RSUD Karawang: Era dr. Fitra Banjir Fasilitas, Era dr. Andri Eskalator Berubah Jadi Pajangan Tali
KARAWANG, Media3.id- Anggaran ratusan juta rupiah milik rakyat disinyalir kuat terbuang mubazir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang. Fasilitas mewah berupa eskalator yang dibangun demi memanjakan pasien di rumah sakit rujukan tipe B tersebut, kini tak lagi dipungsikan
Ironisnya, fasilitas publik ini dibangun dengan dana fantastis pada masa kepemimpinan Plt Direktur RSUD, dr. Fitra Hergyana, Sp.DVE, M.H.Kes., M.M. Proyek mentereng yang awalnya digadang-gadang sebagai simbol pelayanan prima pada rumah sakit kelas tipe B itu kini justru berubah menjadi nestapa bagi warga yang berobat.
Namun kini ditangan direktur baru, dr. Andri Sariful Alam, Sp.OT, MARS, eskalator tersebut mendadak lumpuh. Dampaknya, pasien yang sedang sakit, lemas, bahkan lansia yang seharusnya mendapat pelayanan premium standar rumah sakit tipe B terpaksa harus menguras sisa tenaga mereka untuk merangkak naik ke lantai dua menggunakan tangga manual.
Sebagai rumah sakit umum daerah dengan kualifikasi Kelas Tipe B, RSUD Karawang seharusnya mengacu pada pedoman teknis kementerian kesehatan terkait sarana dan prasarana penunjang medis. Rumah sakit tipe B dituntut memberikan pelayanan premium, termasuk penyediaan fasilitas aksesibilitas yang aman bagi pasien, lansia, dan penyandang disabilitas baik berupa ram, lift, maupun eskalator
Sementara di RSUD Karawang Jalur eskalator kini dipagari seutas tali pembatas di lantai bawah, mengukuhkan statusnya sebagai “pajangan” mati. Kondisi ini langsung memicu gelombang kecurigaan dan aroma tak sedap di tengah masyarakat. Publik kini bertanya-tanya: Apakah fasilitas ini sengaja dimatikan demi efisiensi, ataukah ada bobrok manajemen di baliknya?
Dugaan adanya kejanggalan semakin menguat mengingat RSUD Karawang kelas tipe B ini rutin menyedot anggaran pemeliharaan yang besar setiap tahunnya. Ke mana larinya aliran dana pemeliharaan tersebut jika eskalator saja dibiarkan mati?
Sayangnya, pihak RSUD Karawang memilih bungkam seribu bahasa dan terkesan menutup-nutupi persoalan ini. Upaya konfirmasi yang dilayangkan awak media melalui pesan WhatsApp kepada Humas RSUD Karawang, Abdullah Luthfi, sama sekali tidak direspons hingga berita ini tayang. Sikap tertutup pihak manajemen ini kian mempertebal misteri di balik matinya proyek ratusan juta tersebut.
(DH)






