Konten Kreator Asal Kota Banjar M Jafar Sidiq Buktikan Anak Daerah Bisa Bersaing di Jakarta

  • Whatsapp

Muhamad Jafar Sidiq

BANJAR, media3.id — Kesuksesan di dunia digital tidak selalu dimulai dengan modal besar. Muhamad Jafar Sidiq membuktikannya. Berbekal uang hanya Rp250 ribu, pemuda asal Kota Banjar itu memberanikan diri merantau ke Jakarta dan membangun karier sebagai content creator.

Read More

 

Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Jafar harus meninggalkan lingkungan yang selama ini dikenalnya dan memulai kehidupan baru di tengah kerasnya persaingan Ibu Kota.

 

Pilihan menjadi content creator juga sempat dipandang sebelah mata. Jafar mengaku pernah diremehkan ketika memutuskan berangkat ke Jakarta. Dukungan dari keluarga pun, menurut pengakuannya, tidak sepenuhnya sesuai harapan.

Namun, kondisi tersebut justru membuatnya semakin terdorong untuk membuktikan bahwa pilihannya bukan keputusan tanpa arah.

Jafar mulai konsisten membuat berbagai konten untuk media sosial. Dari proses tersebut, perlahan ia membangun audiens dan menemukan peluang di industri digital.

 

Kerja keras itu kemudian membuahkan hasil. Akun media sosial Jafar kini telah memiliki ratusan ribu pengikut dan mendapatkan tanda verifikasi. Beberapa kontennya bahkan berhasil ditonton hingga jutaan kali.

 

Bagi Jafar, pencapaian tersebut menjadi pembuktian bahwa pekerjaan di dunia digital dapat menjadi profesi yang menghasilkan apabila ditekuni secara serius.

 

Ia ingin menunjukkan bahwa menjadi content creator bukan sekadar mengejar viralitas. Di balik sebuah konten terdapat proses membangun audiens, menjaga konsistensi, sekaligus mencari peluang ekonomi.

 

Menariknya, keberhasilan di Jakarta tidak membuat Jafar memutus perhatian terhadap daerah asalnya. Ia masih mengikuti berbagai persoalan yang terjadi di Kota Banjar.

 

Salah satunya persoalan ekonomi masyarakat. Jafar mengaku sependapat dengan pernyataan KDM yang menyebut Banjar sebagai “kota ripuh”. Menurutnya, kondisi tersebut salah satunya dapat dilihat dari persoalan daya beli masyarakat.

 

Ia menyoroti perbandingan antara pendapatan dengan biaya untuk memenuhi kebutuhan maupun menikmati berbagai aktivitas ekonomi.

 

“UMR sekitar Rp2 juta, tetapi kulineran bisa sampai habis Rp1 juta,” ujar Jafar.Sabtu (22/8/2026) kepada awak media.

 

Pandangan tersebut menjadi bagian dari pengalaman dan pengamatannya terhadap kondisi di daerah asalnya.

 

Di sisi lain, perjalanan Jafar menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu harus menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

 

Dengan modal awal yang sangat kecil, ia memilih mengambil risiko dan mencari peluang di tempat yang menawarkan pasar lebih luas.

 

Jakarta menjadi medan pembuktian bagi Jafar. Persaingan yang ketat justru memaksanya untuk terus belajar, membuat konten, dan mempertahankan eksistensi.

 

Kini, ratusan ribu orang mengikuti aktivitasnya di media sosial. Konten-kontennya juga telah menjangkau jutaan penonton.

 

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan perubahan cara generasi muda melihat peluang kerja. Jika dahulu merantau identik dengan mencari pekerjaan formal, kini ruang digital membuka jalur lain bagi anak daerah untuk membangun karier.

 

Jafar memilih jalur tersebut. Berangkat dari Banjar dengan Rp250 ribu, ia mencoba membangun masa depan melalui kreativitas dan media sosial. Perjalanannya belum berhenti, tetapi satu hal telah ia buktikan: asal daerah bukan batas untuk bersaing di tingkat yang lebih luas.

 

(Joe)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *