Bukan Lagi Undang-Undang, Kini Ber-Uang Jadi Aturan Berlalulintas

  • Whatsapp

 

JOGJA (DIY), media3.id – Negara Sudah Rusak, peraturan sudah bukan lagi dasar dalam berlalulintas, tetapi kekayaan yang jadi standar Uutamanya.

Demikian keluhan Slamet kemarin sore, Jumat (4/9/2026), di selasar sebuah wedangan.

Seiring langit Kota Jogja sore itu berwarna merah syahdu, kendati bukan lantaran matahari.  Tetapi oleh sebab asap knalpot brong dari 3 motor yang saling kebut di Jalan Malioboro. Lampu merah nyala, namun mereka tetap nyelonong sambil membunyikan klakson panjang, dan  berteriak “Minggir woi!” terhadap pengguna jalan lainnya.

Peziarah, turis, mahasiswa… semua minggir mengalah. Karena di kota ini, yang menang bukanlah yang benar, tetapi Yang Menang adalah pihak yang paling berisik dan paling mahal motornya.

“Aku Slamet. Umurku 26 tahun. Kerja sebagai driver ojek online. Setiap hari aku hafal 3 hal, yakni jalan tikus, jam razia polisi, dan wajah-wajah yang terlarang ditegur,” aku Slamet memulai berkisah kepada media3.id.

Dulu, lanjut dia, waktu baru mendapat SIM aku merasa bangga. Ujian praktik 3 kali gagal. Yang ke-4 aku lolos setelah nembak 800 ribu rupiah lewat calo. Katanya biar cepat. Katanya semua orang juga gitu.

“Waktu itu aku mikir: Ya sudahlah, yang penting bisa tetap cari makan. Tapi ternyata itu awal dari rusaknya semua hal. Hari ini aku melihat sendiri, sebuah Pajero putih plat nomor cantik nerobos jalur lambat dengan arogan. Aparat pospol cuma lihat, terus nunduk main HP,” ungkap Slamet.

Tak hanya itu, kata Slamet. Ada juga anak sekolah SMA naik NMAX knalpot racing, melaju zig-zag, hampir nyerempet nenek-nenek di tepian jalan. Pas mau ditilang oleh polisi, 5 menit kemudian dia telpon ke seseorang yang disebutnya “Pakde Bintang”. SIM pun dilepas, dan dia pergi sambil tertawa.

Peristiwa ketiga hari ini tadi, sambung Slamet, di perempatan ada mobil mewah yang berhenti sembarangan di zebra cross. Pengendara lain ada yang bertanya “Milik siapa?”. Dijawab oleh polisi yang bertugas di perempatan itu “Milik bos kontraktor, juga legislatif pak. Biarin aja.”

“Sejak itu aku diam. Negara sudah rusak. ATURAN sudah bukan lagi pedoman dalam berlalu-lintas, tapi kekayaanlah pedoman utamanya,” tandas Slamet.

Lebih lanjut Slamet menandaskan: Punya duit jadi yang punya jalan, punya jabatan jadi yang punya hak tabrak lampu merah (ngeblong), dan punya follower banyak jadi yang bisa upload searogannya dan justru dibilang “punya ciri khas”.

“Yang nurut aturan? Kami. Ya kami… .   Kami yang berhenti di lampu merah 30 detik, disalip, dimaki, hampir ditabrak dari belakang. Kami yang platnya biasa, motornya kredit, helmnya 50 ribuan beli di marketplace yang kalau kena angin kacanya oblak-oblak kayak mau lepas. Kami yang kalau salah dikit langsung ditilang, disita, didenda,” tukas Slamet.

Selain Slamet, ada Satria. Juga driver ojol Jogja. “Malam tadi aku ngantar penumpang. Mahasiswa.  Dia tanya sambil nunjuk pemuda yang ugal-ugalan: “Bang, mereka nggak takut ditilang?”,” kisah Satria.

Aku jawab: “Takut, Mas. Tapi mereka punya kartu ‘bebas tilang’ yang namanya orang dalam.”

Penumpangku diam sejenak, lalu dia berkata: “Berarti SIM-ku yang aku ujian beneran ini… nggak ada harganya ya Bang?”

Aku nggak menjawab. Karena jawabannya tunggal dan pasti: iya.

Jogja yang dulu tertib, sekarang kayak arena. Yang kuat yang menang. Yang kaya yang benar. Rambu hanya pajangan. Polisi hanya formalitas. Nyawa hanya angka di berita.

Pun suatu hari nanti anak-anak Sekolah Dasar harus takut jalan kaki di trotoar karena tiba-tiba ada kendaraan melaju pula di trotoar.

“Aku capek.  Capek jadi orang benar di negara yang mentertawakan orang benar.  Karena jaman sekarang, untuk di jalanan, SIM bisa dibeli. Hukum bisa disewa. Bahkan nyawa orang miskin harganya lebih murah dari ongkos ganti spion mobil Alphard,” keluh Slamet dan Satria senada.• (A.N.K/ Shaleh Rudianto media3)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *