Bandung, Media3.id – Indonesia terus memaksimalkan upaya menekan penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Pemerintah pun menerapkan lima langkah utama sebagai strategi kebijakan multilevel. Hal itu dilakukan untuk membatasi penyebaran wabah sekaligus melindungi perbatasan antar kota dalam negeri maupun negara.
Lima langkah tersebut, yakni penerapan biosekuriti yang ketat, diisnfeksi (dekontaminasi hewan), Area, Peralatan dan Manusia dan dan keluar peternakan serta mengawasi kawasan rawan PMK.
Langkah selanjutnya adalah pengobatan bagi hewan ternak yang terinfeksi PMK. Pemulihan menggunakan obat-obatan dan vitamin ini penting untuk gejala klinis yang muncul sekaligus bisa meningkatkan kekebalan dan stamina ternak.
Kemudian ada pengujian dari strategi PMK. Untuk mengonfirmasi virus PMK, diperlukan pendeteksi menggunakan teknologi RT-PCR yang dilakukan pada jaringan lab Kementan.
Koordinator Tim Pakar Satgas PMK Prof Wiku Adisasmito mengatakan, strategi lainnya yakni melakukan vaksinasi terhadap hewan. Hal itu untuk pencegahan melalui sistem kekebalan hewan.
Vaksinasi ini diprioritaskan untuk ternak sehat dalam zona merah dan kuning. Pada wilayah dengan statu hijau, diberlakukan biosekuriti agar kawasan itu bisa terbebas PMK tanpa vaksinasi.
Terakhir adalah pemotongan hewan terpapar PMK. Pemotongan dilakukan sesuai persyaratan penanganan PMK untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit tersebut di daerah-daerah yang angka kasusnya masih sedikit.
“Ini kebijakan bertahap, bertingkat dan berlanjut dari pemerintah Indonesia. Sistem surveilans dan biosecurity masih berlaku sampai Indonesia pulih sepenuhnya dari penyebaran PMK,” kata Wiku.
Sementara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta masyarakat untuk tidak khawatir terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan kurban.
Kang Emil sapaan Ridwan Kamil memastikan penanganan terhadap infeksi virus PMK di Jabar dilakukan dengan maksimal. Salah satunya dengan mempercepat vaksinasi.
“Masyarakat Jabar tetap tenang, penanganan PMK hewan di Jabar tertangani dengan baik menjelang Iduladha bulan depan, jangan khawatir,” kata Kang Emil.
Ia menjelaskan, pelaksanaan vaksinasi PMK pada hewan ternak di Jabar dilakukan tiga tahap yakni suntikan pertama, kedua, dan booster.
“Sama seperti vaksinasi COVID-19 suntikan pertama, kedua dan booster,” ucap Kang Emil.
Bagi hewan ternak yang sudah diperiksa sehat dan cukup umur, kata Kang Emil, akan diberikan sertifikat yang dipasangkan pada leher hewan. Hal itu menandakan bahwa hewan tersebut sehat dan siap untuk dikonsumsi.
“Semua yang sehat akan dikasih sertifikat yang bisa dicek menggunakan handphone. Jadi nanti di setiap kuping sapi sehat bisa di-scan barcode-nya, menandakan itu siap untuk dilakukan kegiatan khususnya untuk sapi potong,” tandasnya.






