Pengurus APTI Jawa Tengah, Yuda Sudarmaji
TEMANGGUNG (Jawa Tengah), media3.id- Kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) sebesar 10 persen yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan beberapa waktu lalu, berimbas penolakan di tingkat petani tembakau Pasalnya, petani merasa yang paling dirugikan lantaran saat ini belum ada regulasi untuk melindungi pembelian tembakau.
”Upah pekerja sudah ada aturan, tarif listrik juga sudah ada aturan, kertas sudah ada ketentuannya, yang belum ada perlindungan hukum di tata niaga pembelian bahan baku, yakni tembakau, itu mengapa kenaikan cukai selalu merugikan petani,” ”jelas Yamudi, pengurus Asosiasi Petani Tembakau (APTI) Jawa Tengah, Jumat (25/11).
Dia mengatakan, industri rokok yang menyerap tembakau akan melakukan cara dengan menurunkan pembelian di tingkat petani. ”Satu-satunya untuk menurunkan cost produksi mereka yaitu dengan menekan pembelian bahan baku dari dampak kenaikan cukai itu,” ucapnya.
Yamudi menyebut, sampai saat ini hanya industri rokok yang bisa melakukan serapan tembakau. ”Karena ini mata pencaharian kami, yang kami andalkan di sini ya tembakau,” jelasnya.
Sementara pengurus APTI Jawa Tengah Yuda Sudarmaji mengatakan, imbas kenaikan hasil cukai tembakau akan berdampak pada ekonomi nasional. ”Secara tidak langsung kenaikan cukai akan berdampak secara ekonomi nasional, jika dilihat 57 juta UMKM di Indonesia 25 persennya adalah pedagang rokok. Ketika pembeliannya turun, maka ke depan akan tidak bisa berdagang,” kata Yuda.
Dia menyebutkan, kenaikan CHT merupakan keputusan sepihak hanya untuk menutup APBN. Karena cukai tembakau dijadikan andalan bagi Indonesia untuk APBN. ”Yang paling cepat dengan menaikkan cukai jangan seperti itulah, kami ini hanya beberapa persen di Indonesia, kami sempat menjadi andalan pendapatan negara yang artinya jika sudah masuk APBN seluruh masyarakat Indonesia menikmati. Kami iklhas menjadi penyumpang terbesar tapi tolong lindungi kami petani tembakau,” tuturnya.
Yuda juga merasa sudah jatuh tertimpa tangga. Pada September pemerintah sudah menaikan BBM yang itu akan menambah inflasi pada akhir tahun. ”Dan itu kami rasakan betul ada kenaikan di beberapa komoditas, terutama di kami petani sangat memberatkan,” pungkasnya.
• (Shaleh Rudianto)






