Budayawan
BANJAR, media3.id – Pertunjukan seni tradisional dan tari-tarian mewarnai kemeriahan acara Syukuran Hajat Bumi di RT 03 RW 22 Lembur Sumanding Wetan, Kota Banjar. Kegiatan yang mengusung tema “Ngerawat Tradisi, Ngariksa Toleransi, Ngawangun Lembur Sumanding Wetan anu Sabilulungan” itu menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar budayawan dari berbagai daerah.
Ketua pelaksana, Syarif Nur Hidayatullah atau yang akrab disapa Romo Syarif, mengatakan kegiatan Hajat Bumi tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, panitia menghadirkan konsep seni lintas daerah dengan melibatkan para seniman dan budayawan dari Jawa Barat hingga Jawa Tengah.
“Kami menghadirkan seni lintas daerah untuk mempererat silaturahmi. Tahun ini ada budayawan dari Dieng, Magelang, dan Yogyakarta yang ikut memeriahkan acara. Besok mereka akan tampil membawakan kesenian angguk untuk menghibur masyarakat,” ujar Romo Syarif. Jumat (3/7/2026) kepada awak media.
Ia menjelaskan, Hajat Bumi merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diberikan, sekaligus ungkapan terima kasih terhadap bumi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Intinya kami ingin bertasyakur binikmat. Apa yang kita pijak, apa yang kita makan dari tanah ini, semuanya harus kita syukuri,” katanya.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari dengan menampilkan beragam kesenian tradisional. Pada malam pembukaan digelar tari jaipong, pencak silat, serta pertunjukan orkestra dari Sang Manarah.
Sementara pada hari kedua, masyarakat disuguhkan atraksi pencak silat dari PSSI Kota Banjar, dilanjutkan pertunjukan seni angguk khas kawasan Gunung Dieng, Jawa Tengah. Pada malam harinya ditampilkan tari-tarian anak-anak serta kesenian ronggeng.
Puncak acara pada hari Minggu akan ditutup dengan pertunjukan eblak dan kuda lumping yang menjadi daya tarik utama bagi masyarakat.
Romo Syarif berharap kegiatan Hajat Bumi tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah dan budaya leluhur.
“Harapan kami, generasi penerus tidak buta terhadap sejarah, budaya, dan warisan leluhur. Tradisi ini harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya.
(Jo)






