Bandung, Media3.id – Pasokan Sapi ke Kota Banjar berkurang hingga 60 persen setelah merebaknya wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) yang menyerang ternak. Jumat, (8/9).
Salah seorang pengelola peternakan sapi di Keluarahan Banjar bernama Idi (54) tahun mengatakan bahwa sejak beredarnya informasi terkait penyakit PMK hewan ternak, pasokan sapi sedikit terkendala.
Dia menyebutkan, pasokan berkurang hingga 60 persen jika dibandingkan hari biasanya untuk persiapan hari raya kurban.
Menurut Idi, hal tersebut dikarenakan tempat pasokan barang yang biasanya diambil dari Jawa Timur, sekarang ini tengah dilakukan pembatasan sehingga tidak bisa melakukan distribusi barang.
Selain itu, jika mengambil pasokan sapi yang baru dikhawatirkan nantinya terdapat virus yang akan berdampak pada sapi yang lain.
Katanya sekarang jangan ambil barang dulu jadi barang yang ada sekarang stok lama, sekitar dua bulan yang lalu. Kemarin juga sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan,” kata Idi
Sejak adanya informasi wabah PMK, lanjut Idi, pasokan barang ke Kota Banjar menjadi terganggu. Ketersedian barang sekarang berkurang, hanya sekitar 150 ekor sapi yang tersedia di kandang.
Padahal, kata Idi, biasanya ketersediaan barang untuk pasokan persiapan menjelang Idul Adha bisa mencapai antara 400-500 ekor sapi yang disiapkan.
Sementara Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta masyarakat untuk tidak khawatir terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan kurban.
Kang Emil sapaan Ridwan Kamil memastikan penanganan terhadap infeksi virus PMK di Jabar dilakukan dengan maksimal. Salah satunya dengan mempercepat vaksinasi.
“Masyarakat Jabar tetap tenang, penanganan PMK hewan di Jabar tertangani dengan baik menjelang Iduladha bulan depan, jangan khawatir,” kata Kang Emil.
Ia menjelaskan, pelaksanaan vaksinasi PMK pada hewan ternak di Jabar dilakukan tiga tahap yakni suntikan pertama, kedua, dan booster.
“Sama seperti vaksinasi COVID-19 suntikan pertama, kedua dan booster,” ucap Kang Emil.
Bagi hewan ternak yang sudah diperiksa sehat dan cukup umur, kata Kang Emil, akan diberikan sertifikat yang dipasangkan pada leher hewan. Hal itu menandakan bahwa hewan tersebut sehat dan siap untuk dikonsumsi.
“Semua yang sehat akan dikasih sertifikat yang bisa dicek menggunakan handphone. Jadi nanti di setiap kuping sapi sehat bisa di-scan barcode-nya, menandakan itu siap untuk dilakukan kegiatan khususnya untuk sapi potong,” tandasnya.






