
KOTA JOGJA (DIY), media3.id – Bertepatan dalam forum pembahasan serius tentang masa depan pendidikan di Yogyakarta, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengisyaratkan kemungkinan dirinya akan mengundurkan diri. Isyarat tersebut muncul saat Sultan menjelaskan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang kini menjadi dasar dalam program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).
Dalam forum Rakordal Triwulan I 2026 di Gedhong Pracimasana, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, pada Kamis 30 April 2026 lalu, Sultan menyampaikan bahwa dirinya ingin memastikan program PKJ benar-benar tuntas sebelum dirinya tidak lagi menjabat.
“Semakin tua, harapan saya hal-hal seperti itu sebelum saya mengundurkan diri, sudah selesai,” ungkapnya.
Pernyataan ini langsung memunculkan berbagai pertanyaan, mengingat masa suksesi Gubernur DIY masih akan berlangsung pada tahun 2027. Hingga saat ini, belum ada penjelasan lanjutan terkait maksud pernyataan tersebut.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang hadir mendampingi, mengaku tidak mengetahui konteks lebih jauh. Ia menyebut pembahasan saat itu memang fokus pada PKJ, bukan pada isu jabatan.
PKJ sendiri merupakan program besar yang telah dipersiapkan selama kurang lebih delapan tahun. Program ini resmi diluncurkan pada 4 Mei 2026 di SMA Negeri 6 Yogyakarta.
Program ini dirancang untuk diterapkan secara luas, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga masyarakat umum. Tujuannya bukan sekadar menambah mata pelajaran, tetapi membentuk karakter dan kesadaran hidup.
Akar utama dari PKJ adalah falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, ajaran luhur dari Sri Sultan Hamengku Buwono I. Filosofi ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Sultan menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar untuk tidak merusak alam dan menjaga harmoni kehidupan.
Selain itu, nilai-nilai kesatria juga menjadi bagian penting membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter, beretika, dan bertanggung jawab.
Menariknya, metode pembelajaran dalam PKJ tidak disampaikan secara kaku. Materi akan dikemas dalam bentuk animasi, cerita pendek, hingga film agar lebih mudah dipahami generasi muda. Sultan juga menyebut bahwa nilai-nilai tersebut sudah mulai diterapkan melalui karya seni seperti beksan atau tari, di antaranya Bedaya Sang Amawabhumi, Beksan Ajisaka, dan Beksan Punggawan.
Rakordal tersebut juga membahas investasi berkelanjutan di kawasan selatan, yang menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat dan akademisi. Realisasi investasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada triwulan I 2026 mencapai sekitar Rp2,01 triliun. Angka ini tercatat sebesar seperlima dari target investasi tahunan pada 2026 sebesar Rp10,48 triliun.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyebut investasi yang masuk ke DIY tidak hanya berasal dari proyek strategis nasional (PSN), tetapi juga sektor lain seperti perhotelan dan pertanian yang cenderung tumbuh lebih moderat.
“Ada yang investasi berkaitan dengan PSN juga iya. Ada yang tadi kan kalau kita lihat kan ada yang diakomodasi yang seperti perhotelan, yang seperti pertanian, dan seperti itu,” kata Made.
Selain itu, Pemda DIY juga mencatat masih terdapat 16 dari 17 Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang ditawarkan kepada investor. Beberapa di antaranya seperti Glamping Ngrenehan, Krakal Resort, Gunungkidul Resort, hingga Industri Garmen KPI Candirejo.• (Shaleh Rudianto media3)






