Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO H. Hayono Isman ex Menpora (Kanan) dan Ketua Pimpinan Daerah Kolektif KOSGORO Provinsi Jawa Barat, Romy Arief Hidajat, SE (Kiri)
CIMAHI, Media3.id – Dalam ruang lingkup KOSGORO kedepan, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) harus dikedepankan dan dikembangkan, meski sudah tidak berparpol karena itu penting.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif KOSGORO H. Hayono Isman ex Menpora, dalam perayaan Tasyakur Binni’mah Hari Jadi KOSGORO ke-66 (1957-2023), di Cafe De’Cores KCO, Jl. Kolonel Masturi No. 101, Cipageran Cimahi Utara, Rabu (13/12/2023).
Ormas Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO) adalah ormas yang berdiri pada tanggal 10 November 1957 yang didirikan oleh Mas Isman (Ayah dari Hayono Isman) dan memiliki semboyan Tri Dharma yaitu : Pengabdian, Kerakyatan dan Solidaritas, yang berperan dalam meningkatkan aspek kebangsaan dalam bernegara.
Dalam perayaan HUT KOSGORO ke-66 ini, Hayono Isman mengharapkan kegiatan dari KOSGORO Jawa Barat harus lebih ditingkatkan keaktifannya.
Ia menjelaskan bahwa KOSGORO itu harus konsekuen dan konsisten. Pasalnya di awal reformasi, KOSGORO satu-satunya dari keluarga besar Partai Golongan Karya (Golkar) yang berani mengambil langkah ketika Presiden Soeharto masih berkuasa pada saat itu.
“Alhamdulillah Pak Harto mendengar suara KOSGORO, beliau menyatakan berhenti sebagai Presiden,” ucap Hayono.
Oleh karena itu, sambung Hayono, KOSGORO tidak bisa lepas dari komitmen dengan Golkar.
“Dan kita sadar di era reformasi dan demokrasi, kekuatannya ada di Sumber Daya Manusia (SDM), karena tanpa SDM yang berkualitas, demokrasi tidak akan bertahan lama,” ungkapnya.
Ia menegaskan kepada rakyat sebagai pemilih dalam Pemilu nanti diharapkan tidak mudah ditipu, dibohongi, diberi imbalan, bahkan diberi janji. Karena hal itu tidak baik untuk demokrasi, sedangkan rakyat jua lah pada akhirnya yang menentukan.
“Maka dari itu, SDM harus betul-betul kuat, sehingga demokrasi itu tetap berkembang. Demokrasi yang berkembang untuk memperkuat rakyat bukan memperkuat kekuasaan, kalau rakyat kuat kekuasaan akan aman,” jelas Hayono.
Hayono menerangkan bahwa KOSGORO ada di seluruh provinsi di Indonesia. Namun ia akui bahwa KOSGORO pada zaman orde baru KOSGORO besar, glamornya pun tinggi. Tetapi di era reformasi, KOSGORO sadar akan kehilangan glamornya.
“Dan itu adalah konsekuensinya, tapi yang penting jangan kehilangan daya juangnya. Itu tidak boleh hilang, karena kader KOSGORO ada dimana-mana, tadi juga ada di PKS, di Gerindra, di NasDem, ada di Demokrat, jadi sekarang KOSGORO netral, tidak kepada Partai Politik (Parpol) juga tidak kepada Pasangan Calon (Paslon),” paparnya.
Ia pun membebaskan kepada anggotanya untuk memilih Paslon sesuai dengan hati nuraninya.
“Tidak memilih karena ikut-ikutan saja, apalagi memilih karena uang, itu jangan sampai dilakukan, karena akan terbentuk demokrasi yang semu, demokrasi yang tidak membangun, bahkan kebalikannya menjadi demokrasi yang merusak,” tuturnya.
Ia mengharap rakyat jangan sampai menjadi penyebab rusaknya demokrasi karena tidak menggunakan hak pilihnya dengan bijak.
Lebih lanjut dikatakannya, dalam memasuki Pilpres ini, ia menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat menghargai presiden-presiden Indonesia sebelumnya, seperti Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurachman Wahid (Gusdur), Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jokowi.

“Karena ada sementara orang yang menghina bahkan merendahkan presiden sebelumnya termasuk presiden saat ini, buat apa? Apa maksudnya?,” Hayono balik bertanya.
Karena menurutnya dengan menghina dan merendahkan martabat presiden-presiden kita, tidak akan menyelesaikan masalah, justru merendahkan diri kita sendiri. Disamping itu, presiden kita mempunyai kelebihan dan kekurangannya pun pasti ada.
“Tetapi marilah kita belajar dari kekurangan-kekurangan para presiden, tanpa menghina dan merendahkan mereka, karena jasa mereka lebih besar dari kita semua. Apapun yang kita pikirkan tentang mereka, lihatlah jasa mereka yang luar biasa. Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna,” tandas Hayono.
Hal senada diungkapkan Ketua Pimpinan Daerah Kolektif KOSGORO Provinsi Jawa Barat, Romy Arief Hidajat, SE, menyampaikan bahwa kedepan KOSGORO akan berperan dan berkontribusi khususnya kepada masyarakat Jawa Barat.
“Agar kader-kader atau anggota-anggota KOSGORO itu dapat berkiprah baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, maupun pendidikan sesuai dengan tema kita,” tutur Romy.
Saat dipertanyakan kegiatan KOSGORO Jawa Barat yang kurang aktif. Diterangkan Romy, sebelumnya KOSGORO merupakan salah satu KINO (Kelompok Induk Organisasi), disamping SOKSI dan MKGR, yang melahirkan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) pada 20 Oktober 1964.
“Tadi Pak Hayono mengatakan bahwa setelah reformasi, kita punya dosa yang akhirnya KOSGORO keluar dari Partai Golkar partai terbesar pada saat itu, sehingga KOSGORO sekarang menjadi Organisasi Masyarakat (Ormas) yang berkecimpung dalam bidang sosial, pendidikan dan ekonomi,” ungkap Romy.
Jadi, kata Romy, sekarang KOSGORO lebih banyak berkecimpung di sekolah-sekolah, setelah keluar dari hingar bingarnya politik. Namun dijelaskan Romy kembali, karena KOSGORO sebagai institusi tidak boleh berpolitik praktis, maka KOSGORO membebaskan kader maupun anggotanya untuk berpolitik.
“Warna warni itulah yang membuat KOSGORO masih kuat hingga saat ini. Dan itu menjadi kelebihannya, sehingga ormas KOSGORO mendapat dukungan dari kader-kader potensial yang masih berkiprah di politik legislatif maupun eksekutif,” imbuhnya.
Saat ini, kata Romy, KOSGORO memiliki Gerakan Mahasiswa Kosgoro (Gema Kosgoro), Generasi Muda Kosgoro (GM Kosgoro), dan memasuki Pemilu 2024 KOSGORO mempunyai kader-kader muda juga.
“Untuk itu, rencana kita kedepan yaitu merangkul generasi Z agar KOSGORO tidak ditakuti dan dijauhi oleh generasi muda,” pungkasnya.
(Sinta)






