Ketika pertama kali terbit pada 1998, Saman karya Ayu Utami segera memicu kontroversi di
ruang publik Indonesia. Novel ini berbicara secara terbuka tentang seksualitas perempuan,
agama, politik, dan kekuasaan—tema-tema yang pada masa sebelumnya jarang diangkat
secara terang-terangan dalam sastra Indonesia. Namun kontroversi tersebut tidak hanya
muncul karena novel ini berani menyentuh hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Jika dibaca
melalui perspektif teori keluhuran (sublime) dari Longinus, Saman justru memperlihatkan
bagaimana sebuah karya sastra dapat mencapai efek keluhuran melalui gagasan yang besar,
emosi yang kuat, serta penggunaan bahasa dan cara penceritaan yang mampu menggugah
pembaca secara mendalam.
Dalam teori Longinus, keluhuran dalam karya sastra tidak hanya berkaitan dengan keindahan
bahasa, tetapi dengan kemampuan sebuah karya untuk mengangkat pengalaman pembaca ke
tingkat yang lebih tinggi. Karya yang luhur tidak sekadar menghibur, melainkan menggugah
pikiran dan emosi pembaca secara kuat. Longinus menjelaskan bahwa keluhuran muncul dari
beberapa sumber utama, yaitu keagungan gagasan (grandeur of thought), emosi atau passion
yang kuat, retorika yang unggul, penggunaan diksi dan metafora yang berkelas, serta
penggubahan atau komposisi yang mulia. Jika kerangka ini diterapkan pada Saman, terlihat
bahwa kekuatan novel tersebut tidak hanya terletak pada keberanian temanya, tetapi juga pada
cara Ayu Utami mengolah gagasan, emosi, dan bahasa sehingga menghasilkan pengalaman
membaca yang menggugah.
Pertama, keluhuran Saman tampak melalui keagungan gagasan yang diangkat dalam cerita.
Novel ini tidak hanya berkisah tentang kehidupan pribadi para tokohnya, tetapi juga membuka
ruang kritik terhadap relasi antara agama, kekuasaan, dan ketidakadilan sosial dalam
masyarakat Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Tokoh Saman, yang sebelumnya
adalah seorang pastor bernama Wisanggeni, mengalami pergulatan moral ketika ia
menyaksikan langsung penindasan terhadap para petani. Pergulatan tersebut memperlihatkan
dilema antara ketaatan terhadap institusi agama dan keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan.
Melalui konflik ini, novel tidak hanya menghadirkan drama personal, tetapi juga mengajak
pembaca merefleksikan bagaimana kekuasaan dapat memengaruhi moralitas dan keyakinan
seseorang. Gagasan yang melampaui konflik pribadi inilah yang menunjukkan keagungan pemikiran dalam karya tersebut.
Kedua, keluhuran juga muncul melalui emosi atau passion yang kuat. Longinus menekankan
bahwa karya sastra yang agung lahir dari dorongan emosional yang tulus dan mendalam.
Dalam Saman, emosi tersebut hadir melalui pengalaman tokoh-tokoh perempuan seperti Laila,
Yasmin, Shakuntala, dan Cok. Mereka digambarkan sebagai individu yang memiliki keinginan,
kegelisahan, dan pergulatan batin yang kompleks. Melalui pengalaman cinta, hasrat, hingga
konflik terhadap norma sosial, para tokoh perempuan ini mengekspresikan pergulatan batin
yang jarang disuarakan secara terbuka. Kejujuran dalam menggambarkan emosi tersebut
membuat cerita terasa lebih kuat dan nyata, sehingga pembaca tidak hanya memahami
kisahnya secara rasional, tetapi juga merasakan intensitas emosinya.
Ketiga, keluhuran dalam Saman juga terlihat dari penggunaan retorika yang kuat. Ayu Utami
tidak menulis dengan gaya yang sepenuhnya mengikuti konvensi sastra sebelumnya.
