Pasca Aksi Ormas Tuntut Tutup Patung, Kapolres Kulonprogo Dimutasi

  • Whatsapp

Konferensi pers Kapolres Kulonprogo AKBP Muharomah Fajarini, Kamis (23/3/2023) malam. Didampingi Sutarno (adik kandung pemilik rumah doa St. Yacobus), Lurah Bumirejo Ediwinarno, dan tokoh FKUB Kapanewon Lendah.

KULONPROGO (DIY), media3.id- Kasi Humas Polres Kulonprogo, Iptu Triatmi Noviartuti membenarkan adanya pemutasian Kapolres Kulonprogo AKBP Muharomah Fajarini pasca terjadinya peristiwa aksi sebuah ormas Islam yang menuntut pembongkaran patung Bunda Maria di rumah doa Sasana Adhi Rasa, Kalurahan Bumirejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo.

Read More

 

“Bu Kapolres pindah tugas ke Polda DIY. Kini posisi Kapolres Kulonprogo dijabat oleh AKBP Nunuk Setiyowati,” kata Noviartuti, Rabu (29/3/2023).

 

Diperoleh keterangan, warga Padukuhan Degolan membenarkan bahwa sebelumnya ada rombongan ormas yang datang, sebanyak dua kali.

 

“Benar ada ormas ke sini. Pertama kali pada tanggal 11 Maret, kira-kira 20-an orang pakai sepeda motor dan satu mobil bukaan (pickup; red) pada jam 12 siang. Mereka shalat dhuhur dulu di masjid sini. Seminggu kemudian, 18 Maret, ada tiga mobil dengan orangnya 18 sampai 20 orang pas pengajian jam 20.30 WIB,” kata warga yang tak bersedia disebutkan namanya.

 

Warga juga mengatakan salah seorang dari anggota rombongan itu mengaku datang dari Kota Yogyakarta.

 

“Warga di sini sendiri sih damai, mas. Tidak menolak tempat doa ataupun patung Bunda Maria itu,” ucapnya tegas.

 

Dikatakannya pula, salah seorang yang mengaku tokoh ormas yang datang pada 11 Maret lalu itu mendesak patung Bunda Maria dipindahkan atau dibongkar agar tidak terlihat dari masjid.

 

“Alasan orang itu, umat muslim akan menjalankan ibadah puasa Ramadan,” kisahnya.

 

Berlanjut sepekan kemudian orang-orang ormas itu datang kembali untuk mempertanyakan pembongkaran patung Bunda Maria, atau Dewi Maria (dalam istilah Kristen Jawa; red).

 

Sementara itu, Kapolsek Lendah, AKP Agus Dwi Sumarsangko mengatakan ormas tersebut datang menyampaikan aspirasi atas ketidakyamanan mereka tentang keberadaan patung Bunda Maria tersebut.

 

“Mereka menganggapnya mengganggu umat Islam yang melaksanakan ibadah di Masjid Al-Barokah di dekatnya,” kata Agus.

 

Agus menegaskan patung tersebut tidak ditutup oleh polisi, tetapi oleh pemilik tempat doa itu sendiri.

 

“Kami hanya menyaksikan. Terpal itu juga dipesan oleh pemilik tempat doa dari Jakarta,” katanya.

Di sisi jauh nampak patung Bunda Maria telah ditutup terpal warna biru.

Selanjutnya, adanya pernyataan bahwa penutupan patung tersebut atas inisiasi dari pemilik rumah doa, dinilai janggal. Kehadiran polisi dalam peristiwa tersebut, serta adanya laporan Polsek Lendah ke Polres Kulonprogo pun dirasa janggal.

 

“Melalui laman instagram Polres Kulonprogo, Kapolres Kulonprogo menganulir laporan kegiatan (lapgiat; red) yang dibuat oleh Kapolsek Lendah dengan membangun narasi penutupan patung merupakan kegiatan internal rumah doa. Kami menilai ada kejanggalan dan kontradiksi dengan isi laporan kegiatan Kapolsek Lendah. Jika benar itu merupakan kegiatan internal rumah doa, kenapa kepolisian hadir di lokasi,” kata Muhammad Rohman, Jumat (24/3/2023) di kantor LKIS.

 

Muhammad Rohman yang merupakan Koordinator Konsolidasi Jaringan Advokasi Kebebasan Beragama DIY tersebut mengatakan tindakan

yang dilakukan Kepolisian Sektor Lendah justru mengarah kepada pembiaran atas tindakan penutupan patung Bunda Maria.

 

“Kepolisian seharusnya memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat sebagaimana yang diatur dalam Pasal 13 UU No. 2/2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia,” tegasnya.

 

Dari kasus tersebut, lanjutnya, nyata bahwa negara melalui lembaga dan aparatur negara, dalam hal ini Gubernur DIY selaku kepala daerah beserta aparat penegak hukum, kepolisian, tidak menghormati dan mengupayakan perlindungan kepada pengelola rumah doa Sasana Adhi Rasa Santo Yakobus.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus penutupan patung Bunda Maria di Padukuhan Degolan, Kalurahan Bumirejo, Lendah, Kulonprogo pada Rabu (22/3/2023) lalu menimbulkan polemik. Narasi yang disampaikan polisi ke publik mengklaim penutupan itu dilakukan murni inisiatif pemilik rumah doa Yacobus Sugiarto, bukan karena tekanan ormas Islam yang keberatan adanya patung yang berdekatan dengan sebuah masjid di lokasi tersebut.

 

•(Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *