Di Balik Sirene Damkar Banjar, Ada Petugas yang Waswas: Diky Agustaf Soroti Armada Tak Kunjung Terwujud

  • Whatsapp

BANJAR, media3.id – Di balik suara sirene yang meraung saat kendaraan pemadam kebakaran (Damkar) melaju menuju lokasi kejadian, ternyata tersimpan keresahan para petugas yang setiap hari berada di garis depan pelayanan masyarakat.

 

Read More

Keresahan itu dituangkan Diky Agustaf melalui sebuah surat terbuka yang mewakili suara insan Damkar Kota Banjar, Kamis (8/10/2026).

 

Dalam surat tersebut, Diky menyoroti kondisi armada Damkar yang menurutnya masih menjadi persoalan serius. Setiap kali menerima laporan kebakaran, petugas harus berpacu dengan waktu, namun di saat bersamaan dihantui kekhawatiran akan kondisi kendaraan yang digunakan.

 

“Sejujurnya dalam hati kami selalu merasa waswas disaat kami menerima laporan, takutnya kami tidak bisa melakukan amanah kami selaku pelayan masyarakat secara minimal,” ungkap Diky dalam tulisan nya, Kamis (8/10/2026) kepada awak media.

 

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam suratnya, ia menyebut hampir setiap kali melakukan respons terhadap kejadian kebakaran, terdapat saja armada Damkar yang mengalami kendala teknis.

 

Bagi petugas, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kendaraan operasional. Armada merupakan salah satu penunjang utama dalam memberikan respons cepat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

 

Petugas Siap Dimarahi, Asal Bisa Melayani

 

Diky juga menggambarkan posisi petugas Damkar yang berada di tengah tuntutan masyarakat.

 

Ketika respons dianggap lambat atau pelayanan tidak berjalan maksimal, petugas menjadi pihak pertama yang berhadapan langsung dengan warga.

 

Namun, menurut Diky, para petugas memahami kekecewaan tersebut.

 

“Kami dicaci oleh masyarakat, kami akan selalu menerima. Kami dimarahi di lapangan pun kami sabar menghadapinya. Toh memang masyarakat benar, saat ini kami belum bisa melakukan pelayanan yang memuaskan,” tulisnya.

 

Atas keterbatasan tersebut, Diky menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Kota Banjar.

 

Ia menegaskan bahwa para petugas tetap berupaya menjalankan tugas sebaik mungkin dengan kondisi yang ada.

 

Tiap Tahun Dibahas, Armada Baru Tak Kunjung Terwujud

 

Persoalan kemudian mengarah pada rencana pengadaan armada Damkar yang selama ini kembali muncul dalam pembahasan pemerintah daerah dan DPRD.

 

Diky mempertanyakan mengapa kebutuhan yang dinilai mendesak tersebut seolah terus berputar dalam pembahasan, tetapi belum kunjung menghasilkan kepastian.

 

“Hal ini selalu menjadi drama tiap tahun, tapi akhirnya semua hanya angan-angan yang tak pernah direalisasi,” tulisnya.

 

Ia juga mempertanyakan sejauh mana rekomendasi DPRD Kota Banjar kepada pihak eksekutif terkait pengadaan armada telah diperjuangkan.

 

Menurut Diky, berulangnya pembahasan tanpa kepastian realisasi membuat petugas merasa berada dalam kondisi yang tidak jelas.

 

Bahkan, ia mengaku kondisi tersebut sempat memunculkan pertanyaan dan prasangka di kalangan insan Damkar mengenai perhatian pemerintah terhadap keberadaan mereka.

 

“Apakah kami ini dianggap ada atau tidak? Dan dibutuhkan atau tidak dalam sebuah sistem pemerintahan?” tulisnya.

 

Bukan Ingin Bergaya dengan Mobil Baru

 

Diky menegaskan, tuntutan pengadaan armada bukan didasari keinginan petugas untuk mendapatkan kendaraan baru demi kenyamanan atau gengsi.

 

Menurutnya, kendaraan Damkar merupakan bagian dari kebutuhan pelayanan publik.

 

“Perlu diingat bahwa kami bukan ingin bergaya dengan mobil tersebut, melainkan hanya ingin melaksanakan amanah sebagai pelayan masyarakat yang telah menggaji kami melalui pajak-pajak yang dibayarkannya,” tulis Diky.

 

Ia berharap para pemangku kebijakan di Kota Banjar dapat memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan armada Damkar.

 

Diky juga berharap pembahasan mengenai pengadaan kendaraan tidak kembali berhenti pada wacana atau rekomendasi, melainkan berujung pada keputusan dan realisasi yang dapat memperkuat pelayanan kepada masyarakat.

 

Surat terbuka tersebut menjadi gambaran keresahan petugas yang selama ini berada di balik suara sirene dan berhadapan langsung dengan situasi darurat.

 

Kini pertanyaannya bukan lagi sekadar kapan armada baru dibahas, tetapi kapan kebutuhan tersebut benar-benar direalisasikan?

 

Sebab bagi petugas Damkar, kendaraan bukan soal bergaya. Ketika panggilan kebakaran datang, armada adalah salah satu bagian penting dari upaya mereka menjalankan amanah untuk menyelamatkan dan melayani masyarakat.

 

(Joe)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *