Ada satu keadaan yang jarang dibicarakan, tetapi sebenarnya sering terjadi:
ketika seseorang mengetahui sesuatu yang penting, namun justru tidak mampu berbuat apa-apa. Biasanya, kita percaya bahwa kebenaran akan membawa manusia pada tindakan, bahwa ketika seseorang tahu apa yang benar, ia akan bergerak ke arah itu. Namun dalam kenyataannya, tidak selalu demikian. Ada saat ketika pengetahuan justru membuat seseorang berhenti, ragu, bahkan kehilangan arah.
Keadaan seperti inilah yang perlahan dibangun dalam cerpen Perpisahan karya Gayus Siagian. Cerita ini tidak menghadirkan konflik besar yang langsung terlihat dan tidak pula menawarkan kejadian dramatis yang memaksa pembaca untuk terkejut. Sebaliknya, cerita berjalan pelan melalui percakapan sederhana,
pertemuan singkat, dan suasana yang tenang. Namun justru dari ketenangan itu muncul sesuatu yang terasa berat.
Pembaca seperti diajak masuk ke dalam ruang yang sunyi. Yang paling terasa
bukanlah apa yang diucapkan, melainkan apa yang ditahan. Ada sesuatu yang diketahui oleh tokohnya, tetapi tidak pernah benar-benar diwujudkan dalam tindakan. Dari sinilah cerita ini mulai terasa berbeda. Alih-alih bergerak menuju penyelesaian, cerita ini justru berhenti di tengah ketidakpastian.
Jika dibaca melalui konsep Implied Author yang diperkenalkan oleh Wayne C. Booth, sikap seperti ini bukanlah kebetulan. Pengarang tidak hadir sebagai
sosok yang ingin menjelaskan atau menyelesaikan sesuatu. Ia justru
menciptakan jarak dan menghadirkan suara yang lebih ragu, lebih tenang, dan
tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap. Dari situ, cerita ini terasa seperti
refleksi, bukan penjelasan.
Suara yang Menahan Diri
Suara yang paling terasa dalam cerpen ini hadir melalui tokoh “aku”. Ia bukan
tokoh yang dominan atau aktif. Ia tidak berusaha mengendalikan keadaan dan
tidak pula tampil sebagai sosok yang memiliki jawaban. Justru sebaliknya, ia lebih banyak mengamati, mendengar, dan menahan diri.
Ketika ia mengetahui sesuatu tentang Hasan, sesuatu yang sebenarnya cukup
besar, ia tidak menunjukkan reaksi yang tegas. Ia tidak langsung bertindak, tidak
mencoba memastikan semuanya, dan tidak terlihat ingin menyelesaikan
persoalan itu. Ia membiarkan semuanya berjalan apa adanya, seolah memilih
untuk tidak ikut campur dalam arah yang sudah terbentuk. Ia tidak hadir sebagai penyelesai, melainkan sebagai saksi yang diam.
Dalam banyak cerita, momen seperti ini biasanya menjadi titik balik. Tokoh
utama akan bergerak, mengejar kebenaran, atau setidaknya mengambil posisi yang jelas. Namun dalam cerpen ini, hal itu tidak terjadi. Tokoh “aku” justru memilih untuk diam.
Diamnya bukan karena tidak peduli. Justru sebaliknya, diam itu terasa sebagai hasil dari pergulatan yang panjang. Ia tahu bahwa apa yang ia ketahui penting,
tetapi ia juga sadar bahwa tidak semua kebenaran bisa dengan mudah dihadapi.
Ia seperti kehilangan dasar untuk bertindak, hingga akhirnya tidak bergerak ke mana-mana.
Di titik ini, persona poetica sebagai bentuk dari Implied Author dalam cerpen ini terasa sangat kuat. Ia bukan sosok yang memberi arahan, melainkan sosok yang menahan diri. Ia membiarkan cerita tetap menggantung, seolah ingin menunjukkan bahwa tidak semua hal harus diselesaikan.
Realitas yang Ambigu dan Tidak Sederhana
Jika dilihat dari sisi persona practica, Gayus Siagian dapat dipahami sebagai
pengarang yang melihat bahwa kehidupan tidak pernah sesederhana yang kita bayangkan.
