Lato Lato, Mainan Kuno Yang Bisa Kembalikan Rasa Bersosial Anak 

  • Whatsapp

 

 

Read More

YOGYAKARTA (DIY), media3.id- Lato Lato kembali populer saat ini. Setidaknya semenjak dimainkan oleh Presiden Joko Widodo bersama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat berkunjung ke Kabupaten Subang beberapa waktu lalu.

 

Mainan kuno era 1960-an yang berasal dari Amerika ini juga memiliki nama lain Nok Nok dan Click Clack. Dua puluh tahun kemudian, pada 1980-an mulai dikenal masyarakat Indonesia. Penamaan Lato-Lato ini berasal dari Bahasa Bugis, Makassar yang artinya adalah bunyi tabrakan dari dua bola kecil.

 

Namun pada awalnya permainan Lato Lato sempat dilarang oleh Toy Protection and Safety Act di Amerika, mengingat suaranya yang menimbulkan kegaduhan sehingga mengganggu ketenangan, dan mengakibatkan luka terhadap pemainnya saat dimainkan secara cepat.

 

Melihat fenomena ini, Psikolog UGM, Prof. Drs. Koentjoro, M.BSc., Ph.D., Psikolog., memberikan tanggapannya. Koentjoro menyebutkan ada sisi positif yang perlu dipahami oleh masyarakat terkait permainan Lato Lato bagi anak-anak. Salah satunya adalah mengurangi ketergantungan anak untuk bermain gawai [gadget].

 

“Segi positifnya ketergantungan anak pada handphone (HP) jadi berkurang. Dulunya waktu untuk main HP sekarang ke Lato Lato. Melalui permainan Lato Lato, anak-anak dapat melatih konsentrasi, ketangkasan fisik, kepercayaan diri, sosialisasi, dan lainnya,” jelas Koentjoro, Selasa (10/1/2023).

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Profesor Drs. Koentjoro M.BSc., Ph.D. Psi. (tengah) dalam sebuah sesi kuliah umum (studium generale). (Foto: Fakultas Psikologi UGM)

Terkait Lato Lato yang melukai anak-anak ketika memainkannya, Koentjoro menyampaikan bahwa kehadiran orang tua dalam hal ini menjadi sangat penting. Menurutnya, peran orang tua menjadi krusial untuk memberikan pemahaman atau mengedukasi anak-anak terkait cara, aturan, hingga bahaya dari setiap permainan yang dimainkan, termasuk Lato Lato.

 

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini juga kurang setuju jika sekolah melarang Lato Lato. Sekolah disini juga memiliki peran untuk memberikan pengertian pada siswanya akan aturan dan cara bermain Lato Lato yang aman dan tidak mengganggu lingkungan.

 

Menurut Koentjoro, sekolah justru bisa mengambil peran menjadi fasilitator bagi anak dalam menyalurkan hobi bermain Lato Lato. Misalnya dengan menyelenggarakan lomba Lato Lato yang tidak hanya sebagai sarana menampung hobi anak, tetapi juga mengajarkan bagaimana bermain secara jujur dan sportif.

“Sekolah bisa mengambil peran mengingatkan. Bukan hanya sekedar melarang karena berbahaya atau membiarkan saja, namun anak-anak diingatkan bahaya Lato Lato bagi diri sendiri dan orang lain, serta kapan bisa bermain agar peka terhadap lingkungan,”terang Koentjoro.

 

Cara aman memainkan Lato Lato yakni dengan memegang di titik tengah tali pegangan secara kuat. Kemudian ayunkan bola secara ke atas dan ke bawah, dan buatlah bola beradu dengan ritme dari pelan hingga cepat. Selanjutnya jika sudah terbiasa dan menemukan pola ayunan, maka ritme kecepatan bisa ditingkatkan.

 

Terakhir, jaga keseimbangan pola gerak bola dan selalu fokus pada permainan.

• (Shaleh Rudianto)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *