GEMI 0418 Cipageran Mampu Olah 20 Ton Sampah per Bulan, Enang Sahri : Ini Contoh Nyata Gerakan Warga

  • Whatsapp

Anggota Komisi III DPRD Kota Cimahi, H. Enang Sahri Lukmansyah (atas) saat meninjau lokasi pengelolaan sampah yang diolah menjadi Maggot (kiri bawah) sebagai pakan ikan lele (kanan bawah) yang menghasilkan produk lele goreng, nugget lele dan steak lele

CIMAHI, Media3.id – Anggota Komisi III DPRD Kota Cimahi, H. Enang Sahri Lukmansyah, melakukan kunjungan ke Komunitas Gerakan Ekonomi Mandiri (GEMI) 0418 yang dikenal aktif mengelola sampah rumah tangga menjadi maggot sebagai pakan ikan lele, yang berlokasi di Komplek Cipageran Asri, Jalan RD. Trincing Wesi Blok EF No. 16 RT 04 RW 18, Cipageran, Cimahi Utara, Kamis (13/11/2025).

Read More

 

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi terhadap inovasi masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi PR besar Kota Cimahi.

 

Dalam kesempatan tersebut, Enang Sahri menegaskan bahwa volume sampah di Cimahi masih sangat tinggi dan belum dapat tertangani secara tuntas.

Anggota Komisi III DPRD Kota Cimahi, H. Enang Sahri Lukmansyah (kanan) bersama Ketua GEMI 0418 Cipageran, Ir. Arief Purnomo (kiri)

“Cimahi ini kota kecil, tapi produksi sampahnya bisa mencapai 280 ton per hari. Sekarang sudah turun menjadi sekitar 230 ton, namun yang bisa dibuang ke TPA hanya 120–130 ton per hari. Masih ada sisa lebih dari 100 ton yang harus dikelola,” ujar Enang.

 

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah oleh masih rendahnya tingkat pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Padahal sekitar 60 persen sampah berasal dari sampah basah rumah tangga yang sebenarnya dapat diolah dan dimanfaatkan.

 

Enang menyebutkan bahwa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang ada di Cimahi, seperti di Santiong dan Lebak Saat, hanya mampu menangani maksimal 50 ton per hari, itupun belum pernah mencapai kapasitas penuh. Karena itu, inisiatif warga untuk mengelola sampah secara mandiri sangat dibutuhkan.

 

Dalam kunjungannya, Enang pun memberikan apresiasi tinggi kepada Komunitas GEMI 0418 Cipageran yang dipimpin oleh Ir. Arief Purnomo bersama para relawan lingkungan lainnya. Komunitas ini berhasil mengolah sampah organik rumah tangga menjadi maggot (larva Black Soldier Fly/BSF) atau larva lalat tentara hitam yang memiliki manfaat ganda sebagai pengurai sampah organik dan sumber protein tinggi untuk pakan ternak yang memiliki nilai ekonomi.

 

“Sampah keluarga itu kalau dipilah dan diolah bisa menghasilkan manfaat besar. Di sini, maggot bukan hanya membantu mengurangi sampah, tapi juga memberikan dampak ekonomi bagi warga,” katanya.

Mesin pengolah sampah (kanan bawah), tempat pengolah sampah menjadi maggot (kiri bawah), rumah produksi ikan lele (kanan atas)

Ia menilai bahwa model pengelolaan sampah berbasis komunitas seperti ini bisa menjadi contoh untuk wilayah lain di Cimahi. Selain mengurangi beban TPA, pengolahan maggot dapat menjadi peluang ekonomi masyarakat melalui penjualan pakan ternak seperti pakan ikan lele, ayam dan produk turunan lainnya.

 

“Lele, ayam, atau ternak lainnya yang diberi pakan maggot kualitasnya lebih baik karena maggot kaya akan nutrisi seperti protein, lemak, dan mineral penting,” jelasnya.

 

Enang Sahri kembali menegaskan pentingnya edukasi pemilahan sampah dari rumah sebagai langkah utama mengatasi persoalan sampah di Cimahi.

