Ada ‘Uang Gentong’ Di Disdikpora Bantul, Korupsi Stadion Sultan Agung Bakal Seret Tersangka Lain

  • Whatsapp

 

Kuasa Hukum tersangka BNEW, Muhammad Taufiq, SH., saat memberikan keterangan kepada pewarta yang menemuinya di Lapas Wirogunan Kota Yogyakarta, Kamis (11/5/2023). (Foto: Rudi)

Read More

BANTUL (DIY), media3.id- Dugaan kasus penyelewengan dana perawatan Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, DIY, berawal dari temuan nota fiktif pembelian barang dan jasa untuk perawatan stadion tersebut. Salah satunya, seperti pengadaan peralatan kebersihan. Setelah didalami pada pemilik toko yang namanya tertera dalam nota tersebut, ternyata tidak merasa menjual barang ke Disdikpora Bantul.

 

Selain itu terdapat nota yang nilai nominalnya tidak sesuai dengan barang yang dibeli dari toko. Anggaran belanja langsung tersebut mencapai Rp.800 juta yang bersumber dari APBD Kabupaten Bantul periode 2020-2021.

 

Dugaan korupsi itu dicium oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul sejak Juni 2021. Penyidik menemukan bukti yang kuat, dan kemudian pada Agustus 2022 kasus dinaikkan ke tahap penyidikan.

 

“Dugaan awal penyimpangannya yang jelas karena ada nota fiktif, kemudian kami masuk [memeriksa] di situ,” kata Kasi Pidsus Kejari Bantul, Guntoro Jangkung.

 

Jangkung menjelaskan, nota fiktif tersebut adalah nota pembelian barang dan jasa untuk perawatan SSA seperti pengadaan barang langsung peralatan kebersihan. Namun, setelah ditelusuri, ternyata pemilik toko yang tertera dalam nota tersebut tidak merasa menjual barang ke Disdikpora. Selain itu ada juga nota yang nominalnya tidak sesuai dengan barang yang dibeli dari toko.

 

Hasil penelusuran menunjukkan kerugian negara sekitar Rp.170 juta.

 

“Anggaran belanja Rp 800 juta, tapi yang dibelanjakan Rp 170 juta atau yang sementara terbukti difiktifkan sejumlah itu. Itu menurut penghitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Jadi kerugian negara yang ditimbulkan dari kasus itu Rp 170 juta,” lanjut Guntoro.

 

Selanjutnya Kejaksaan Negeri Kabupaten Bantul menetapkan seorang PNS Disdikpora Bantul bernama Bagus Nur Edi Wijaya (BNEW) sebagai tersangka. Bagus berdinas pada Bagian Sub Koordinator Kelompok Substansi Kepemudaan, dan telah ditahan di Lapas Wirogunan Kota Yogyakarta sejak 4 Mei 2023.

 

Terkini, Kamis (11/5/2023) siang, tersangka Bagus menjalani pemeriksaan di Lapas Wirogunan Kota Yogyakarta tempat ia ditahan.

Kuasa Hukumnya, Dr. Muhammad Taufiq S., SH mengatakan, kliennya menjalani pemeriksaan selama 4 jam lebih mulai jam 09.30 hingga 13.30 WIB. Sedikitnya, kliennya menjawab 68 pertanyaan yang diajukan oleh tim Kejaksaan Negeri Bantul.

“Dalam pemeriksaan tadi, klien saya menyebut tidak pernah menyuruh T, staf honorer di bidang pembelian untuk  membuat nota fiktif. Di samping itu, juga mengaku tidak pernah menerima fee dari toko-toko tempat membeli barang,” ungkap Taufiq.

 

Menurut Taufiq, peran T justru sangat dominan, dia yang bertransaksi langsung, datang ke toko-toko. Klien saya juga tidak mengetahui mekanisme penetapan dirinya menjadi tersangka.

 

Disinggung soal besaran nilai kerugian, Taufiq mengatakan terdapat beberapa kegiatan pemeliharaan lapangan, baik Stadion Sultan Agung (SSA) maupun lapangan yang lain, namun tidak dianggarkan. Dan uang tersebut kemudian di switch (dipergunakan) ke kegiatan pemeliharaan lainnya yang belum teranggarkan.

 

“Ini yang uang tadi itu di-switch-kan ke situ [pekerjaan perawatan lainnya], antara lain untuk beli pasir, semen, untuk area yang di sudut lapangan dan sebagainya itu. Tak cukup sampai di situ, karena ternyata uang tersebut juga sebagian ditinggalkan di Disdikpora. Karena dalam sebuah kegiatan atau proyek di Disdikpora, klien saya mengungkapkan di Disdikpora ada istilah ‘uang gentong’ atau uang yang harus ditinggalkan kepada dinas begitu itu,” terang Taufiq.

 

Taufiq juga menandaskan bahwa korupsi tidak mungkin dilakukan seorang diri, sehingga menurutnya dipastikan ada orang lain yang terlibat.

 

“Saya tidak bisa menyebutkannya siapa sosok yang bisa jadi tersangka,”ucapnya.

 

Rencananya, pekan depan ia akan menghadirkan 5 orang saksi meringankan untuk diperiksa oleh Tim Kejaksaan Negeri Bantul.

 

“Mereka berasal dari buruh harian lepas, serta orang yang memasang net, yang net tersebut dibeli menggunakan uang belanja yang tidak dianggarkan,” pungkas Taufiq.

 

•(Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *