SOLO (Jateng), media3.id – Indonesia kekurangan sekitar 70.000 dokter spesialis untuk kurun sepuluh tahun ke depan. Jumlah yang ada saat ini (per Oktober 2025; red) sekitar 276.000 dokter. Artinya, rasio dokter spesialis hanya mencapai 0,30 per 1000 penduduk. Hal ini diperparah dengan konsentrasi dokter spesialis yang tidak merata, mayoritas (59%; red) berada di Pulau Jawa, dan minimnya program pendidikan dokter spesialis yang memadai.
Demikian dikemukakan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto meresmikan Rumah Sakit Kardiologi Emirat-Indonesia (RSKEI) di Komplek Solo Techno Park, Rabu (19/11/2025).
“Hanya 20 dari 92 fakultas kedokteran di Indonesia yang memiliki program studi dokter spesialis, sehingga produksi lulusan setiap tahunnya minim”, kata Budi.
Kekurangan ini, lanjut Budi, bisa menyebabkan kematian lebih dari 1 juta masyarakat Indonesia setiap tahunnya.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menyebutkan dibutuhkan langkah strategis untuk mengatasi tantangan pemenuhan kebutuhan jumlah dokter ini. “Langkah strategis tersebut diantaranya adalah pembukaan 148 program studi baru di 57 fakultas kedokteran, termasuk spesialis dan subspesialis. Sedangkan 30 fakultas kedokteran baru juga ditargetkan guna mengejar kekurangan jumlah dokter spesialis dan dokter umum di Indonesia”, tandas Presiden.
Terungkap, jumlah dokter di Indonesia hingga Oktober 2025 mencapai 276,6 ribu dokter yang terdiri dari dokter umum, spesialis, hingga dokter gigi. Didominasi oleh dokter umum yang mencapai 171,5 ribu orang (62%) dari total populasi. Sementara jumlah dokter gigi hanya mencapai 16,2% atau sebanyak 44,70 ribu orang.
Kemudian, jumlah dokter spesialis hanya sebanyak 55,40 ribu dokter atau sebesar 19,7% dari populasi. Bahkan jumlah dokter gigi spesialis hanya mencapai 2,2% atau 5,9 ribu orang.• (Shaleh Rudianto media3)





