Jelang Satu Tahun Perang Rusia-Ukraina 24 Oktober 2023 ; ( I ) Kehancuran Yang Sudah, Sedang dan Akan Terjadi.

  • Whatsapp

Oleh Ir.Ivan PP

 

Read More

JAKARTA,  MEDIA3.ID- Menjelang satu tahun perang Ukraina vs Rusia yaitu tgl 24 Februari 2023, saya mencoba mereview kembali tentang perang ini dalam beberapa tulisan dengan uraian ringkas.

 

Saya menulis ini dengan maksud agar kita mengerti secara objektif apa sebenarnya yang terjadi tentang Perang Ukraina vs Rusia ini.

 

Saya tidak bermaksud berpihak ke satu blok, tetapi berpihak kepada objektifitas sedapat mungkin, dimana agar bangsa kita dapat menarik pelajaran berharga dari perang besar Eropa di Abad ke 21 ini.

 

DIMULAINYA PERANG RUSIA-UKRAINA.

 

Sejak akhir tahun 2021 sebenarnya Rusia sudah mulai mengerahkan pasukan dan peralatan militernya ke perbatasan Ukraina, hal ini terjadi ketika Presiden Ukraina Volodymir Zelenskyy menyatakan minat yang besar untuk bergabung dengan NATO dan NATO dengan jelas menolak jaminan yang dimintakan Presiden Putin bahwa NATO tidak akan pernah menerima Ukraina sebagai anggotanya. Bagi NATO adalah hak dan kebebasan suatu negara untuk menentukan pilihannya.

 

Puncaknya awal Februari 2023, menurut citra satelit dan berbagai laporan Intelijen konsentrasi Pasukan Rusia telah meningkat masif hampir di seluruh perbatasan Rusia – Ukraina. Di sebelah Utara ada di Negara Belarusia dgn dalih latihan militer bersama. DI Timur yang berbatasan dgn daerah konflik Ukraina Vs Seperatis Pro- Rusia yaitu di wilayah perbatasan Donbas – Rusia. Di selatan di semenanjung Crimea yang di aneksasi Rusia dari Ukraina tahun 2014, juga terlihat konsentrasi dan aktivitas militer yang tinggi. Bahkan di Timur di perbatasan Ukraina dgn Moldova , wilayah Transnistiria juga terjadi aktivitas militer Rusia yg meningkat. Ukraina seperti dikepung dari berbagai penjuru.

 

Perkiraan Analis Militer pada waktu itu, antara 150.000- 175.000 Pasukan Rusia beserta alusistanya terkonsentrasi di sepanjang perbatasan Rusia-Ukraina. Sungguh sangat mengkhawatirkan pada saat itu, meskipun Rusia selalu membantah itu hanya untuk latihan Militer saja dan bila sudah selesai akan di tarik ke pangkalan- pangkalan mereka secara permanen.

 

Berbagai upaya dari Amerika, Inggris, Perancis, Jerman dan negara- negara tetangga Rusia dan Ukraina mencoba melakukan diplomasi agar Rusia segera menarik pasukannya dari perbatasan guna meredakan eskalasi ketegangan yg semakin meningkat dari hari ke hari.

 

1 Februari 2022 Putin menyatakan bersedia menarik pasukannya dari perbatasan dengan 3 syarat, pertama jaminan bahwa Ukraina tidak akan diterima sebagai Anggota NATO kapanpun, kedua NATO tidak menempatkan senjata- senjata offensivenya di negara- negara tetangga anggota NATO yang berbatasan dengan Rusia dan ketiga menarik dan menempatkan semua infrastruktur militer NATO kembali kepada masa status quo tahun 1997. Permintaan ini tidak dikabulkan NATO.

 

Selanjutnya karena kebuntuan diplomasi akhirmya pada tanggal 21 Februari 2023 Presiden Putin membuat kejutan dengan mengakui kemerdekaan 2 Negara di wilayah Timur Ukraina Donbas yaitu Republik Donetsk dan Republik Luhanks . Menyusul keputusan ini Rusia segera mengerahkan pasukan besar- besaran ke Wilayah timur Ukraina yang baru merdeka sepihak oleh Federasi Rusia itu dgn misi demiliterisasi dan de-Nazifikasi serta menjaga perdamaian.

 

Namun tak lama setelah itu sekitar Jam 4 pagi waktu Moskow pada tanggal 24 Februari 2022, Presiden Putin mengumumkan dimulainya Operasi Militer Khusus di Wilayah Donbas( Wilayah Timur Ukraina). Tak lama juga kemudian, terjadilah ledakan besar-besaran di beberapa kota Ukraina tengah dan timur, termasuk ibukota Kyiv dan kota Kharkiv. Invasi Rusia ke Ukrainapun terjadi. Perang Rusia vs Ukrainapun “resmi” dimulai.

 

TUJUAN SERANGAN 24 FEBRUARI RUSIA YANG GAGAL

 

Pada tanggal 24 Februari 2023 disamping Rusia menyerang wilayah Timur Ukraina, juga melakukan serangan ke jantung Ukraina yaitu ibukota Kyiv. Menurut sumber- sumber yang dapat dipercaya Putin menargetkan, dengan serangan masif itu , Ukraina dapat ditaklukkan dalam 3 hari saja setelah kejatuhan ibukota Kyiv,dan harapannya invasi tentara Rusia akan disambut dengan tangan terbuka dan karangan bunga oleh rakyat Ukraina, namun ternyata harapan tersebut tidak terjadi dan gagal total sehingga sampai sekarang perang masih tetap berlangsung, bahkan wilayah – wilayah Ukraina yg direbut Rusia diawal invasi sebagian dapat dibebaskan kembali oleh Angkatan Bersenjata Ukraina dalam serangan balik pada bulan September 2022.

 

Menurut para analis militer kegagalan Rusia disebabkan beberapa hal:

 

– Pasukan Ukraina dibantu Intilijen Barat benar-benar sudah siap mengantisipasi segala bentuk serangan dan taktik tentara Rusia.

– Walaupun jumlahnya lebih kecil tentara Ukraina cukup terlatih karena sejak aneksasi Semenanjung Crimea( teritori Ukraina di Selatan) oleh Rusia tahun 2014, ratusan ribu tentara Ukraina telah dilatih oleh Amerika , Inggris dan Perancis dengan standar perang NATO.

-Mayoritas Rakyat Ukraina( kecuali keterunan Rusia yg ada di Wilayah Donbas) ternyata menolak keras invasi Rusia, bahkan muncul sikap heroik Rakyat Ukraina untuk melawan tentara Rusia.

-Peralatan tempur tentara Rusia cukup banyak yang kurang perform, isunya karena telah terjadi banyak korupsi di kalangan militer Rusia.

-Juga terjadi logistik yang kurang memadai untuk mendukung pasukan tempur di lapangan.

 

Singkat cerita pasukan Rusia yang masif jumlahnya menyerang Ibukota Kyiv pada waktu itu dapat dengan cepat dipukul mundur dan kemudian menarik diri ke arah selatan.

 

KORBAN JIWA DI KEDUA BELAH PIHAK.

 

Menurut Norwegian Chief of Defence, mirip dengan estimasi US Military, korban tentara dan milisi yang tewas di Pihak Rusia sampai Februari 2023 adalah sekitar 180.000 jiwa, sedangkan di pihak Ukraina 100.000 jiwa.

Sedangkan korban sipil sejumlah 30.000 jiwa.

 

PENGUNGSI SEBAGAI AKIBAT PERANG.

 

Sebagai akibat perang dari 44, 5 juta penduduk Ukraina sampai Februari 2023 sudah mengungsi sebanyak 9,9 yang tersebar di negara-negara tetangga , paling banyak ke Polandia yaitu sekitar 5 juta lebih pada masa awal perang dimulai.

