KARAWANG, Media3.id — Hektare lahan pertanian di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Jalupang, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, kini kondisinya kian memprihatinkan. Para petani setempat menjerit lantaran lahan sawah mereka terus-menerus tercemar limbah cairan (air lindi) dan hamparan sampah plastik, hingga memicu terjadinya gagal panen.
Kondisi ini diperparah oleh rusaknya infrastruktur pembatas TPAS. Pagar kawat yang semula berfungsi menghalau sampah, kini telah raib dan rata tertimbun oleh gunungan sampah yang meluap.
Menurut penuturan para petani di lokasi, tidak adanya pembatas membuat sampah plastik sangat mudah terbang terbawa angin dan mendarat di area persawahan. Setiap hari, para petani terpaksa meluangkan waktu ekstra hanya untuk memunguti sampah plastik yang mengotori tanaman padi mereka.
“Pagar kawatnya sudah tidak ada karena tertimbun sampah, jadi tidak ada pembatas lagi. Saat ada angin kencang, sampah plastik langsung terbang dan masuk ke sawah warga,” ujar salah seorang petani setempat dengan nada kecewa.
Bukan hanya masalah sampah plastik, ancaman yang lebih fatal justru datang dari pencemaran cairan sampah. Air lindi berwarna hitam pekat meresap area sawah. Akibatnya, kualitas air sawah memburuk drastis. Para petani mengaku terjebak dalam siklus kerugian yang tidak berkesudahan karena padi mereka mati sebelum masa panen tiba.
“Kadang tanaman padinya sama sekali tidak bisa dipanen. Airnya hitam pekat. Kami hanya bisa menanam (tandur), tetapi saat waktunya panen tiba, tidak ada hasilnya,” keluhnya.
Masalah ini tercatat bukan barang baru bagi masyarakat Kecamatan Kotabaru. Pencemaran lingkungan ini sudah berlangsung lama dan menjadi persoalan tahunan yang terus berulang tanpa ada solusi konkret dari pihak dinas terkait.
Warga dan para petani menegaskan bahwa mereka sudah berulang kali melayangkan protes dan meminta kejelasan serta perbaikan tata kelola sampah di TPAS Jalupang. Namun, hingga saat ini, aspirasi mereka seolah membentur dinding kosong.
“Dulu kami sudah pernah protes, tetapi tetap saja begini, seperti tidak ada tanggapan sama sekali dari pemerintah,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, para petani hanya bisa pasrah melihat mata pencaharian mereka rusak perlahan, sembari berharap ada tindakan nyata berupa pembersihan saluran air dan pembangunan kembali pagar pembatas TPAS yang layak.
Reporter; Dmn Hr






