Kerukunan Umat Beragama Tumbuh Dari Komitmen Dan Teladan Tokoh Agama

  • Whatsapp
Exif_JPEG_420

KLATEN (Jateng), media3. id – Kerukunan umat beragama tumbuh dari kerja keras, komitmen, dan teladan nyata para tokoh lintas agama yang terus berupaya menjaga harmoni di tengah keberagaman umat memeluk agamanya masing-masing.

Hal ini dikemukakan oleh Ki Haji Suharso, Ketua Paguyuban Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kecamatan Manisrenggo, Klaten, Sabtu (28/6/2025).

“Tokoh lintas agama memiliki peran yang sangat penting dalam merawat kerukunan masyarakat, sebab mereka menyentuh langsung ke masyarakat dengan karya nyata, bukan sekedar ceramah saja”, ucap Suharso.

Menurut Suharso, tindakan nyata jauh lebih berdampak dibandingkan hanya menyampaikan ceramah normatif. “Yang kita butuhkan tokoh agama yang turun langsung, menjadi pelaku moderasi, bukan hanya pengkhotbah,” tegasnya.

Perlu didorong juga, lanjut Suharso, penggunaan media sosial secara bijak untuk menyampaikan pesan-pesan moderasi yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Ki Haji Suharso juga menekankan pentingnya dialog inklusif sebagai jalan memperkuat pemahaman dan memperkecil prasangka antar kelompok. “Dialog adalah jembatan menuju empati, dan melahirkan penghargaan terhadap perbedaan”, tegasnya.

Sementara itu Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin Asyrofi menyebutkan bahwa kerukunan umat beragama di Klaten dapat terus terjaga manakala para tokoh lintas agamanya menjalankan enam peran strategis.
“Keenam peran strategis tersebut adalah tokoh lintas agama mendorong umatnya untuk berpikir moderat, terbuka, dan damai, sambil mencegah penyebaran radikalisme dan ekstremisme”, ucapnya.

Kemudian, lanjut Syamsuddin, tokoh lintas agama membangun ruang dialog yang inklusif dan terbuka, agar masyarakat bisa saling memahami dan menghargai perbedaan.

Ketiga, menjadi contoh langsung bagi umatnya dalam menghargai keragaman dan hidup berdampingan secara damai.
Keempat, berperan sebagai penengah yang menghadirkan solusi damai atas potensi konflik. Kelima, menggerakkan umat dalam kegiatan solidaritas dan toleransi.

“Dan keenam, para tokoh mampu menjamin kebebasan beragama dan beribadah sesuai keyakinan yang dipeluk oleh masing-masing umatnya”, pungkas Syamsuddin.• (Shaleh Rudianto media3)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *