Masalah Anggaran Refocusing Covid-19 Sudah Dibahas Dengan Bangar

  • Whatsapp

Ahmad Nuryana Asisten II mantan Kepala Plt BKAD Kota Cimahi.

CIMAHI, MEDIA3.ID – Terkait masalah anggaran Refocusing Covid-19 yang tidak transparan dalam penggunaannya, yang jadi polemik di jajaran anggota Dewan Perwakilan Ralyat Daerah (DPRD) Kota Cimahi.

Menurut mantan Plt Badan Keuangan, Asset Daerah (BKAD) Ahmad Nuryana, saat dikonfirmasi diruangan kerjanya Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi Senin (22/02)2021).

Bahwa pihaknya sudah transparan dan sering berkomunikasi dan dibahas evaluasi masalah anggaran Refocusing Covid-19, terkait penggunaannya anggaran tersebut dengan Bagian Anggaran (Bangar) DPRD Kota Cimahi.

Bahkan kata Ahmad pihaknya sudah menjelaskan laporan Anggaran tersebut secara rinci dana Refocusing Covid-19 dipakai untuk apa saja.

Tidak hanya itu saja, Ketua DPRD Ir. Ahmad Zulkarnain, MT pun sudah mengetahui masalah penggunaan anggaran tersebut.

“Itu semua sudah saya laporkan kepada pihak Bangar, kalau ada yang belum tahu, mungkin beliau lupa atau saat evaluasi tidak hadir,” ujar Ahmad.

“Karena saya mantan Plt BPKAD, yang sekarang dijabat secara definitif oleh Ibu Rini, karena beliau kurang tahu permasalahan ini, baiklah akan saya jelaskan,” papar Ahmad kembali.

Menurut Ahmad pada intinya, “Bahwa Anggaran Refocusing Covid-19, tahun 2020 ini merupakan intruksi dari pusat, bahkan minimal itu 50 % dari anggaran belanja modal dan belanja jasa,” katanya.

Karena pemkot, kata Ahmad tidak mampu, dan hanya mampu 20 % akhirnya oleh pusat ditahan Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 14 Milyar.

“Itupun sampai ramai di Medsos dan di media, bahwa anggran DAU kita ditahan di pusat sebesar Rp 14 Milyar,” ungkap Ahmad.

“Padahal bukan itu, karena kita refocusingnya tidak terlalu banyak, tidak sesuai dengan yang diintruksikan dari Mentri Keuangan, karena DAU kita ditahan, akhirnya kita buat kembali Refocusing yang kedua, sehingga angkanya mencapai 35% akhirnya keluarlah angka sebesar 195 Milyar,” paparnya.

Tidak hanya itu saja, kata Ahmad pula, dalam refocusing yang kedua, kalau dibandingkan dengan daerah lain Cimahi anggaran Refocusingnya paling tinggi,

“Karena apa, karena kita belanja modal dengan belanja pegawai lebih tinggi, karena kalau di daerah lain, belanja pegawailah yang paling tinggi, sehingga pembaginya juga sedikit, kalau kita belanja modal dan jasanya saja sudah lebih 60%,”

Ditambahkan oleh Ahmad, setelah diajukan kembali ke pusat, pihak pusat dibulan selanjutnya pihak pusat memberikan kekurangannya yang 14 Milyar yang selama ini ditahan oleh pusat.

“Karena Refocusingnya kurang, jadi, pihak pusat mengintruksikan masalah penanganan Covid itu harus melalui daerah, jadi jangan hanya beban pusat saja, maka diarahkanlah untuk kegiatan kesehatan, bansos, dan pemulihan ekonomi, tiga item,” ulasnya.

Sedangkan anggaran yang 195 Milyar tersebut yang diserap baru 77 Milyar, kata Ahmad berdasarkan permintaan dari masing-masing Struktur Organisasi Perangkat Daerah (SOPD).

Seperti permintaan dari Dinas Kesehatan digunakan untuk pembelian Alat Pelindung Diri (APD) Asmat, Handytizer, Masker, dan Isolasi yang terpapar Covid-19.

Sedangkan dari Dinas Pangan dan Pertanian digunakan untuk Bantuan sosial beras bansos,

“Juga dari Dinas Koperasi, perdagangan dan Industri (Diskoperin) mie instan, dari Diskominfoarpus, tidak besar hanya untuk spanduk, dan dari Satpol-PP untuk masalah PSBB,” tuturnya.

Jadi masalah sisa dari anggaran Refocusing tersebut, jelas Ahmad kembali, semua sisanya dimasukan ke kas daerah, dan dianggarkan ke Silva Anggaran Pendapatan Daerah (APBD) 2021.

“Anggaran yang terserap paling besar adalah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat,” pungkasnya.

(Sinta/Bagdja)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *