Banjar, Media3.id – Penanganan stunting tidak bisa oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seorang, tetapi perlu kolaborasi semua agar dapat maksimal. Ini yang diterapkan Pemerintah Kota Banjar dengan kolaborasi antar OPD serta stakeholder bahkan warga masyarakat. Mulai dari kolaborasi data hingga penanganan dilapangan guna mencegah tumbuhnya kasus stunting di Kota Banjar.
Sehingga penanganan stunting tidak hanya oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) tetapi semua OPD di Kota Banjar harus berlolaborasi sesuai dengan tugas pokok masing-masing instansi. Seperti penanganan stunting yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjar melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang dapat menyuplai kebutuhan gizi dan nutrisi keluarga rawan stunting (KRS).
“Program P2L ini menggandeng Kelompok Wanita Tani mengolah dan memanfaatkan lahan kosong disekitar rumah yang tidak produktif menjadi produktif dengan ditanami sayur mayur dan palawija. Sayuran yang di panen dan kita juga ajarkan budidaya ikan lelel dalam ember, semua itu nantinya untuk pemenuhan gizi kelusrga beresiko stunting disekitar lokasi P2L,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Banjar Yoyon Cuhyon SPt, MSi, Senin (12/2/2024).
Yoyon menjelaskan, pemilihan lokasi untuk program P2L ini tentunya disekitarnya terdapat keluarga rawan stunting. Sehingga keberhasilan pemanfaatan program pekarangan pangan lestari ini mampu mengurangi angka Keluarga Rawan Stunting di daerah tersebut.
“Pemilihan lokasi program P2L sendiri juga kami berkolaborasi dengan OPD terkait. Sehingga tidak sembarang, dan mafaatnya tidak hanya untuk KWT tetapi membantu keluarga rawan stunting dalam pemenuhan gizi mereka,” kata Yoyon.
Tahun 2024 ini, kata Yoyon, pihaknya mendapat dukungan bantuan untuk pelaksanaan program P2L sebanyak 7 titik. Dimana lokasi tersebut sudah dilocuskan daerah yang banyak keluarga rawan stunting. Ketujuh titik tersebut yakni Kelurahan Hegarsari 2 KWT, Kelurahan Mekarsari 2 KWT, Desa Kujangsari 2 KWT dan Kelurahan Karangpanimbal 1 KWT.
“Program ini nantinya bantuan itu diberikan langsung ke KWT untuk pembangunan rumah bibit, tempat menyemai. Nantinya bibi itu dibagikan ke semua anggota KWT untuk di tanam di pekarangan rumah. Hasilnya bisa mereka manfaatkan untuk pemenuhan ekonomi anggota, kelompok serta membantu pemenuhan gizi para keluarga rawan stunting disekitarnya. Sehingga tidak hanya Pemkot, masyarakat melalui KWT ikut membantu pemerintah dalam penanganan stunting dan Kota Banjar bisa zero stunting,” kata Yoyon.
Terpisah, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Budi Hendrawan mengatakan, penanganan stunting di Kota Banjar, dalam waktu dekat ini akan lebih difokuskan terhadap keakuratan data serta evaluasi tahun sebelumnya. Sehingga tidak ada timpang tindih yang membuat tidak terjadi pemerataan dalam penanganan stunting khususnya Keluarga Rawan Stunting.
“Tahun 2024 ini kita akan memperkuat sisi data. Validasi data dan evaluasi laporan. Apakah bapak asuh oleh OPD atau agnia, desa masing-masing atau Baznas. Akan dipilah itu supaya sesuai harapan terpenuhi 6 bulan itu. Jadi terjadi pemerataan dan penanganan bersama guna mewujudkan Kota Banjar Zero Stunting,” kata Budi.
Budi menambahkan, dalam penanganan stunting pemerintah akan melakukan intervensi kepada keluarga rawan stunting. Yaitu dengan mengubah perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan asupan gizi dan pola lingkungan. “Pemenuhan gizi nya kita intervensi dengan makanan tambahan (PMT) ke keluarga rawan stunting agar tak menambah kasus stunting di Kota Banjar,” katanya.
(tm)





