KARAWANG, Media3.id – Pengelolaan keuangan di Desa Kutamekar, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang kini tengah menjadi sorotan tajam. Bagaimana tidak, anggaran bernilai ratusan juta rupiah yang digelontorkan untuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Menembus Karya dan program ketahanan pangan diduga kuat mandul alias tidak menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes). Sabtu (16/05/26).
Berdasarkan data yang dihimpun, investasi terhadap BUMDes Menembus Karya dilakukan bertahap. Mulai dari penyertaan modal tahun 2020 sebesar Rp 50.000.000, tahun 2021 sebesar Rp 50.000.000, hingga melonjak tajam pada tahun 2025 dengan kucuran dana Rp 208.000.000.
Ironisnya, besarnya modal tersebut berbanding terbalik dengan kontribusinya terhadap kas desa. Setali tiga uang, program ketahanan pangan desa yang menelan total biaya hampir Rp 415 juta sejak tahun 2022 juga bernasib sama.
Tercatat, anggaran ketahanan pangan terserap untuk tiga program berturut-turut. Yakni Pengelolaan Budidaya Jagung Manis tahun 2022 (Rp 46.449.000), Budidaya Belut melalui Dana Desa (DDS) tahun 2023 (Rp 134.204.600), dan Budidaya Ternak Domba/Kambing (DDS) tahun 2024 (Rp 235.100.000). Totalitas anggaran fantastis ini justru nihil sumbangsih bagi pendapatan desa.
Sebelumnya saat dikonfirmasi, Sekretaris Desa Kutamekar, Dayat Darmana S.H., membenarkan minimnya kontribusi dari sektor-sektor tersebut. Ia menjelaskan bahwa pemasukan desa saat ini justru masih bergantung pada sewa sawah bengkok dan penyebrangan perahu yang berkontribusi ke PADes.
“Dari hasil sewa tanah (bengkok) dan penyeberangan perahu,” kata Dayat Darmana S.H kepada wartawan di kantor Desa Kutamekar, Rabu (11/03/2026) lalu.
Terkait bidang usaha BUMDes, Dayat membeberkan bahwa unit usaha yang dijalankan saat ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar warga. “Usahanya jual air bersih. Sumber airnya dari bawah tanah tapi kedalamannya sekitar 30 meteran,” jelasnya.
Namun, potret buram justru terlihat pada realisasi program ketahanan pangan terbaru senilai Rp 208.000.000 yang dialokasikan untuk budidaya ikan nila. Program tersebut menggunakan kolam buatan di atas lahan milik sebuah perusahaan swasta. Imbasnya, proyek pangan yang menelan uang rakyat ini kini nasibnya di ujung tanduk karena terancam digusur.
Reporter; Dmn Hr






