Gagal Total menyumbang Pendapatan PADes, BUMDes Cadaskertajaya Karawang Patut di Pertanyakan

  • Whatsapp

KARAWANG, Media3.id — Tata kelola anggaran di Desa Cadaskertajaya, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, menjadi sorotan tajam. Alokasi dana ratusan juta rupiah yang dikucurkan untuk program Ketahanan Pangan serta penyertaan modal Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) gagal total dalam menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) tahun anggaran 2025. Desa justru terjebak dalam pola lama dengan mengandalkan sewa aset tradisional demi menyambung napas operasional.

 

Read More

Kepala Desa Cadaskertajaya, Nurki, secara blak-blakan mengakui rapuhnya struktur pendapatan desa tersebut. Ia mengonfirmasi bahwa PADes 2025 murni hanya bersumber dari hasil menyewakan tanah bengkok.

 

Berdasarkan data yang dihimpun, investasi publik untuk kemandirian ekonomi di desa ini sebenarnya terhitung besar. Program Ketahanan Pangan yang bersumber dari Dana Desa menelan anggaran hingga Rp 143.617.500. Anggaran ini kemudian ditambah dengan suntikan modal baru untuk BUMDes Cadaskertajaya pada tahun 2025 sebesar Rp 22.333.180, yang juga dikhususkan untuk sektor ketahanan pangan.

 

Namun, akumulasi dana mendekati Rp 166 juta tersebut diduga menguap tanpa memberikan timbal balik finansial bagi kas desa. Alih-alih mandiri, produktivitas program bentukan pemerintah ini justru nihil.

 

Dugaan kegagalan program modern tersebut memaksa pemerintah desa bersandar sepenuhnya pada penyewaan tanah bengkok seluas 6 hektar. Aset berupa sawah produktif itu disewakan dengan tarif Rp 7.000.000 per hektar untuk setiap musim tanam.

 

“Pendapatan asli desa hanya dari bengkok 6 hektar, disewakan 7 juta per hektarnya,” ujar Nurki saat dikonfirmasi, menguatkan fakta tidak adanya pos pendapatan lain, Rabu (08/07/26).

 

Ironisnya, alasan pelepasan kelola aset tersebut terkesan sepele. Nurki berdalih letak geografis sawah yang tidak strategis menjadi pemicu utama mengapa aset desa itu dilempar ke pihak ketiga. “Lokasinya jauh, makanya disewakan,” pungkasnya.

 

Mirisnya lagi, dana hasil sewa tanah bengkok yang jumlahnya sangat terbatas itu tidak dialokasikan untuk investasi produktif jangka panjang. Nurki menyebutkan seluruh pendapatan tersebut langsung terserap untuk pos pengeluaran rutin dan kegiatan seremonial di tingkat bawah, salah satunya menyambut perayaan Hari Kemerdekaan.

 

“Habis untuk kegiatan desa, apalagi menghadapi agustusan. Hampir setiap RT ada kegiatan,” cetus Nurki.

 

Reporter: Dmn Hr

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *