Diduga Pengasuh Pondok pesantren Assyaafi’iyyah Kalijati dipolisikan. Kasusnya Sangat Memalukan

  • Whatsapp

SUBANG, Media3.id- Kepala Kementerian Agama Kabupaten Subang membenarkan bahwa inisial D A N merupakan pengasuh pondok pesantren Assyaafi’iyyah SMP-SMA Kalijati, Kabupaten Subang

Read More

DAN dilaporkan ke Polres Subang atas dugaan pencabulan anak dibawah umur terhadap bunga (nama samaran) yang tak lain adalah Siswi sekaligus santrinya di pondok pesantren Assyaafi’iyyah SMP-SMA Kalijati.

“Ia, D A N itu pengasuh pondok pesantren Assyaafi’iyyah” kata Agus kepala Kemenag Kabupaten Subang saat di hubungi via handphone, Senin 20/06/22).

D A N dilaporkan oleh inisial N ke Polres Subang dengan nomor laporan Polisi Nomor :LP-B/Nomor :LP-B 656/V/SPKT/POLRES SUBANG/POLDA JABAR, atas dugaan pencabulan anak dibawah umur yang menimpa adik kandungnya yang sedang menuntut ilmu di Pondok pesantren Assyaafi’iyyah SMP-SMA Kalijati.

Dari informasi yang dihimpun, Bunga (nama samaran) adik kandung N diduga dicabuli oleh D A N sejak tahun 2020 sampai akhir 2021 lalu. Adapun alasan bunga tidak melapor kepada orang tuanya dikarenakan ada ancaman dari D A N agar tidak memberi tahu kepada siapapun atas ulah D A N.

Namun perbuatan bejad tersebut ternyata tidak berjalan mulus setelah bunga enggan sekolah di pondok pesantren Assyaafi’iyyah SMP-SMA walaupun pada saat itu bunga sudah duduk di bangku SMA.

Yang tentunya membuat orang tua bunga heran kenapa putrinya enggan sekolah dan mondok di pesantren Assyaafi’iyyah SMP-SMA Kalijati.

Secara tidak sengaja ibu kandung bunga melihat catatan buku diary bunga yang isinya sangat mengejutkan yaitu diduga bunga sering dicabuli bahkan melayani sahwat bejat sang gurunya yang tak lain adalah Pengasuh Pondok pesantren tempat ia menuntut ilmu.

Dari keterangan Aneng Winengsih SH, MH kuasa hukum bunga, peristiwa pelecehan yang menimpa kliennya sudah berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 2020 sampai 2021 akhir. Waktu itu bunga (korban) masih duduk di bangku SMP dan kini sudah kelas 10 SMA di pondok pesantren Assyaafi’iyyah SMP-SMA Kalijati.

“Menurut keterangan dari korban kejadian tersebut dimulai sejak tahun 2020 sampai akhir 2021” kata Aneng saat diwawancara wartawan, Sabtu (18/06/22).

Dari pengakuan korban, tersangka melakukan aksinya bukan sekali dua kali tetapi lebih dari sepuluh kali melakukan pelecehan. Bahkan saat ditanya lebih jauh, korban mengaku hampir seminggu sekali mendapatkan pelecehan dari tersangka

“Ketika ditanya, korban mengaku sudah sepuluh kali yang dia ingat selebihnya ia tidak ingat. Tetapi setelah ditanya lebih dalam dilakukannya seminggu sekali” ungkapnya.

Adapun modusnya, si korban di panggil untuk datang keruangan atau kerumahnya dengan alasan untuk mempersiapkan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) atau lomba-lomba lainnya.

“menurut keterangan korban, modusnya itu korban dipanggil ke ruangannya atau kerumahnya dengan alasan untuk mempersiapkan MTQ atau lomba-lomba lainnya disitulah terjadi pelecehan tersebut” tuturnya.

Untuk melancarkan aksinya, si tersangka selalu mengancam korban supaya tidak bercerita kepada siapapun. Bahkan tersangka diberi uang sebesar 50 ribu rupiah kepada korban dengan dalih sebagai sedekah.

“Berdasarkan keterangan korban, melakukan perbuatan tersebut, si tersangka selalu mengancam supaya tidak bercerita kepada siapa-siapa, bahkan tersangka sempat memberikan uang sebesar 50 ribu kepada korban sebagai sedekah katanya,”pungkasnya.

(DM)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *