Perlakuan Diskriminatif, Elegi Mahasiswa Papua Di Jogja Hampa Solusi

  • Whatsapp

JOGJA (DIY), media3.id – Diskriminasi terhadap mahasiswa Papua di Jogja kerap terjadi dalam bentuk rasisme, pengepungan asrama, dan stigma negatif. Kendati telah ditangani sejak 2016 usai kericuhan berdarah, namun perlakuan seperti penolakan tempat kost, intimidasi, dan kekerasan fisik tetap ada hingga 2026 kini. Terakhir, pada 2 April 2026 lalu sempat terjadi perkelahian sesama mahasiswa Papua di asrama.

Peristiwa tanggal 15 Juli 2016 di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan 1 Jogja menjadi salah satu bukti nyata bagaimana mahasiswa Papua yang sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Kota Yogyakarta mendapatkan perlakuan yang tidak adil.

Sebelum meletus kericuhan tersebut, Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Yogyakarta saat itu, Aris Yeimo [kini berusia 40 tahun; red] sempat mengisahkan perlakuan diskriminatif tersebut dipicu oleh pandangan umum yang menganggap mahasiswa Papua sering mabuk, suka melanggar peraturan, dan suka berkelahi.

“Padahal hanya segelintir yang kelakukannya ‘rusuh’. Biasanya yang suka mabuk adalah anak muda Papua yang baru datang karena ada emosi budaya yang terbawa dari Papua,” kata Aris.

Orang Papua, lanjut Aris, yang tinggal di tempat dingin seperti di pegunungan biasanya butuh penghangat sehingga terbiasa minum produk lokal untuk menghangatkan badan. “Sehingga ketika berada di Jogja, perlu waktu untuk beradaptasi. Tapi kalau bikin onar dan makan tidak mau membayar, itu hanya beberapa orang, tidak semua. Jadi jangan digeneralisir,” terangnya.

Seorang pengelola rumah kos di Depok Timur, Sleman, mengatakan dirinya punya pengalaman buruk dengan mahasiswa asal Papua. “Susah bayar, suka bikin gaduh kos kalau pas mabuk. Makanya saya malas berurusan dengan mahasiswa Papua karena tidak tertib dalam membayar,” ungkap Nugi (nama disamarkan redaksi), Jumat (10/4/2026).

Betapapun, perlu dimengerti bersama bahwa setiap tahun ajaran baru tentu selalu ada mahasiswa baru yang merantau dari Papua ke Jogja untuk menuntut ilmu. Menurut Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di Jogja, jumlahnya bisa mencapai 8000 orang. Dan seringkali secara rutin berkala diberikan program pengenalan kultural Jogja kepada pelajar maupun mahasiswa asal Papua yang baru datang ke Jogja.

Bahkan juga diadakan event secara berkala seperti Papua Design Week pada 24 Desember 2020 silam.

Secara konteks ekonomi, kata Aris Yeimo, kehadiran mahasiswa Papua di Jogja membawa pemasukan pendapatan bagi warga setempat dan pemerintah daerah Sleman, Bantul, dan Kota. “Hendaknya justru kita bangun kenyamanan bersama, karena kehadiran mahasiswa Papua juga memberi sumbangsih ekonomi, di sisi lain Jogja juga memberi sumbangsih pendidikan kepada pelajar dan mahasiswa asal Papua,” tandasnya.• (Shaleh Rudianto/Azdha Noor media3)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *