Keluhuran di Balik Keluguan: Membaca Pengakuan Pariyem melalui Lensa Sublime Longinus

  • Whatsapp

Dalam khazanah sastra Indonesia, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG berdiri sebagai sebuah monumen prosa lirik yang unik, yang tidak hanya memotret kehidupan seorang asisten rumah tangga (babu) di lingkungan bangsawan Yogyakarta, tetapi juga menyelami kedalaman spiritualitas dan kultural Jawa. Jika ditelaah melalui kacamata Longinus dalam risalahnya On the Sublime (Peri Hypsous), karya ini memancarkan sebuah “keluhuran” (sublime) yang tidak datang dari kemegahan diksi yang rumit, melainkan dari keberanian emosional, keagungan pikiran, dan gaya bahasa yang memiliki daya pukau luar biasa. Longinus mendefinisikan sublime sebagai suatu ketinggian dan keunggulan dalam gaya bahasa yang mampu membawa pembaca melampaui sekadar persuasi menuju ekstase atau kekaguman yang mendalam.

Elemen pertama dari sublime menurut Longinus adalah keagungan pikiran (grandeur of thought). Dalam Pengakuan Pariyem, keagungan ini tidak ditemukan dalam konsep-konsep filsafat Barat yang abstrak, melainkan dalam ketulusan dan kepasrahan radikal tokoh Pariyem atau Iyem. Pariyem digambarkan sebagai sosok yang lilo (ikhlas) dan rela terhadap takdir serta kedudukannya. Longinus berpendapat bahwa pikiran yang luhur adalah gema dari jiwa yang besar. Meskipun secara sosial Pariyem berada di strata bawah, batinnya menyimpan “kebijaksanaan hidup” yang melampaui status sosialnya. Pandangannya bahwa hidup harus mengalir seperti sungai Winanga atau Gajah Wong mencerminkan pemahaman kosmologis yang mendalam tentang penerimaan diri. Keberanian Linus Suryadi untuk mengangkat suara seorang “babu” menjadi subjek yang berbicara tentang konsep Manunggaling Kawula lan Gusti (penyatuan hamba dengan Tuhan) adalah sebuah manifestasi dari keagungan pikiran yang mendobrak batas-batas konvensional.

Elemen kedua adalah emosi yang kuat dan bergelora (strong and inspired passion). Longinus percaya bahwa sublime akan tercapai ketika karya tersebut mampu menggerakkan emosi pembaca secara intens. Dalam prosa lirik ini, “kenabian Iyem” muncul melalui ledakan-ledakan emosional saat ia berbicara tentang budaya, dosa, dan rasa malu. Pariyem menyatakan, “Rasa dosa saya tak kenal, tapi rasa malu saya tebal,” sebuah ungkapan yang menunjukkan kejujuran batin yang telanjang. Keteguhan Pariyem dalam memegang prinsip hidupnya, meskipun ia berada dalam posisi yang rentan, menciptakan sebuah ketegangan emosional yang agung.

Pembaca tidak hanya merasa kasihan, tetapi justru merasa hormat terhadap integritas batinnya yang tegar meskipun secara lahiriah ia lembut.

Selanjutnya, aspek teknis yang ditekankan Longinus adalah penggunaan majas dan gaya bahasa (figures of speech). Pengakuan Pariyem menggunakan bentuk prosa lirik yang sangat musikal dan repetitif, menyerupai tembang atau mantra. Linus menggunakan bahasa yang “lugu namun energik” yang menurut Longinus kesederhanaan yang tepat dapat menciptakan dampak yang lebih kuat daripada hiasan yang berlebihan. Gaya bahasa Linus yang mencampurkan bahasa Indonesia dengan kosakata dan ungkapan Jawa menciptakan sebuah tekstur linguistik yang kaya dan “bernyawa”. Pengulangan kata-kata seperti “saya rasa-rasa, saya pikir-pikir” memberikan efek hipnotis yang membawa pembaca masuk ke dalam arus kesadaran Pariyem yang tenang namun tak tertahankan. Ini sejalan dengan tuntutan Longinus bahwa struktur bahasa harus mampu membungkus pikiran yang agung dalam harmoni yang tepat.

Longinus juga menekankan pentingnya pilihan kata yang mulia (noble diction). Meskipun Linus menggunakan bahasa sehari-hari yang lugu, pemilihan kata-katanya sangat presisi dalam menangkap esensi kultur Jawa. Penggunaan istilah-istilah budaya seperti arimo dan keseimbangan jagad memberikan bobot intelektual dan spiritual pada narasi Pariyem. Kata-kata ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai kendaraan untuk mengangkut pembaca menuju pemahaman yang lebih tinggi tentang kemanusiaan. Keluhuran bahasa dalam karya ini muncul dari kemampuannya untuk mengubah hal yang tampak sepele—kehidupan sehari-hari seorang pelayan—menjadi sesuatu yang sakral dan bermartabat.

Terakhir, keluhuran dalam perspektif Longinus berkaitan dengan susunan kata yang bermartabat dan tinggi (dignified and elevated composition). Struktur Pengakuan Pariyem yang mengalir secara organik merefleksikan filosofi hidup tokoh utamanya. Karya ini tidak terikat oleh kekakuan konsep ilmiah atau sosiologis yang “ruwet dan kaku,” melainkan memberikan kedalaman melalui estetika sastra. Linus berhasil menyusun fragmen-fragmen kehidupan Pariyem menjadi sebuah kesatuan yang utuh, yang mampu membangkitkan kekaguman kolektif terhadap ketangguhan jiwa manusia.

Sebagai kesimpulan, Pengakuan Pariyem adalah sebuah karya yang memenuhi kriteria sublime Longinus dalam konteks sastra Indonesia. Keluhuran karya ini tidak terletak pada kemegahan luar, melainkan pada kedalaman “dunia batin” yang dieksplorasinya. Melalui perpaduan antara keagungan pikiran yang lugu, emosi yang jujur, dan gaya bahasa prosa lirik yang musikal, Linus Suryadi AG telah menciptakan sebuah monumen estetika yang mampu membawa pembaca melampaui realitas sosial menuju pemahaman yang lebih luhur tentang esensi kehidupan manusia. Pariyem bukan sekadar pelayan; ia adalah personifikasi dari jiwa yang luhur yang tetap tegak di tengah arus zaman yang terus mengalir.•

Penulis: Wayan Dehabrita Devi, 244114016, Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Editor: Shaleh Rudianto media3

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *