Ketua Peken Gematen, Deny Lusia, saat melayani pelanggan yang membeli menu takjil. (Foto: Ovy)
KLATEN (Jateng), media3.id- Perburuan takjil diantara umat beragama atau lazim disebut sebagai ‘war takjil’ tengah menjadi perbincangan publik di beberapa platform media sosial. Berburu takjil tersebut tidak hanya dilakukan oleh umat Islam yang berpuasa, tetapi banyak non Muslim [nonis; red] yang juga ikut berburu takjil.
Sebutlah Sinta (25), yang merasa gembira dengan datangnya bulan Ramadhan. Padahal, ia tidak berkewajiban menjalankan ibadah puasa karena bukan muslim. Kegembiraan itu datang dari hadirnya ragam kuliner khas Ramadhan alias takjil yang dijajakan menjelang berbuka puasa.
“Nah, di jalan pulang kerja itulah aku ikut berburu takjil di kawasan dekat taman patung Ki Nartosabdo, Perak Kotabaru. Kalau di hari biasa kan susah ditemuinya,” ungkap Sinta saat berbincang dengan Media3.id, Sabtu (23/3/2024).
Baginya, hal semacam itu justru mempererat tali silaturahmi.
“Bisa untuk saling berkenalan, berbagi kebahagiaan dan rezeki. Bahkan, teman-teman di kantor justru seringkali nitip dibelikan takjil,” lanjut Sinta.
“Lebih banyak yang diuntungkan ketimbang yang dirugikan. So it’s a good thing to keep up alias biarkan aku jajan. Roda ekonomi juga tambah berjalan,” tandas wanita yang sehari-hari bekerja di sekretariat Pemkab Klaten ini.
Demikian halnya yang diungkapkan fasilitator pedagang takjil Perak Kotabaru, Ovy (51). Menurutnya, fenomena war takjil lintas agama itu berdampak baik untuk pedagang takjil. “Pedagang takjil yang terdampak saya yakin enggak cuma di satu dua tempat saja. Momen Ramadhan selalu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi tanah air,” ujar dia.

Sebagai contoh, lanjut Ovy, momentum Lebaran 2023 turut mengakselerasi pertumbuhan ekonomi triwulan II-2023 sebesar 5,17 persen secara tahunan.
“Tahun sebelumnya, 2022, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2022 yang bertepatan dengan perayaan Idul Fitri tumbuh 5,44 persen secara tahunan,” jelasnya.
Berkaca dari data historis di atas, alumni FE-UII Yogyakarta ini menyebutkan periode Ramadhan 2024 yang akan berlangsung 30 hari terhitung 12 Maret-10 April 2024 diharapkan turut mengangkat pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2024 hingga triwulan II-2024.
Diketahui, pedagang takjil yang berlapak di kawasan taman patung Ki Nartosabdo merupakan himpunan pelaku usaha kecil mikro (UKM) Peken Gematen [Pasar Kasih Sayang; red] Gereja Katolik Maria Assumpta Klaten.
“Peken Gematen resmi dibentuk pada Mei 2023, yang diniatkan sebagai wujud saluran berkat sesama,” ungkap Ketua Peken Gematen, Deny Lusia, di lokasi.•
(Shaleh Rudianto)






