KARAWANG, media3.id – Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat (Jabar) berencana akan membangun 1000 rumah panggung di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang salah satu upaya mengatasi banjir di Karangligar.
Namun wacana akan dibangunnya rumah panggung oleh gubernur Jabar ternyata menjadi tanda tanya masyarakat Karangligar karena Dedi Mulyadi belum menjelaskan secara rinci apakah rumah warga yang kebanjiran akan dirobohkan dan dibangun kembali menjadi rumah panggung atau sebaliknya pemprov Jabar membangun rumah panggung di tempat lain (relokasi).
Seperti yang diungkapkan Sari salah satu ibu rumah tangga yang rumahnya kebanjiran. Sari mengaku bingung apa yang di sampaikan oleh Dedi Mulyadi soal 1000 rumah panggung untuk warga korban banjir di desa Karangligar.
Sari tak menolak bila dibangunkan rumah panggung oleh Dedi Mulyadi sebagai salah satu upaya solusi mengatasi banjir, namun demikian ia akan menolak bila rumah hasil jerih payahnya miliknya dibongkar dan diganti menjadi rumah panggung.
“Saya bingung, soalnya rumah saya permanen terus dibongkar mungkin gitu ya lalu dijadikan rumah panggung. Kalau itu saya bingung karena rumah saya sudah permanen yang jelas saya menolak,” kata Sari, Rabu (05/03/25).
Sari menjelaskan, ia setuju bila rumah panggung dibangun di tempat lain untuk tempat pengungsian warga disaat bencana banjir datang, sehingga warga yang terkena dampak banjir bisa tinggal di rumah panggung dan tidak seperti sekarang tidur di emperan.
“Saya kira buat pengungsian lalu rumahnya dipanggung sehingga saat mengungsi tidak seperti sekarang di emperan atau direlokasi ke tempat lain yang rumahnya di panggung. Kalau itu saya setuju,” jelasnya.
“Kalau rumah saya dibongkar lalu dibangun kembali menjadi rumah panggung, saya tidak setuju karena rumah saya sudah permanen,”
Adapun alasannya ia menolak rumahnya dibongkar dijadikan rumah panggung karena sayang hasil jerih payahnya karena membangun rumah menghabiskan uang yang tidak sedikit. Namun tak menampik, mungkin ada juga yang setuju rumahnya dibongkar dijadikan rumah panggung akan tetapi bagi yang rumahnya permanen kemungkinan menolak karena membangun rumah tidak sedikit mengeluarkan biaya
“Kalau rumah saya dibongkar lalu dibangun kembali jadi rumah panggung tentunya tidak setuju karena rumah saya sudah permanen. Ya mungkin ada juga yang setuju rumahnya dirubah jadi rumah panggung tapi kalau rumahnya sudah permanen tidak setuju karena membangun rumah itu tidak sedikit menghabiskan uang,” kata Sari.
Sari berharap pemerintah darah provinsi bukan saja membangun rumah di tempat lain sebagai relokasi namun ia lebih berharap bila pemerintah membangun waduk atau bendungan sebagai upaya pencegahan banjir yang kini kerap melanda. Sejak tahun 2007 sampai saat ini.
Reporter: Daman Huri