Dalam kehidupan nyata, seseorang bisa berada di posisi yang saling
bertentangan. Ia bisa menjadi korban, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan
kesalahan. Ia bisa terlihat lemah, tetapi menyimpan sesuatu yang tidak
sepenuhnya dapat dibenarkan.
Hal ini tercermin dalam tokoh Hasan.
Hasan bukan tokoh yang mudah dipahami. Ia tidak bisa dimasukkan ke dalam satu kategori yang jelas. Di satu sisi, ia adalah sosok yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Namun di sisi lain, ada bagian dari dirinya yang
membuatnya tidak bisa sepenuhnya dibela.
Di sinilah cerpen ini mulai terasa tidak nyaman, karena pembaca tidak diberikan kepastian tentang siapa yang harus dibenarkan atau disalahkan. Pembaca tidak diberi posisi yang aman. Kita tidak bisa sepenuhnya memihak Hasan, tetapi juga tidak bisa menolaknya. Situasi ini menciptakan ketegangan yang tidak
diselesaikan dan justru di situlah kekuatan cerpen ini.
Tokoh “aku” pun mengalami hal yang sama. Ia tidak hanya berhadapan dengan
Hasan, tetapi juga dengan kebingungannya sendiri. Ia sadar bahwa situasi itu
menuntut tindakan, tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ketika seseorang tidak
tahu harus berbuat apa, yang muncul bukan tindakan, melainkan diam.
Perpisahan sebagai Bentuk Ketidakmampuan
Perpisahan dalam cerpen ini tidak hadir sebagai solusi. Ia bukan hasil dari
keputusan yang jelas atau tindakan yang tegas. Perpisahan justru terjadi karena
tidak ada keputusan yang benar-benar diambil.
Tokoh “aku” membiarkan Hasan pergi.
Kepergian itu tidak diikuti oleh usaha untuk menahan dan tidak pula oleh
keputusan yang jelas. Segalanya dibiarkan mengalir begitu saja, seolah tokoh “aku” memilih untuk tidak mengubah apa pun.
Keputusan ini tampak sederhana, tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ia
menyimpan makna yang cukup besar. Ia menunjukkan bahwa tokohnya tidak
sanggup menghadapi situasi yang ada. Ia memilih untuk tidak melanjutkan,
bukan karena semuanya sudah selesai, tetapi karena ia tidak tahu bagaimana
cara melanjutkannya.
Perpisahan di sini menjadi semacam titik berhenti. Bukan akhir yang
menyelesaikan, melainkan jeda yang menggantung.
Yang ditinggalkan bukan hanya hubungan antara dua tokoh, tetapi juga
pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang seharusnya dilakukan. Apakah diam adalah pilihan yang benar.
Cerpen ini tidak memberikan jawaban yang pasti.
Penutup
Cerpen Perpisahan karya Gayus Siagian pada akhirnya tidak hanya berbicara
tentang pertemuan dan perpisahan, tetapi juga tentang batas kemampuan
manusia dalam menghadapi kenyataan.
Melalui tokoh “aku”, terlihat bahwa mengetahui sesuatu tidak selalu membuat seseorang mampu melangkah. Ada saat ketika kebenaran justru terasa terlalu berat untuk dihadapi, terlalu rumit untuk diselesaikan, dan terlalu dalam untuk diputuskan.
Perpisahan dalam cerita ini bukan kemenangan dan bukan pula jalan keluar. Ia hadir sebagai bentuk paling jujur dari ketidakmampuan, ketika seseorang memilih berhenti bukan karena semuanya telah usai, tetapi karena ia tidak lagi tahu bagaimana harus melanjutkan.
Di situlah cerpen ini terasa begitu dekat dengan kehidupan.
Sebab dalam hidup, tidak semua hal dapat kita luruskan, tidak semua kebenaran bisa kita tegakkan, dan tidak semua keputusan mampu kita ambil dengan keyakinan utuh.
Kadang, yang tersisa hanyalah melepaskan, bukan karena kita sudah
sepenuhnya mengerti, melainkan karena kita akhirnya sadar bahwa tidak semua hal bisa kita selesaikan sebagai manusia.●
Penulis: Maharani Yahya (mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Editor: Shaleh Rudianto media3






