Proses pembelajaran yang dilaksanakan di UPT BLK Disnakertrans Garut yang berlokasi di Jalan Raya Samarang, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Senin (04/09/2023)(FOTO: Kris)
MEDIA3.ID (GARUT) – Pemerintah Kabupaten Garut menunjukkan kesungguhan dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya dengan meluncurkan program fasilitasi penempatan kerja ke Jepang untuk 42 orang perwakilan dari 42 kecamatan di Kabupaten Garut. Program ini sudah mencapai tahap pengasramaan atau boarding, untuk penyiapan penempatan kerja di negeri sakura ini.
Dua peserta program, Ade Ilham Sekrisis Niaman (24) dan Siti Nur Azizah (21), menceritakan pengalaman mereka selama mengikuti program ini. Mereka menjalani berbagai pelatihan, termasuk pembelajaran Bahasa Jepang, kebudayaan Jepang, kedisiplinan, dan keahlian pertanian yang akan diterapkan di Jepang.
Ditemui di sela-sela proses pembelajaran di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Garut, Ilham menceritakan, melalui program ini dirinya bersama 41 orang lainnya mendapatkan beberapa pelatihan, mulai dari pembelajaran Bahasa Jepang, kebudayaan Jepang, Kedisiplinan, hingga keahlian khusus yang akan diterapkan di sana.
Ilham, pemuda berasal dari Kampung Cinta Mukti, Desa Karyasari, Kecamatan Cibalong, yang sebelumnya bekerja di Puskesmas, mengungkapkan bahwa program ini sangat membantu warga Garut yang ingin bekerja di luar negeri, terutama mereka yang kesulitan secara ekonomi.
Selama boarding di UPT BLK ini, mulai dari tenkou pagi atau apel pagi untuk memulai kegiatan, taisho atau senam, bersih-bersih asrama dan sekitarnya, pembelajaran bahasa dan keahlian di bidang pertanian, hingga tenkou malam atau apel malam menjadi santapan rutin yang dijalaninya bersama rekan lainnya.
“Hal unik yang saya dapati sebelum dan sesudah belajar di sini, itu yang pertama kali saya kaget itu ada yang berbeda itu tenko dan taisho,” ujar Ilham
Ilham membeberkan pengalamannya ketika dirinya pertama kali memperoleh informasi terkait program ini dari pihak kecamatan. Beberapa tahapan seleksi pun ia lalui, mulai dari seleksi pemberkasan, tes fisik, tes kesehatan, hingga psikotes yang melibatkan langsung psikolog, sebelum akhirnya ditetapkan menjadi bagian dari 42 orang saat ini. Dia bersyukur hingga saat ini bisa menjadi salah satu yang terpilih dalam program ini.
Melalui program ini pula, kata Ilham, dirinya merasa terbantu, karena menurutnya, jika bekerja ke luar negeri dengan biaya sendiri, adalah sesuatu yang sulit untuk dicapai, dan membutuhkan biaya yang cukup besar.
“Ya dengan adanya program dari Pemkab Garut ini sangat-sangat membantu sekali bagi warga Garut sekitar, yang khususnya tanda kutip miskin yang ingin pergi bekerja ke Jepang sangat terbantu sekali, karena bagi saya sendiri itu gak mungkin lah karena gak ada uang, dengan adanya program ini sangat terbantu sekali,” ungkap Ilham.
Senada dengan Ilham, dia mengaku senang, bisa menjadi salah satu penerima manfaat dari program yang diusung oleh Disnakertrans Garut ini, terlebih khususnya bagi orang-orang yang ingin bekerja ke luar negeri, namun bingung dengan biaya. Sehingga, ia sangat berterima kasih sekali, kepada Pemkab Garut yang telah mencetuskan program fasilitasi penempatan kerja di luar negeri ini.
Oleh karenanya, imbuh Siti, dirinya kini sedang menyiapkan secara matang dari mulai mental, fisik, kedisiplinan, dan yang lainnya, agar bisa memberikan yang terbaik tatkala dirinya diterima dan bekerja di Jepang nanti.
“Bersyukur banget, terima kasih kepada Pemkab Garut, kepada Disnaker, khususnya Gentra Karya yang telah mengadakan program ini, semoga setelahnya program ini ada program seperti ini lagi yang bisa membantu generasi selanjutnya yang ingin berkesempatan juga kerja di luar negeri atau Jepang khususnya, terima kasih yang sebanyak-banyaknya,” ucapnya.
Sebagaimana diketahui, Program ini dijalankan atas kerja sama antara Disnakertrans Kabupaten Garut dan Koperasi Royal Mono Tukuri (Yarumori) sebagai instruktur yang memberikan pengajaran dan pembelajaran kepada para peserta. Tak hanya itu, pihak Yarumori juga terlibat dalam penempatan kerja para peserta nantinya.
Ketua Koperasi Yarumori, Dicky Fatahillah, menjelaskan, pihaknya memberikan 5 aspek sebagai bekal bagi para peserta, yaitu bahasa Jepang dasar yang harus mencapai Japan Foundation Test (JFT) Basic A2, kemudian budaya kehidupan, peraturan umum, hubungan sosial dengan masyarakat di Jepang, kultur, dan keahlian atau skill sesuai bidang kompetensi yang nantinya akan menjadi bidang pekerjaan para peserta.
“Ya di skill-nya itu karena kita menargetkan untuk peserta yang ingin mendalami bidang pertanian, jadi spesifik juga kita berikan dasar-dasar pertanian, yang materinya diberikan oleh Asosiasi Pertanian Jepang langsung,” ucapnya.
Dicky menuturkan, para peserta nantinya akan bekerja di Jepang selama 5 tahun lamanya, dan jika perusahaan yang menaungi para peserta senang dan peserta juga tertarik untuk bekerja kembali, bisa melanjutkan kontrak 5 tahun lagi.
“Kalau anak-anak itu kan SSW (Specified Skilled Workers) ya kalau di Indonesia, itu 5 tahun (durasi kerja di Jepangnya), dan 5 tahun itu, apabila perusahaan itu senang dan si anak pengen melanjutkan bisa masuk ke SSW 2, ini kan SSW 2, SSW 2 dia boleh tinggal 5 tahun lagi, dan boleh mengajak keluarga atau istri, dan nantinya bisa mendapat permanent resident setelah SSW 2,” ungkapnya.
(Kris)






