Yudi Koodinator kelompok subtansi stabilisasi pasokan pangan Badan Bangan Nasional sedang menyampaikan sambutan di acara GERAKAN PANGAN MURAH dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan
KARAWANG, Media3.id- Badan Pangan Nasional saat ini sedang menyesuaikan harga beras disaat harga beras tak kunjung turun sejak awal tahun 2023 sampai saat ini. Untuk menyelesaikan harga, dan menekan lonjakan harga beras, Badan Pangan Nasional melalui Bulog melakukan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di pasar-pasar tradisional.
“Untuk harga beras memang saat ini Badan pangan Nasional sedang penyesuaian harga terkait dengan adanya kenaikan harga di lapangan. Nah ini memang kita coba cermati dan memang Bulog yang selama ini operator Badan Pangan Nasional itu nanti akan menjadi tim mitra kerja kami untuk menyalurkan beras SPHP,” kata Yudi Koodinator kelompok subtansi stabilisasi pasokan pangan Badan Bangan Nasional, Selasa (29/08/23).
Iapun menjelaskan, saat ini beras yang dijual Bulog guna menekan harga beras yang melambung masih menggunakan regulasi lama. Namun demikian kemungkinan besar diawal September 2023 sudah ada penyesuaian harga untuk penyaluran beras SPHP di Bulog.
“Saat ini beras SPHP itu memang sesuai masih menggunakan regulasi yang lama, namun kami di Badan Pangan Nasional sedang melakukan penyesuaian-penyesuaian harga mungkin nanti dalam waktu dekat pertanggal 1 September sudah ada penyesuaian harga untuk penyaluran beras SPHP di Bulog,” jelasnya
“Karena sebelumnya di zona 1 itu yang masih menggunakan harga eceran tertinggi sekitar Rp 9.450 itu mungkin akan disesuaikan dengan harga disekitaran Rp 10.500 untuk zona satu sesuai dengan masing wilayah karena nanti zona 1, zona 2 dan zona 3 harganya beda-beda,” jelasnya.
Yudi pun menjelaskan salah satu penyebab mahalnya harga beras dikarenakan adanya penurunan produksi nasional yang disebabkan oleh fenomena elmino sehingga berdampak pada produksi hasil padi secara nasional menurun.
“Tidak bisa dipungkiri kalau yang saat ini dengan adanya fenomena elnino itu memang terkoreksi terjadinya penurunan produksi Nasional. Nah ini memang suka atau tidak, mau atau tidak mau akan mempengaruhi jumlah produksi dari dalam negeri,” jelasnya
Iapun mengatakan penurunan hasil beras secara nasional yang tadinya mencapai 37 juta ton mengalami penurunan sebanyak 10% yaitu sekitar 33 juta ton “Berdasarkan pengamatan kami kurang lebih sekitar 10% atau dari 37 juta tons angka produksi nasional,” tuturnya.
Adapun langkah yang dilakukan Badan Pangan Nasional untuk menekan lonjakan harga beras, pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian nasional guna meningkatkan angka produksi selain itu bagaimana caranya agar ada embung-embung air dan saluran irigasi guna mengairi area pertanian.
Sebenarnya ini ranah dari teman-teman di kementerian teknis dalam hal ini ada di kementrian pertanian dalam meningkatkan angka produksi, namun demikian kita coba selalu berkoordinasi dengan kementerian teknis dalam kaitannya meningkatkan hasil produksi. Langkah selanjutnya bagaimana caranya kita membuat embung-embung kemudian saluran-saluran irigasi bisa tersalur dengan baik,” pungkasnya.
Laporan: Daman Huri






