Sering kali, kesalehan dipahami sebagai sesuatu yang sederhana: rajin beribadah, menjauh dari hiruk-pikuk dunia, dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam pandangan
seperti ini, kehidupan spiritual seolah berdiri sendiri, terpisah dari realitas sosial yang dianggap sebagai gangguan. Manusia merasa cukup dengan hubungan vertikalnya tanpa
merasa perlu terlibat dalam persoalan kehidupan di sekitarnya. Dunia boleh berjalan dengan segala ketimpangannya dan selama ibadah tetap terjaga, semuanya dianggap telah berada pada tempatnya. Namun, apa yang terjadi ketika keyakinan tersebut justru diguncang oleh sebuah cerita yang tampak sederhana, tetapi menyimpan ironi yang dalam? Ketika seseorang yang merasa telah mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan justru dihadapkan pada kenyataan bahwa pengabdiannya belum sepenuhnya utuh?
Kegelisahan inilah yang dihadirkan dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A. A. Navis.
Cerita ini tidak hanya berkisah tentang seorang penjaga surau yang hidup dalam kesunyian, tetapi membuka pertanyaan yang lebih mendasar tentang makna kesalehan itu sendiri.
Pembaca tidak sekadar diajak memahami cerita, tetapi juga dipaksa untuk mempertanyakan kembali batas antara ibadah dan tanggung jawab sosial.
Jembatan: Suara Pengarang dalam Teks
Melalui konsep implied author, pengarang muncul sebagai sosok yang dibentuk di dalam cerita melalui pilihan bahasa, struktur naratif, dan cara penyampaian. Sosok ini sering disebut sebagai persona poetica, yakni pengarang dalam teks yang membawa sikap, nilai, dan sudut pandang tertentu. Dalam cerpen ini, A. A. Navis tidak tampil sebagai sosok yang berbicara secara langsung. Ia justru “menghilang” di balik cerita, dan menghadirkan dirinya
melalui suara yang tersembunyi dalam narasi. Persona poetica ini bekerja secara halus tidak menggurui, tidak memberikan jawaban secara eksplisit, tetapi mengarahkan pembaca melalui rangkaian peristiwa yang penuh makna.
Suara tersebut terasa kuat melalui tokoh-tokoh dalam cerita, terutama Ajo Sidi sebagai penyampai kisah, serta melalui ironi yang muncul dalam pengalaman Haji Saleh. Dengan cara ini, pengarang tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi menciptakan pengalaman
berpikir bagi pembaca.
Argumentasi: Ketika Kesalehan Dipertanyakan
Hal pertama yang paling menonjol dalam cerpen ini adalah kritik terhadap kesalehan yang sempit. Tokoh Haji Saleh digambarkan sebagai sosok yang sepanjang hidupnya tekun beribadah. Ia mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan, bahkan mengabaikan
kehidupan dunia. Dalam pandangan umum, ia seharusnya menjadi simbol kesalehan yang sempurna. Namun di akhir cerita, ia ditempatkan di neraka. Pembalikan ini bukan sekadar
kejutan, melainkan bentuk kritik yang tajam terhadap cara beragama yang hanya berfokus pada ritual. Melalui ironi tersebut, persona poetica dalam teks seolah ingin mengatakan bahwa kesalehan tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Ibadah yang dilakukan tanpa keterlibatan dalam kehidupan manusia lain menjadi tidak lengkap. Kritik ini tidak disampaikan secara langsung, tetapi dibangun melalui situasi yang membuat pembaca
merasakan sendiri keganjilannya.
Selain itu, penggunaan ironi sebagai strategi naratif menjadi kekuatan utama dalam cerpen ini yang menghadirkan antara harapan dan kenyataan. Orang yang dianggap paling saleh justru mengalami nasib yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Dengan cara ini, pengarang
dalam teks tidak memaksakan pemahaman, tetapi mendorong pembaca untuk berpikir dan menafsirkan sendiri makna di balik peristiwa tersebut.
Tokoh Ajo Sidi juga berperan penting sebagai pengkritik. Ia bukan sosok yang sepenuhnya serius atau memiliki otoritas moral yang tinggi. Namun, justru melalui dirinya cerita tentang Haji Saleh disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa persona poetica bekerja melalui jalur yang tidak konvensional. Kritik tidak datang dari sosok yang “resmi”, tetapi dari tokoh yang tampak sederhana. Strategi ini membuat kritik terasa lebih halus, tetapi sekaligus lebih menusuk.
Di sisi lain, cerpen ini juga memperlihatkan bagaimana hubungan antara iman dan kehidupan sosial tidak dapat dipisahkan. Kehidupan manusia tidak hanya tentang hubungan dengan Tuhan, tetapi juga tentang tanggung jawab terhadap sesama. Persona poetica dalam teks secara konsisten menggiring pembaca untuk menyadari bahwa kesalehan yang sejati harus mencakup kedua aspek tersebut.
Penutup: Runtuhnya Cara Pandang
Melalui “Robohnya Surau Kami”, A. A. Navis berhasil menghadirkan dirinya sebagai persona poetica yang kritis dan reflektif. Ia tidak tampil sebagai pengarang yang memberikan
ceramah, tetapi sebagai suara dalam teks yang secara perlahan mengguncang cara
pandang pembaca.Surau yang roboh dalam cerita ini tidak hanya merujuk pada bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol runtuhnya pemahaman lama tentang kesalehan. Kesalehan
yang selama ini dipahami sebagai sekadar ritual keagamaan, dipertanyakan kembali melalui
ironi yang kuat dan alur cerita yang sederhana namun menggugah. Pembaca diajak untuk menyadari bahwa ibadah yang terpisah dari kehidupan sosial justru kehilangan makna
dasarnya.
Lebih jauh, cerpen ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada Tuhan tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab terhadap sesama manusia. Kehidupan spiritual yang sejati tidak hanya diukur dari seberapa sering seseorang beribadah, tetapi juga dari sejauh mana
ia hadir dalam kehidupan orang lain. Dalam hal ini, persona poetica dalam teks secara konsisten mengarahkan pembaca untuk melihat bahwa iman dan kemanusiaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pada akhirnya, “Robohnya Surau Kami” tidak sekadar
menghadirkan cerita tentang seorang penjaga surau yang tragis, tetapi juga menjadi ruang refleksi yang mendalam tentang cara manusia memahami hidup. Cerpen ini tidak menawarkan jawaban yang pasti, melainkan membuka kesadaran bahwa selama ini
mungkin ada cara pandang yang keliru yang telah kita anggap benar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa A. A. Navis melalui persona poetica-nya berhasil membangun kritik yang halus namun tajam terhadap kesalehan yang sempit. Ia menunjukkan bahwa kegagalan sejati bukan terletak pada kurangnya ibadah, melainkan
pada ketidakmampuan untuk menghubungkan iman dengan realitas kehidupan sosial.
Dalam refleksi yang lebih luas, cerpen ini mengingatkan bahwa keragaman bukanlah soal menjauh dari dunia, melainkan tentang bagaimana manusia tetap hadir di dalamnya dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.●
Penulis: Karyn Melodi Ceria (mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Editor: Shaleh Rudianto media3






