
Banyak orangtua di wilayah Jawa memilih menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus bersama dengan teman bermainnya. Alasannya sederhana, mereka meyakini si anak akan merasa aman, merasa dikenal, dan merasa tidak terasing.
Demikian dikemukakan Fatma Noor Ardyani, seorang pendidik di Kabupaten Magelang Jawa Tengah, Rabu (2/9/2026).
Namun sementara itu, lanjut Fatma, di kelas reguler perbedaan kebutuhan belajar sering menimbulkan tantangan. Ketika rapot disamakan, anak inklusi kerap tertinggal di aspek akademik dan orang tua merasa anaknya gagal.
“Padahal dari pengamatan di lapangan, senyatanya banyak siswa inklusi memiliki kekuatan pada beberapa aspek lain. Di antaranya kedisiplinan, empati, dan kepedulian yang kuat terhadap lingkungan,” ungkap Fatma.
Fatma mencontohkan salah seorang siswa bernama Zahra. Di kelas, Zahra seringkali tampak tertidur namun ia memiliki bakat luar biasa dalam hal menggambar. “Kami pun kemudian menerapkan metode belajarnya diadaptasi dengan memanfaatkan kemampuannya tersebut. Setiap materi pelajaran disampaikan, Zahra bertugas menggambarkannya di depan kelas. Kemudian teman-temannya menjelaskan gambar yang dibuat Zahra. Metode adaptif ini menciptakan kolaborasi belajar yang unik dan berkesesuaian dengan kapasitas anak,” terang Fatma.
Tantangan dalam Sistem Penilaian Tradisional
Menurut Fatma, Sistem Penilaian Konvensional yang berfokus pada pencapaian akademik standar seringkali tidak mampu menangkap seluruh potensi siswa berkebutuhan khusus. Standar yang sama diterapkan untuk semua siswa dapat menimbulkan rasa frustrasi bagi siswa yang memiliki gaya belajar atau kecepatan pemahaman yang berbeda. “Hal ini dapat menyebabkan kesenjangan persepsi antara pencapaian anak di sekolah dan pengakuan orang tua terhadap kemampuan unik anak mereka,” tandasnya.
Menggagas Model Rapot Inklusif
Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan model penilaian yang lebih adaptif dan inklusif. Model ini seharusnya tidak hanya mengukur hasil akademik, tetapi juga menghargai proses belajar, upaya yang dilakukan, serta pengembangan kompetensi non-akademik yang dimiliki siswa berkebutuhan khusus.
“Penggunaan portofolio karya siswa, catatan anekdotal guru tentang perkembangan sosial dan emosional, serta penilaian berbasis proyek yang memanfaatkan kekuatan unik siswa, dapat menjadi alternatif yang lebih baik,” terang Fatma.
Sebagaimana dicontohkannya melalui Penerapan Belajar Melalui Seni pada realitas keunggulan Zahra yang gemar menggambar, menunjukkan bagaimana kekuatan individu dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Dengan memberikan kesempatan kepada Zahra untuk mengekspresikan pemahamannya melalui seni visual, ia tidak hanya menjadi lebih terlibat dalam pembelajaran, namun juga menjadi model sumber belajar bagi teman-temannya.
“Hal ini menunjukkan bahwa penilaian inklusif dapat difokuskan pada bagaimana siswa menunjukkan pemahaman dan aplikasinya, bukan semata-mata pada hasil akhir yang seragam,” tandas Fatma.
Manfaat Penilaian Inklusif
Penerapan model rapot yang berbeda untuk siswa berkebutuhan khusus menawarkan berbagai manfaat, yakni (1) Meningkatkan Motivasi Belajar. Siswa merasa dihargai dan lebih termotivasi ketika kekuatan mereka diakui. (2) Mengurangi Stigma Negatif. Mengubah narasi kegagalan menjadi narasi keberhasilan dalam bidang yang berbeda. (3) Membangun Kepercayaan Diri. Siswa inklusi merasa lebih percaya diri karena kontribusi mereka dinilai. (4) Mendorong Kolaborasi. Mendorong siswa untuk belajar dari satu sama lain, seperti dalam kasus Zahra dan teman-temannya. (5) Memberikan Gambaran Holistik. Memberikan gambaran kepada orangtua dan guru pemahaman yang lebih lengkap tentang perkembangan siswa.
Langkah Selanjutnya Menuju Pendidikan Inklusif Sejati
Mengembangkan dan menerapkan model penilaian inklusif memerlukan kerjasama di antara pendidik, orangtua, dan pembuat kebijakan.
“Pelatihan bagi guru tentang strategi penilaian yang beragam, dukungan untuk adaptasi kurikulum, serta dialog terbuka mengenai kebutuhan setiap siswa adalah kunci keberhasilan. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan belajar di mana setiap siswa, terlepas dari latar belakang atau kebutuhannya, dapat berkembang dan menunjukkan potensi terbaik mereka,” pungkas Fatma.• (Shaleh Rudianto media3)






