di Banjar. Salah satunya adalah Batik Cangkore,” ujar Tina.
Menurutnya, bentuk Cangkore yang meliuk-liuk dan fleksibel memiliki filosofi bahwa manusia harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, namun tetap memiliki akar dan prinsip yang kuat.
“Cangkore itu bambu yang meliuk-liuk, lebih fleksibel. Ini mencerminkan bahwa kita sebagai manusia harus fleksibel, apalagi sebagai akademisi, tetapi tetap mempunyai akar yang kuat dan dasar pemikiran atau filosofi yang kuat,” jelasnya.
Filosofi tersebut juga tercermin dari bagian akar yang menjadi simbol kekuatan dan dasar pijakan. Sementara bentuknya yang fleksibel dimaknai sebagai kemampuan untuk mengikuti perubahan zaman.
“Walaupun meliuk-liuk, bukan berarti tidak konsisten. Justru kita fleksibel untuk mengikuti zaman, tetapi tetap mempunyai dasar atau kekuatan,” katanya.
Selain itu, bagian Cangkore yang secara tradisional dikaitkan dengan pemanfaatan untuk mata dimaknai sebagai simbol kejernihan dalam berpikir dan kemampuan melihat masa depan secara lebih luas.
“Cangkore juga biasanya digunakan secara tradisional untuk membantu masalah pada mata. Itu kami maknai bahwa kita harus berpikiran jernih dan mempunyai pandangan yang luas serta jauh ke depan,” ujarnya.
Sementara bagian tunas pada tanaman Cangkore menjadi simbol generasi muda. Filosofi tersebut dinilai selaras dengan peran STISIP Bina Putera Banjar sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan untuk menjadi bagian dari generasi penerus bangsa.
“Ada tunas-tunasnya juga. Itu menjadi filosofi bahwa STISIP Bina Putera Banjar meluluskan mahasiswa sebagai tunas atau generasi-generasi muda yang luar biasa dan tentunya diharapkan memberikan kebermanfaatan bagi bangsa dan negara,” tutur Tina.
Pengembangan Batik Cangkore dilakukan melalui kolaborasi STISIP Bina Putera Banjar dengan mahasiswa. Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam pengembangannya berasal dari Rajadesa, Kabupaten Ciamis.
Untuk proses produksinya, saat ini Batik Cangkore masih dikerjakan di Rajadesa dengan melibatkan mahasiswa tersebut.
Tina menambahkan, gagasan dan motif Batik Cangkore yang dikembangkan STISIP Bina Putera Banjar juga telah mendapatkan perlindungan kekayaan intelektual (HAKI).
Pengenalan Batik Cangkore dalam momentum wisuda tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkenalkan karya berbasis kearifan lokal sekaligus memperkuat identitas Kota Banjar.
“Harapannya ciri khas tadi bisa dimiliki. Batangnya yang meliuk-liuk, tunasnya sebagai simbol STISIP melahirkan tunas-tunas bangsa, kemudian air kehidupan yang bisa dimaknai sebagai pandangan yang lebih luas,” pungkasnya.
Melalui Batik Cangkore, STISIP Bina Putera Banjar tidak hanya menghadirkan sebuah motif batik, tetapi juga mencoba menerjemahkan nilai-nilai lokal ke dalam karya yang memiliki pesan tentang kemampuan beradaptasi, tetap berpegang pada prinsip, berpikir jernih, dan menyiapkan generasi penerus bangsa.
(Joe)