 

Pengungsi yang keluar dari negara Rusia ke negara- negara tetangga dan ke luar negeri juga ada sebagai akibat dari perang ini, yaitu ketika Presiden Putin melakukan Mobilisasi Parsial Masal bulan September 2022 untuk rekrutmen tentara yang baru guna diterjunkan ke medan Perang Ukraina dengan target menambah 300.000 reservis. Akibat mobilisasi parsial ini tercatat lebih dari 700.000 orang mengungsi keluar Rusia untuk menghindari wajib militer, terutama orang-orang mudanya.

 

BERAPA DANA YANG DIBUTUHKAN UNTUK MEMBANGUN UKRAINA KEMBALI ?

 

Menurut Perdana Menteri Ukraina Deny Shmyhal paling sedikit dibutuhkan sekitar 750 milyar US Dollar untuk membangun kembali bagian Ukraina yang hancur akibat perang. Bila dikonversikan ke rupiah sekitar 11,2 kuadriliun rupiah , ini setara 3,7 kali APBN Indonesia yang berjumlah 3000 Trilyun pertahun.

 

DAMPAK PERANG RUSIA-UKRAINA TERHADAP EKONOMI GLOBAL 

 

Ada tiga dampak besar dari perang Rusia – Ukraina yaitu pertama menimbulkan krisis energi, kedua krisis pangan dan tekanan inflasi dunia, dimana harga-harga komoditas dunia melambung tinggi.

 

Benua Eropa paling merasakan dari krisis energi, karena 46,8%

pasokan Gas Eropa berasal dari Rusia. Bisa dikatakan selama ini Rusia seperti Pom Bensinnya Eropa. Akibat Krisis Energi, komoditas dan inflasi maka biaya hidup menjadi selangit di Eropa.

 

Krisis pangan terjadi karena Ukraina salah satu produsen dan pengekspor Gandum terbesar di dunia juga bersama Rusia penghasil terbesar fertilizer/ pupuk dunia.

 

Ekonomi dunia yang mulai bergerak dan ke arah pemulihan pasca Covid-19 , tertekan kembali akibat perang Rusia-Ukraina. Semua belahan dunia turut menderita akibat perang Rusia- Ukraina sampai saat ini.

 

REFLEKSI

 

Apapun alasannya menurut Norma Hukum Internasional dan Piagam PBB tidak dibenarkan suatu Negara menginvasi dan atau merebut suatu wilayah Negara lain yang berdaulat.

 

Sikap Indonesia yang mendukung Resolusi PBB tentang Invasi Rusia ke Ukraina pada Sidang Darurat Majelis Umum PBB 2 Maret 2022, yang mengutuk serangan Rusia ini sudah tepat dan benar, hal ini sesuai dgn isi dan semangat dari Pembukaan konstitusi Indonesia, yaitu kemerdekaan hak segala bangsa, penghapusan penjajahan dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Saya tidak setuju kepada pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia sekedar mengekor sikap Amerika dan Barat. Pendapat ini tidak benar. Indonesia hanya konsisten dengan isi dan semangat Konstitusinya dan juga peri kemanusiaan.

 

Masih terbuka lebar jalan diplomasi pada saat itu seandainya Presiden Vladimir Putin bersikap sabar dan lentur.

 

Indonesia juga tidak boleh “polos” bersikap terhadap kekuatan- kekuatan yang ada di sekitarnya, bisa saja kejadian Rusia-Ukraina ini terjadi di kemudian hari di Indonesia, misal soal sengketa Laut Cina Selatan yang menyimpan bara api. Norma dan hukum Internasionalpun bisa nantinya diabaikan lagi demi hegemoni dan kepentingan kekuatan- kekuatan yang terkait dengan Laut Cina Selatan/ Laut Natuna yang kaya akan sumber daya alam itu.

 

Tentara Nasional Indonesia hendaknya harus menjadi Angkatan Bersenjata yang kuat dan senantiasa siap siaga menjaga keutuhan, pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai bentuk ancaman dari luar maupun dari dalam.Jangan sampai lengah.

 

Berlanjut.

 

#Ir.IvanPPKetuaUmumKomunitas Kebangsaan Nusantara Bangkit.

#AlumnusInstitutTeknologiBandung.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *