Di Jogja, Ngethrift Jadi Tren Mahasiswa Dan Wisatawan 

  • Whatsapp

 

Salah satu sudut kawasan thrifting di XT Square Umbulharjo Kota Yogyakarta. (Foto: dok. Jogjatama)

Read More

YOGYAKARTA (DIY), media3.id- Selain dijadikan event, ngethrift juga dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Seperti di toko baju bekas impor di XT Square Umbulharjo, Alpen, baju-baju bekas didatangkan dari berbagai negara. Di antaranya Amerika, Yunani, Rusia, Korea, dan Jepang.

 

“Baju bekas tersebut dibeli hitungannya per bal atau 100 kg. Setelah kulakan baju-baju tersebut dipilah, dicuci, diberi pengharum, dan disetrika. Harga jualnya ada yang Rp15.000, Rp25.000”, terang seorang pegawai Alpen yang tak bersedia disebutkan namanya.

 

Sejak mulai buka di pertengahan 2021, lanjutnya, gerai Alpen selalu membukukan omzet (nilai penjualan; red) di kisaran Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per hari.

 

“Selain mahasiswa, banyak juga wisatawan grup secara rombongan bus datang ke sini langsung mampir berbelanja”, tambahnya.

 

Pusat Thrift Terbesar di Kota Yogyakarta berlokasi di XT Square, yang merupakan bekas gedung terminal bus Umbulharjo. Di sini terdapat banyak toko yang bisa menjadi pilihan untuk berbelanja baju-baju bekas berkualitas, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan “awul-awul”. Koleksinya juga terbilang lengkap dan tempatnya bersih.

 

Pada beberapa toko, bagi pengunjung terbuka kesempatan untuk melakukan tawar-menawar, alias harga tidak kaku dipatok.

 

Semakin canggihnya teknologi dan internet membuat thirft shop (gerai pakaian bekas) tidak hanya tersedia di toko fisik, tetapi juga di toko online.

Bahkan sekarang banyak diadakan acara festival thrift di berbagai kota besar di Indonesia sebagai wadah komunitas para penjual pakaian bekas.

 

Demikian dikemukakan Api Adyantari SA., MBA., dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jumat (17/3/2023).

 

Namun karena kepopuleran thrift shop, lanjutnya, kini yang memburu barang bekas tidak hanya yang ber-budget minim saja, melainkan konsumen menengah ke atas pun turut meramaikan.

 

“Terlebih sejak munculnya gaya berpakaian vintage dan retro. Alhasil, harga barang bekas naik cukup signifikan”, ulasnya.

 

Menurut Adyantari, selain menjadi tren, thrifting juga menjadi salah satu alternatif cara untuk menyelamatkan bumi dari efek negatif industri fast fashion.

 

Istilah fast fashion merupakan gambaran dari desain pakaian yang semakin cepat berubah karena untuk memenuhi tren terbaru.

 

Industri fast fashion mendorong masyarakat menjadi lebih konsumtif demi mengikuti tren fesyen terbaru.

Akibatnya, tumpukan limbah pakaian bekas pun tak terelakkan. Padahal kondisinya masih layak pakai.

Belum lagi limbah yang ditimbulkan dari proses produksi pakaian yang sulit terurai di alam.

 

Inilah mengapa, thrifting menjadi solusi berbelanja yang ramah lingkungan untuk meminimalisir limbah pakaian bekas. Bisa bergaya dengan budget terbatas, sekaligus menjaga kelestarian bumi kita.

Api Adyantari, SA.,MBA (Foto: dok. FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Namun konsep ramah lingkungan dari thrifting ternyata tidak melulu membawa dampak yang positif. Karena harganya yang terjangkau, thrifting dapat membuat masyarakat menjadi konsumtif.

 

“Tumpukan pakaian bekas (second hand cloth) yang tidak laku di pasaran, berikutnya juga akan berakhir menjadi jutaan ton limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bahayanya, limbah tekstil ini termasuk limbah yang sulit untuk diuraikan dan diproses”, pungkas Adyantari.

 

•(Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *