Dua Belas Paguyuban Gelar Labuhan Ageng Kanjeng Ratu Segoro Kidul

  • Whatsapp

BANTUL (DIY), media3.id – Bersama dengan sebelas paguyuban budaya se- Jawa Tengah dan DIY, Yayasan Royal Nusantara Agung menyelenggarakan Labuhan Ageng Kanjeng Ratu Segara Kidul pada Minggu 31 Mei 2026 di Pantai Parangkusumo, Bantul, DI Yogyakarta, bertepatan dengan malam purnama sidi.

Pantai Parangkusumo dianggap merupakan gerbang utama menuju Keraton Gaib Laut Selatan (Segara Kidul; red), kerajaannya Nyi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan (Samudera Hindia).

Rangkaian acara Labuhan Ageng dimulai dari pelataran Cempuri Parangkusumo, disertai kirab budaya bersama 40 Senopati Agung yang diiringi oleh sejumlah pemerhati budaya dari kesebelas paguyuban budaya pendukung.

Tampak hadir kesebelas Paguyuban Budaya yang mendukung gelaran Labuhan Ageng, yakni Kedhaton Mataram Agung, Paguyuban Kolocokro, Paseduluran Nata Dharma Mustikaning Laku, Ikatan Paritrana Indonesia, Paseban Nusantara, Sekar Jiwo, MLKI Kota Semarang, Federasi Karate Nasional Indonesia, Paguyuban Penghayatan Noormanto, Paguyuban Gunung Suro, dan Yayasan Dian permata Surabaya.

Menurut Abdi Dalem Juru Kunci Petilasan Pemancingan Parangkusumo, Mas Bekel Suraksa Trirejo,  Labuhan Ageng merupakan ritual pemberian pakaian (caos ageman; red) kepada Nyi Rara Kidul, ratu Pantai Selatan.

“Prosesi ritual diawali dengan serah terima bahan ritual berupa sejumlah kain melalui juru kunci Dusun Pamancingan, yakni abdi dalem penjaga. Juru kunci Dusun Pamancingan adalah abdi dalem yang bertugas menjaga tempat petilasan Karaton Yogyakarta di wilayah Pamancingan,” kata Mas Bekel Suraksa Trirejo.

Abdi Dalem Juru Kunci Petilasan Pemancingan Parangkusuma, Mas Bekel Suraksa Trirejo. (Foto: dok. Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat)

Selanjutnya, kain-kain tersebut dibawa ke joglo di area Pantai Parangkusumo, di atas tiga anyaman bambu yang lazim disebut ancak. Ketiga ancak tersebut kemudian dibawa ke dalam Cepuri Parangkusumo yang dianggap sebagai pintu gerbang antara Keraton dan Pantai Selatan.

“Tempat tersebut juga dipercaya sebagai lokasi bertemunya Raja Mataram pertama, Pangeran Senopati dengan Nyi Rara Kidul. Di Cepuri Parangkusumo, para abdi dalem meminta ijin pada Nyi Rara Kidul untuk melakukan kegiatan Labuhan Ageng. Setelah itu, abdi dalem membawa ketiga ancak tersebut dan melarungnya di laut,” terang Mas Bekel Suraksa Trirejo.

Pada kesempatan yang sama, Juru Kunci Dusun Pamancingan menyebutkan bahwa kain yang disampaikan berupa jarik dan semekan. “Bentuk kainnya ada yang berwujud jarik dan semekan (kemben; red),” kata Juru Kunci Dusun Pamancingan, Mas Ngabehi Suratso Maryanto.

Selain kain, lanjutnya, sajen turut dipersiapkan untuk proses Labuhan Ageng. Terdapat pisang mas, ketan salak, bunga, dan tumpeng urubing damar.• (Shaleh Rudianto media3)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *