KARAWANG, Media3.id– Pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA di Jawa Barat tahun 2026 diwarnai keluhan massal. Sistem aplikasi yang kerap bermasalah dan perubahan aturan zonasi yang dinilai tidak masuk akal membuat panitia pendaftaran di SMAN 1 Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, harus menguras tenaga dan pikiran.
Humas SMAN 1 Telukjambe Timur, Heni, mengaku pihak sekolah dibuat pusing oleh kendala teknis dan perubahan sistem yang mendadak. Masalah utama bersumber pada aplikasi SPMB yang sering mengalami gangguan (down) saat proses validasi data berlangsung.
“Saat validasi aplikasinya eror melulu, down. Baru bisa diakses beberapa menit, lalu down lagi,” ujar Heni saat ditemui di lingkungan sekolah, Selasa (9/6).
Selain server yang tidak stabil, ketidakakuratan sistem zonasi menjadi pemicu utama kebingungan masyarakat. SMAN 1 Telukjambe Timur secara geografis terletak di wilayah Desa Sirnabaya. Sesuai aturan baku, warga Desa Sirnabaya seharusnya masuk dalam kuota domisili utama dengan porsi besar, yakni 126 kursi. Sementara untuk wilayah penyangga, kuota yang disediakan hanya 60 kursi. Namun, kondisi di lapangan justru terbalik akibat kekacauan sistem digital.
“Di aplikasi banyak yang diperbarui. Sekolah kita itu ada di wilayah Desa Sirnabaya, harusnya masuk domisili, tapi di sistem kenapa tiba-tiba jadi penyangga. Sementara warga yang rumahnya jauh, malah masuk ke domisili,” keluh Heni.
Ketidakpastian sistem ini memicu gelombang protes. Puluhan orang tua murid mendatangi sekolah untuk menuntut kejelasan. Warga yang rumahnya hanya berjarak 300 hingga 400 meter dari sekolah merasa dirugikan karena status mereka berubah menjadi penyangga, sehingga posisi anak-anak mereka terancam tergeser dari kuota aman.
Pihak panitia sekolah berada di posisi dilematis karena harus menghadapi kekecewaan warga lokal akibat kesalahan sistem dari pusat.
“Kita bingung dan kasihan ke masyarakat. Pendaftar kliknya domisili, tapi jadinya ke penyangga. Mereka ke sini menanyakan kenapa anaknya masuk penyangga dan berada di urutan bawah (kuota 60), otomatis terancam tidak diterima,” tambahnya.
Beban panitia semakin berat mengingat tingginya antusiasme pendaftar. Hingga hari terakhir perpanjangan pendaftaran, SMAN 1 Telukjambe Timur mencatat total pendaftar telah menembus angka 1.126 siswa. Jumlah tersebut melonjak tajam dan berbanding jauh dari total daya tampung sekolah yang hanya menyediakan 420 kursi.
Melihat carut-marutnya proses tahun ini, pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat melakukan Perbaikan sistem aplikasi harus dilakukan secepatnya agar tidak merugikan hak-hak calon siswa, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar sekolah.
Dmn Hr






