Dinkes Kota Cimahi sudah lakukan 12 kali fogging per Januari 2024
CIMAHI, Media3.id – Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi Mohammad Dwihadi Isnalini menghimbau warga yang hendak melakukan fogging untuk menghubungi puskesmas terdekat yang nantinya akan ditindaklanjuti oleh Dinkes Kota Cimahi.
Hal itu diungkapkannya usai melakukan fogging di RW 18 Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara, pekan lalu.
“Kalau ada kasus DBD dan lapor ke Puskesmas akan ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi, setelah terkonfirmasi baru dilakukan fogging,” tutur Dwihadi.
Seiring meningkatnya jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Cimahi, maka pelaksanaan fogging ini dilakukan guna antisipasi adanya penambahan kasus DBD di Kota Cimahi.
“Kegiatan yang kami laksanakan ini merupakan kegiatan pencegahan penyebaran DBD,” terang Dwihadi.
Dwihadi mengatakan bahwa permintaan fogging ini cukup banyak, tak hanya rumah warga, fogging juga menyasar selokan dan tempat yang rawan jentik nyamuk berkembang biak.
“Per Januari kemarin, kami sudah lakukan 12 kali fogging,” bebernya.
Ia memaparkan bahwa kegiatan fogging ini cukup efektif untuk membunuh nyamuk dewasa saja.
“Kalau untuk jentik harus PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dan pencegahan dengan metode 3M, yaitu menguras tempat atau wadah penampung air, menutup tempat-tempat penampungan air, dan menimbun barang-barang bekas yang bisa menjadi tempat penampungan air menggenang,” jelasnya.
Selain itu, Dwihadi melanjutkan, pemberantasan sarang nyamuk juga bisa dengan mengurangi penyimpanan pakaian dengan cara digantung, menggunakan kelambu penutup dikala tidur, dan gunakan obat penghalau nyamuk di dalam rumah.
Ia menyebutkan bahwa kasus DBD di Kota Cimahi di awal Tahun 2024 ini kenaikannya cukup drastis.
“Jumlahnya naik drastis dibandingkan Januari 2023, hingga saat ini tercatat ada 74 kasus warga yang terjangkit DBD, meningkat dari tahun lalu yang hanya 30 kasus,” terangnya.
Dwihadi juga mengungkapkan kasus DBD yang tengah mengalami peningkatan awal Tahun 2024 ini didominasi pasien anak-anak usia 5-14 tahun.
“Kalau dilihat dari datanya memang kebanyakan yang terkena DBD itu anak-anak usia 4-15 tahun, disusul usia 15-44 tahun,” pungkasnya.
(Sinta)