Sebaliknya, ia menggunakan gaya penuturan yang langsung dan terbuka untuk menyampaikan
kritik terhadap norma sosial yang membatasi kebebasan individu, terutama perempuan. Melalui
gaya penceritaan yang lugas dan berani, novel ini mampu menyampaikan
gagasan-gagasannya dengan kekuatan yang lebih tajam. Dalam perspektif Longinus, retorika
yang unggul bukan sekadar keindahan gaya bahasa, tetapi kemampuan bahasa untuk
menyampaikan gagasan secara kuat sehingga meninggalkan kesan mendalam pada pembaca.
Keempat, sumber keluhuran juga tampak pada penggunaan diksi dan metafora yang berkelas.
Dalam Saman, Ayu Utami menggunakan pilihan kata yang tegas dan terkadang provokatif
untuk menggambarkan tubuh, relasi cinta, serta konflik batin para tokohnya. Penggunaan
bahasa yang terbuka ini tidak sekadar bertujuan mengejutkan pembaca, tetapi juga menjadi
cara untuk menyingkap pengalaman manusia yang sering disembunyikan oleh norma sosial.
Pilihan diksi yang kuat tersebut membantu memperjelas gagasan dan emosi yang ingin
disampaikan, sehingga pengalaman membaca terasa lebih tajam dan berkesan.
Kelima, keluhuran Saman juga terlihat dari cara penggubahan atau komposisi cerita. Novel ini
tidak disajikan secara runtut dari awal hingga akhir, melainkan bergerak melintasi waktu dan
sudut pandang para tokohnya. Pergantian perspektif membuat pembaca harus mengikuti
berbagai potongan peristiwa yang saling berkaitan. Cara penceritaan seperti ini membuat
pembaca lebih aktif dalam memahami alur cerita. Makna cerita tidak langsung diberikan secara
utuh, tetapi muncul secara bertahap seiring perkembangan narasi. Hal ini membuat
pengalaman membaca terasa lebih hidup karena pembaca ikut terlibat dalam proses
memahami cerita.
Yang menarik, kontroversi yang menyertai Saman justru dapat dipahami sebagai bagian dari
kekuatan estetik karya tersebut. Longinus menyatakan bahwa karya yang benar-benar luhur
sering kali melampaui batas kenyamanan pembacanya. Ia dapat mengguncang cara pandang
yang selama ini diterima begitu saja dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia pada akhir
1990-an, keberanian Ayu Utami membicarakan seksualitas perempuan secara terbuka
merupakan sesuatu yang jarang dilakukan dalam karya sastra sebelumnya. Kontroversi yang
muncul tidak hanya berkaitan dengan isi cerita, tetapi juga dengan cara novel ini menantang pandangan masyarakat tentang tubuh, moralitas, dan kebebasan individu.
Melalui perspektif keluhuran Longinus, Saman dapat dipahami sebagai karya yang tidak hanya
penting karena keberanian temanya, tetapi juga karena kekuatan estetiknya. Novel ini
menghadirkan gagasan besar tentang relasi antara agama, kekuasaan, dan kemanusiaan;
mengekspresikan emosi manusia secara jujur; menggunakan retorika dan bahasa yang kuat;
serta menyusun cerita dengan komposisi yang membuat pembaca terlibat secara aktif. Semua
unsur tersebut bekerja bersama untuk menciptakan pengalaman membaca yang tidak hanya
menarik, tetapi juga menggugah kesadaran pembaca.
Pada akhirnya, keluhuran Saman terletak pada kemampuannya melampaui sekadar kisah
tentang kehidupan individu. Novel ini menjadi ruang refleksi mengenai kebebasan, tubuh, iman,
dan kekuasaan dalam masyarakat modern. Dalam arti inilah karya Ayu Utami dapat dipahami
sebagai novel yang tidak hanya kontroversial, tetapi juga luhur dalam pengertian yang
dimaksud oleh Longinus: sebuah karya yang tidak sekadar dibaca, tetapi meninggalkan pengaruh yang kuat dalam cara pembaca memahami realitas.•
Penulis:
Maharani Yahya
244114036
Teori Sastra
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Editor: Shaleh Rudianto media3