 

“Masyarakat sering komplain soal sampah, padahal akar persoalannya ada di rumah sendiri. Pilah sampah dari rumah adalah kunci keberhasilan pengelolaan sampah,” ungkapnya.

 

Ia berharap pemerintah kota dapat memperkuat kemitraan dengan komunitas-komunitas lingkungan seperti Komunitas GEMI 0418 Cipageran, agar inovasi warga bisa didukung dan berkembang lebih luas.

 

Sementara itu, Ketua GEMI 0418 Cipageran, Ir. Arief Purnomo, mengungkapkan bahwa komunitasnya kini telah mampu mengolah sekitar 20 ton sampah organik per bulan, dengan kapasitas optimal mencapai 30 ton.

 

Menurut Arief, sumber utama sampah yang diolah berasal dari dua RW di kawasan Cipageran, yaitu RW 10 dan RW 18, serta tambahan kiriman dari beberapa kelurahan lainnya.

 

Sedikitnya ada 400 Kepala Keluarga (KK) tercatat telah mendapatkan edukasi pemilahan sampah melalui program “Cimahi Barengras” (Bareng-bareng Kurangi Sampah) dan program “Awas Sikoma” (Kawasan Pengelolaan Sampah Menuju Sirkular Ekonomi Mandiri), program pengurangan sampah dan pengelolaan sampah yang digagas Pemerintah Kota Cimahi.

H. Enang Sahri bersama Arief Purnomo dan para relawan lingkungan lainnya

Arief menjelaskan, bahwa program Cimahi Barengras dan Awas Sikoma diluncurkan oleh Wali Kota Cimahi Ngatiyana saat itu. Dengan pendampingan anggota DPRD Kota Cimahi H. Enang Sahri Lukmansyah melalui program tersebut, warga dibekali edukasi pilah sampah dari rumah.

 

“Kami mengedukasi 400 KK di Komplek Cipageran Asri untuk pilah sampah dari rumah. Dinas Lingkungan Hidup juga memberikan fasilitas ember untuk setiap rumah. Setiap Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu sampah terpilah kami tarik,” terang Arief.

 

Awalnya komunitas hanya mampu mengelola sekitar 6 ton sampah per bulan, kemudian meningkat menjadi 12 ton, dan kini mencapai 20 hingga 30 ton per bulan.

 

Selain dua RW utama, komunitas juga menerima sampah dari warga wilayah lain seperti Cibabat dan Pasirkaliki. Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi rutin mengirim sampah terpilah.

 

“DLH setiap minggu mengirimkan sampah sekitar 2–3 ton per minggu, yang sudah digiling menjadi bubur organik. Pengiriman dilakukan tiga kali seminggu, yaitu Selasa, Kamis, dan Sabtu,” beber Arief.

 

Namun, ia menekankan bahwa sampah organik untuk komposting dan maggot sebaiknya tidak dicampur. Pasalnya, campuran keduanya dapat menurunkan kualitas pakan maggot dan menghambat budidaya.

 

Ia juga menyoroti masalah klasik yang membuat pengolahan sampah sulit maksimal, yaitu rendahnya kesadaran warga dalam memilah sampah.

 

“Karakter orang Indonesia itu suka buang sampah, tapi ketika diminta bertanggung jawab dengan memilah sampah, banyak yang tidak mau. Sampah organik yang bagus untuk maggot malah sering tercampur plastik dan sampah lain,” ungkapnya.

 

Padahal, maggot sangat efektif mengurangi volume sampah organik dan dapat menjadi komoditas bernilai ekonomi.

 

Arief menjelaskan pula mengenai kondisi TPA Sarimukti yang overkapasitas membuat ritase pembuangan sampah dari Cimahi sangat terbatas.

 

“Ritase kini dibatasi hanya 17 rit per hari, tidak sampai 100 ton yang bisa dibuang ke Sarimukti. Sementara produksi sampah Cimahi mencapai 230 ton per hari. Sisanya 130 ton harus diatasi oleh kita sendiri,” ulasnya.

 

Karena itu, peran komunitas pengelola sampah seperti Gemi 0418 Cipageran ini menjadi sangat penting untuk mengurangi beban TPA.

(Sinta)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *