Komisi I Gekar Rapat Evaluasi Kinerja Eksekutif Bahas Dampak Pembangunan KCIC

  • Whatsapp

Ketua Komisi I DPRD Kota Cimahi Hendra Saputra, dirinya tidak setuju adanya PPKM, tapi penyemprotan disinfektan adalah solusi hindari dari Covid-19.

CIMAHI, MEDIA3.ID – Komisi I DPRD Kota Cimahi gelar rapat Evaluasi Kinerja Eksekutif (EKE) yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I Hendra Saputra, anggota Edi Sofyan, Oneng Aminah dan dari pihak Eksekutif dihadiri oleh Camat Cimahi Utara Endang, Camat Cimahi Tengah Triospala dan Camat Cimahi Selatan Dani Bastian, diruang komisi I gedung DPRD Kota Cimahi Jalan dra Hj Djulaeha Karmita Nomor 5 Cimahi Tengah Jum’at (20/8).

Menurut Ketua Komisi I Hendra Saputra saat dikonfirmasi diruangan komisi I, usai acara rapat tersebut, bahwa rapat Eke membahas masalah dampak dari pembangunan proyek Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC), yang telah membawa korban akibat kebanjiran di Kelurahan Utama RW 16 Cimahi Selatan.

“Jadi akibat dari dampak pembangunan proyek KCIC tersebut, setelah saya survey kelokasi ternyata dilokasi RW 16 Kelurahan Utama, tidak akan bisa diberikan solusi yang lebih baik lagi, kecuali lahan dampak banjir tersebut harus dibebaskan,” kata Hendra.

Karena menurut Hendra pula, walaupun diberikan konpensasi sekalipun, masalah banjir dilokasi tersebut akan tetap timbul,

“Sebab, walaupun saluran tersebut diurug sekalipun, air dimusim penghujan akan tetap mengalir kedaerah yang terdampak tadi, karena draynasenya tersumbat dan akan bergenang ditempat tersebut,”

Akibat dari draynasenya tersumbat itulah, akibatnya empat warga sekitar menjadi setres,

“Karena walaupun hujannya kecil sekalipun, tapi air deras datang dari daerah lain dan menggenang dilokasi RW 16, akhirnya empat rumah tadi akan tetap kebanjiran, bahkan sampai terjadi korban meninggal dunia diantara salah satunya, akibat setres air tidak dapat ditanggulanginya,” tutur Hendra.

“Yang saya tahu juga, saat saya survey kesana, walikota Cimahi katanya akan membebaskan lahan itu, jadi kalau menurut saya, dari pada cari solusi yang tidak ada titik temunya, lebih baik dibebaskan sebagaimana janji Walikota,” saran Hendra.

Begitupula dari hasil rapat menurut Hendra sudah ada kesepakatan dengan para Camat, di bulan September 2021, pihaknya akan melakukan rembukan musyawarah, antara KCIC, masyarakat yang terdampak, RT dan RW, Lurah, akan dipanggil,

“Nanti dalam pertemuan, saya ingin yang hadir itu bukan sebagai perwakilan, tetapi saya harap yang hadir itu betul-betul orang yang berkompeten dapat memutuskan, artinya dalam kehadiran rapat tersebut jangan diwakili, karena masalah ini harus ditangani segera, jadi jangan ditarik ulur, kasihan mereka kalau masalah ini ditunda-tunda karena ini menyangkut nyawa,” tegas Hendra.

Dalam rapat tersebut, komisi I tidak hanya membahas masalah dampak dari pembangunan proyek KCIC saja, bahkan perkembangan terkait Covid-19-pun dibahas, dimana Cimahi berawal dari zona merah, sekarang sudah kembali menjadi zona orange.

Menurut Hendra dengan adanya solusi Pembelakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 bukan solusi yang baik.

“Memang kalau secara teoritis betul covid-19 berdampak kepada orang yang hidup, kalau dia mati maka virusnyapun mati, karena kejadian dilapangan beda lagi dan akan merembet kemanapun, kenapa saya tidak setuju dengan PPKM, PPKM, orangnya diam dirumah, tapi tetap dong Covid-19 nya tetap harus diatasi, karena virus corona ada dimana-mana, minimal kita harus melakukan penyemprotan disinfektan harus tetap dijalankan di seluruh Indonesia, itu mau pakai pesawat atau kendaraan pemadam kebakaran disetiap daerah,” tandasnya.

Hendrapun sudah menyarankan kepada para camat yang hadir, agar dapat berkoordinasi dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), selain dilakukan PPKM juga harus melakukan penyemprotan disenfektan ditiap-tiap daerahnya masing-masing,

“Gerakan Penyemprotan Disenfektan ini minimal untuk memberikan ketenangan terhadap masyarakatnya dan rasa aman, agar tidak setres dengan adanya pandemi Covid-19 yang menakutkan ini, percuma adanya PPKM, tapi perut masyarakat jadi kelaparan, bisa-bisa mereka mati bukan karena covid-19 tapi karena kelaparan tidak bisa mencari nafkah,” tukasnya pula.

(Sinta/Bagdja)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *