Walikota Depok Muhammad Idris dan Isu ‘Cawe-cawe’

  • Whatsapp
Foto: Walikota Depok Mohammad Idris (26/4/2024)

DEPOK (Jawa Barat), media3.id – Ditemui usai menghadiri rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Depok yang ke-25 tahun di Gedung DPRD Kota Depok, Komplek Perkantoran Grand Depok City Cilodong Kota Depok, Jumat (26/4/2024), Walikota Depok Mohammad Idris menyampaikan paparannya terkait isu ‘cawe-cawe’dan keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Depok dalam menghadapi kontestasi Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada yang akan diselenggarakan secara serentak diseluruh Indonesia, termasuk di Kota Depok beberapa bulan mendatang.

Idris mengatakan bahwa keterlibatan ASN dalam menghadapi Pilkada kedepan haruslah netral. “Netral artinya dia punya hak pilih, namun tetap mengedepankan statusnya sebagai ASN. Terkait dalan peranan tugasnya, hal ini bukan dalam istilah konteks “Cawe-cawe,” Kata Idris,

Read More

Pertanyaan tentang peranan ASN dan keterlibatan nya dalam proses Pilkada tersebut, dilontarkan oleh awak media dimana diketahui bahwa sosok Muhammad Idris , adalah salah satu tokoh sentral dalam struktural Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sementara DPP PkS melalui Presiden PKS Ahmad Syaikhu, secara resmi telah menunjuk Wakil Walikota Depok Imam Budi Hartono menggantikan Muhammad Idris yang akan habis masa jabatannya setelah 2 (dua) periode menjadi orang nomor satu di Kota Depok.

Sebelumnya, Imam didaulat PKS untuk maju menjadi Walikota dalam Pilkada Kota Depok, setelah beberapa waktu lalu melalui Halal Bihalal PKS Kota Depok yang digelar di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok, Presiden PKS Ahmad Syaikhu secara resmi menunjuk Imam Budi Hartono untuk menjadi Walikota Depok periode 2024-2029, dimana Sekretaris Kota Depok Supian Suri, digadang-gadangkan akan menjadi rivalnya.

Idris menegaskan bahwa selama dalam rangka menjalankan tugasnya menjadi ASN, hal tersebut masihlah dalam koridor tugas ikatan kedinasan , atau bukan lah ‘cawe-cawe’.

“Kecuali, kalau dalam tugas kedinasannya, masing-masing berjalan dengan tim suksesnya, nah itu yang tak boleh. Bisa saya langsung semprit nanti. Hal ini menjadi penilaian yang tidak baik oleh publik secara politis,” lanjut Idris. (Ardhie)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *