Lurah Cigugur Tengah Rezza Rifalsyah Harahap
CIMAHI, Media3.id – Kelurahan Cigugur Tengah Kecamatan Cimahi Tengah menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Partisipatif Tahun 2024, yang digelar di Aula kantor Kelurahan Cigugur Tengah, Jl. Abdul Halim No. 24, Cigugur Tengah – Cimahi Tengah, pada pekan lalu (Rabu, 17/1/2024).
Kegiatan Musrenbang dihadiri oleh Binwil Kelurahan Cigugur Tengah Plt. Sekdis Satpol PP dan Damkar Kota Cimahi Ranto Sitanggang, perwakilan Camat Cimahi Tengah, Lurah Cigugur Tengah Rezza Rifalsyah Harahap, para Ketua RW Kelurahan Cigugur Tengah beserta delegasi, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan para tamu undangan lainnya.
Prioritas utama pada Musrenbang Kelurahan Cigugur Tengah yaitu pengadaan brankar atau tandu di tiap RW.
Seperti yang diungkapkan oleh Lurah Cigugur Tengah Rezza Rifalsyah Harahap menjelaskan bahwa prioritas utama di Musrenbang Kelurahan Cigugur Tengah, yang pertama itu usulan pengadaan brankar atau tandu di tiap RW.
“Karena brankar atau tandu ini sangat diperlukan untuk membawa pasien yang sakit yang tempat tinggalnya berada di dalam gang agar mudah dipindahkan ke mobil ambulance,” ucap Rezza.
Kemudian, sambung Rezza, untuk usulan keduanya yaitu kebutuhan Penerangan Jalan Umum (PJU) dan Penerangan Jalan Gang (PJG) di lingkungan wilayah Kelurahan Cigugur Tengah.
“Sedangkan yang ketiga, kami mengusulkan permohonan tersedianya lahan untuk SMP 16 secara mandiri, karena sampai saat ini SMP 16 masih memakai lahan Dinsos Provinsi Jawa Barat,” jelasnya.
Selanjutnya, kata Rezza, usulan keempatnya yaitu tersedianya lapangan pekerjaan yang diprioritaskan untuk warga Cigugur Tengah terutama khusus untuk pabrik-pabrik yang ada di lingkungan Kelurahan Cigugur Tengah.
“Untuk usulan yang kelima adalah permohonan tersedianya sarana dan prasarana pengelolaan sampah, termasuk juga TPS-TPS yang tersedia di tiap RW dan juga mesin-mesin pengolahannya,” bebernya.
Lebih jauh dikatakannya, bahwa dalam usulan kesediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah ini, sebetulnya kebutuhan paling mendesak.
“Kita tahu darurat sampah masih berjalan sekarang, TPA Sarimukti belum bisa berjalan normal. Tahun 2024 informasinya, yang diterima TPA Sarimukti hanya sampah organik saja. Berarti mau tidak mau, sampah organik itu habis di Kota Cimahi,” papar Rezza.
Upaya pengelolaan sampah secara mandiri di tiap RW, menurut Rezza sudah bukan hal yang bisa ditawar lagi dan harus segera diselesaikan.

“Untuk itu RW RW di Cigugur Tengah khususnya, perlu sarana dan prasarana pendukung untuk menangani itu. Khususnya untuk pengolahan sampah organik yang bisa sampai habis diolah di wilayah kita sendiri tanpa harus dibuang keluar,” terangnya.
Saat dipertanyakan terkait masalah banjir Cigugur, Rezza menerangkan bahwa di Cigugur ada 2 RW yang menjadi dominan banjir.
“Yang pertama adalah RW 6 Cilember, ini sumber banjirnya adalah limpahan air dari wilayah Kota Bandung, sehingga upaya maksimal apapun dari Kota Cimahi apabila limpahannya terhambat dari sana, maka banjir masih tetap terjadi,” ungkapnya.
Tetapi banjir itu bisa terselesaikan, lanjut Rezza, apabila kolam retensi Pasirkaliki sudah selesai dibangun.
“Mudah-mudahan itu dapat menjadi solusi untuk RW 6,” imbuhnya.
Kemudian yang kedua, yang menjadi dominan risiko banjir adalah RW 8 Pintu Air Cimindi.
“RW 8 Pintu Air Cimindi saat ini pembebasan lahannya masih belum selesai oleh DPKP, sehingga penanganannya masih berjalan dan masih dalam proses,” jelas Rezza.
Maka dari itu, masalah banjir ini tidak masuk ke dalam prioritas Musrenbang Kelurahan Cigugur Tengah, karena solusinya sudah jelas.
“Jadi, dari kelima usulan itu yang menjadi prioritas utama, pengadaan brankar,” pungkasnya.
(Sinta)






